twitter  
Profil  

Senin, 10 Juli 2017 | 10:33 wib
School for Justice, Sekolah Khusus Korban Trafficking India


Setiap orang berhak untuk mendapat kesempatan kedua. Begitupun mereka yang pernah menjadi korban kasus perdagangan manusia. Di India, korban perdagangan manusia ini dipulihkan mental, semangat, dan pendidikannya agar bisa memulai kehidupan lebih layak di masa depan. Para korban ini identitasnya sengaja dirahasiakan agar keamanan dan keselamatan mereka bisa terjaga. Tak hanya itu, mereka juga disediakan tempat tinggal berupa asrama agar tetap mudah diawasi.

Pendidikan khusus untuk korban perdagangan manusia ini diberi nama School for Justice atau Sekolah untuk Keadilan. Sekolah ini didirikan pada 6 April 2017 dengan mengkhususkan diri di bidang hukum. Ya, para korban ini akan dibantu menjadi pengacara agar para perempuan bisa menggunakan posisi tawar mereka untuk menuntut keadilan.

Sekolah ini merupakan hasil kemitraan antara sekolah hukum prestige di India dengan Free A Girl Movement, sebuah gerakan internasional yang berkonsentrasi terhadap perempuan korban perdagangan seks. Ada sekitar 19 perempuan di kelas perdana, semuanya berusia antara 19 hingga 26 tahun. Mereka, para korban yang didominasi perempuan ini, diharapkan bisa merampungkan sekolah dalam kurun lima hingga enam tahun dengan gelar sarjana hukum. Fokus studi mereka: kasus-kasus eksploitasi dan komersialisasi perempuan.

''Mereka adalah perempuan-perempuan yang punya pengalaman dan trauma serta punya kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya,'' kata Bas Korsten, satu diantara perdiri proyek seperti dikutip dari Mashable. ''Mereka bertekad menjadi pengacara, untuk mengadili penjahat yang pernah menjerumuskan mereka''. Biaya operasional sekolah ini dijalankan melalui donasi masyarakat melalui website mereka www.schoolforjustice.com

Menurut data PBB, India menjadi negara terbesar di dunia dengan kasus pedagangan manusia. Ada sekitar 1,2 juta anak yang dieksploitasi melalui prostitusi. Yang mana sebagian besar mereka berasal dari etnis menoritas dan dari kasta lebih rendah.

Menurut Free A Girl, beberapa pelaku yang ditangkap karena kasus perdagangan manusia cenderung bebas karena kurangnya bukti di pengadilan. Pada 2015 lalu, ada 55 kasus yang benar-benar mendapatkan penanganan serius dari pengadilan. Semoga sekolah khusus ini bisa mengakhiri daftar panjang kejahatan perdagangan manusia di India maupun seluruh dunia.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.