twitter  
Profil  

Selasa, 23 Februari 2016 | 19:15 wib
Lulut Sri Yuliani, Spesialis Mangrove Berprestasi
Tak rela hutan Mangrove di Surabaya dirusak karena penebangan liar, Dra. Lulut Sri Yuliani, MM berjanji mengabdikan diri melakukan konservasi pesisir seumur hidupnya. Sejak 2007, Lulut menggunakan energi, waktu, ide, dan semua pemikirannya untuk konservasi mangrove. Lulut ingin ada banyak pihak yang peduli dengan keberadaan pagar pesisir ini. Meski sudah ada aksi penanaman berpuluh ribu bibit mangrove dari berbagai kalangan, tapi Lulut menyayangkan inisiatif ini. Menurut pengamatannya, hampir tak ada satu pun bibit Mangrove yang bertahan hidup. Penyebabnya, bibit tersebut mati karena cara penanaman yang salah, kualitas bibit yang buruk, dan tidak ada perawatan intensif. Akhirnya, Lulut melakukan konservasi dengan caranya sendiri. Dengan ilmu seni rupa yang dia miliki, Lulut membuat karya batik yang mengangkat filosofi ekosistem mangrove. Batik ini ia namakan, SeRu! Seni Batik Mangrove Rungkut.

Bersama Pusat Pelatihan dan Eksperimen Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Griya Karya Tiara Kusuma Surabaya yang dibentuk Lulut, hingga saat ini sudah lebih dari 3 ribu lembar batik SeRu! yang dijual. Artinya, sudah ada 3 ribu lebih orang yang ikut menanam bibit mangrove baru. Bagaimana bisa?

Inilah letak keunikan batik mangrove milik Lulut. Pemilik Batik SeRu! akan mendapat sertifikat yang menyatakan dirinya ikut menanam 1 bibit tanaman mangrove. Bibit itu akan dirawat oleh pihak yang tercantum namanya di sertifikat, dan ditanam di lahan yang rawan abrasi. Bila pemiliknya suatu saat ingin tahu dimana tanaman mangrovenya miliknya, maka tim Lulut akan menunjukkan tempatnya. Yang istimewa, satu motif dari batik SeRu! hanya diproduksi satu lembar. Kalau sampai ada, artinya ada yang menjiplak. Kasus penjiplakan motif pun akan langsung diselesaikan Lulut dengan pihak terkait.

Bagi Lulut, setiap motif yang terdapat di batik SeRu! punya filosofi yang dikumpulkan berdasarkan riset. Pihaknya bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan dan Arkeolog untuk mengadopsi ragam hias Majapahit. Pengembangan produk berbasis mangrove semua berdasarkan riset dan menggunakan biaya sendiri. Lulut yang pada 2011 dinobatkan sebagai peraih Piala Kalpataru dari Presiden RI ini mencontohkan, ada satu batik SeRu! yang didalamnya terdapat motif segitiga emas. Disebut segitiga emas karena motif ini menggabungkan antara mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Padang lamun merupakan tempat ikan-ikan besar bertelur. Padang lamun yang terbawa ke pesisir membuat telur-telur ikan menetas di mangrove. Karena itu kita harus menjaga ekosistem ini.

Sejak awal Batik SeRu! dibuat dengan menggunakan pewarnaan alam, karena itu tidak boleh dicuci menggunakan deterjen dan tidak dibolehkan terpapar sinar matahari langsung. Satu diantara ciri dari batik SeRu! kalau dipakai malam hari bisa memancarkan cahaya dari motif-motifnya. Hingga kini, bersama P2MKP Griya Karya Tiara Kusuma Surabaya Lulut berhasil membuat 110 produk unggulan olahan mangrove yang tersebar di seluruh Indonesia. Sirup mangrove buatan tim Lulut bisa tahan selama 2 tahun tanpa bahan kimia dan pengawet asam benzoat. Rahasianya? Ada pada pemilihan bahan baku yang unggul. Untuk makanan bahan baku mangrove diambil dari budidaya mangrove di Bangkalan, Kalimantan, dan Sumatera. Budidaya mangrove di Surabaya hanya untuk konservasi karena tingkat pencemarannya tinggi.

Melalui sistem Manajemen 5 Jari-Jari yang diciptakan Lulut sejak 2007, dia percaya para pengrajin akan selalu berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan. Prinsip Manajemen 5 Jari-Jari cukup sederhana, ambil dua pertiga dari mangrove untuk produksi, kembalikan satu pertiga untuk konservasi. Kata Lulut, buah mangrove yang jatuh dan yang tua boleh diambil. Yang muda biarkan menjadi tua. Dan yang di atas pohon jangan dihabiskan. Karena burung, kera, dan tupai juga memerlukan makan. Jangan serakah. Gunakan, manfaatkan dengan bijak, dan kembalikan untuk anak cucu kita.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.