twitter  
Profil  

Senin, 27 Maret 2017 | 05:35 wib
Bertelepon Bisa Picu Alergi Kulit
 

Kekhawatiran munculnya keluhan penyakit kulit karena penggunaan ponsel akhirnya terbukti. Meski kasus ini belum banyak terjadi, tapi para ahli kulit mencatat, reaksi alergi yang timbul karena penggunaan ponsel umumnya berupa kemerahan dan rasa gatal pada kulit rahang, wajah, dan telinga. Reaksi alergi kulit ini akan hilang apabila sambungan ponsel dihentikan.

Mengutip New York Times, para ahli menduga reaksi alergi itu timbul akibat kandungan metal dalam ponsel, terutama nikel. Di Amerika Serikat saja, alergi nikel diderita oleh 3 persen pria dan 20 persen wanita. Alergi logam ini memang lebih banyak terjadi pada wanita karena umumnya kulit mereka lebih sensitif, terutama pada perhiasan dari metal.

''Wanita berisiko lebih tinggi mengalami dermatitis itu daripada pria. Kemungkinan besar, kulit mereka cenderung lebih sensitif karena saat telinga mereka ditindik, partikel logam itu masuk ke pembuluh darah dan dianggap tubuh sebagai musuh yang harus diserang sehingga menyebabkan reaksi kulit,'' kata Luz Fonancier, MD, kepala seksi alergi, divisi alergi dan imunologi Winthrop-University Hospital, Mineola, New York, AS.

Dalam studi yang dilakukan American College of Allergy, Asthma and Immunology itu, Luz menganalisis ponsel-ponsel dengan model paling populer. Dan ternyata, kebanyakan ponsel model flip dan sekitar sepertiga ponsel BlackBerry yang diteliti mengandung nikel. Sementara ponsel model Android dan iPhone sama sekali tidak mengandung pemicu alergi itu.

Meski demikian, ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyiasati reaksi alergi terhadap ponsel itu. Misalnya, agar kulit Anda tidak langsung kontak dengan ponsel, gunakan saja fitur speakerphone saat menelepon. Atau, pakai headset, case ponsel dan pelindung layar.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.