twitter  
Profil  

Selasa, 23 Februari 2016 | 19:26 wib
Henny Hasyim, Pelestari Teknik Bordir Klasik


Ada perbedaan yang spesifik antara bordir era kolonial dengan masa sekarang ini. Menurut Henny Hasyim, desainer kebaya encim yang setia dengan teknik bordir klasik, wanita-wanita di masa perang membuat bordir dengan menyertakan hati. Mereka menjahit penuh kesabaran dan ketekunan, seperti merajut doa menunggu kepulangan suami dari berperang.

Karena itu hasil bordirnya sangat indah, detil, rapi, dan komposisi warnanya terpengaruh selera Eropa yang soft, kata Henny. Sejak 1998 Henny tertarik untuk belajar bordir. Meski tanpa guru, Henny tak ragu. Dia mempelajari desain dan teknik bordir dari literatur. Henny mengaku berburu kebaya encim kuno hingga ke pelosok. Bahkan sejak 1998 Henny memang fokus pada teknik bordir klasik. Mesin bordir yang digunakan pun masih mesin model kuno yang dioperasikan dengan kaki tanpa dinamo. Untuk mempertahankan kualitas, Henny menggunakan jarum halus dan benang pintal agar bordirnya lebih luwes dan menyatu dengan kain. Jadi bukan bordir dari kain guntingan apalagi tempelan.

Peminat bordir Henny Hasyim tidak hanya dari Indonesia. Penggemar bordir klasiknya terbanyak justru dari Eropa, Amerika, Jepang, Singapura, dan Malaysia. Henny juga kerap membuat duplikat kebaya encim yang dipakai di era kolonial. Sehingga saat dipamerkan di acara internasional, karyanya langsung memikat para kolektor. Untuk harga sangat bervariasi. Kebaya encim duplikat bisa sampai Rp 5 juta karena nilai historis yang tinggi, kata Henny. Saat ditanya apa yang membuat Henny mantap untuk fokus pada teknik bordir klasik, Henny mengatakan, desainer harus sensitif. Terutama dengan sejarah, potensi lingkungan, perubahan gaya hidup, dan pergantian selera masyarakat. Henny mengatakan, karya baru tidak selalu yang benar-benar baru. Bisa jadi itu karya lama yang diberi sentuhan khusus sehingga menciptakan karya yang prospektif. Dengan semangat belajar yang tinggi itulah, karya Henny tidak berhenti pada bordir saja.

Pada 2006 Henny mulai mengenalkan ikat celup atau tie dye. Melalui buku Tie Dye : Kain Etnik dengan Teknik Ikat Celup Henny sudah melatih ribuan wanita di 17 kota di Jawa Timur agar bisa merintis sentra ikat celup. Henny yakin, manusia yang mulia adalah manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Dengan banyaknya orang yang sudah mengetahui teknik pembuatan ikat celup tidak menjadikan mereka sebagai pesaing saya. Justru sekarang mereka menjadi mitra kerja Henny. Hingga kini, Henny sudah memiliki sentra ikat celup di Probolinggo, Sidokare (Sidoarjo), dan Banyu Urip (Surabaya). Dia pun secara rutin menerima siapa saja untuk belajar mengenai bordir dan ikat celup di rumahnya di Sidoarjo.

Sampai saat ini, kata Henny, dia masih terus belajar. Membuat komposisi warna yang baru, mencoba teknik ikat celup yang lain, termasuk mencari tahu tentang kelunturan warna. Proses ini tidak pernah berhenti. Henny mengaku tak pernah bosan belajar.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.