twitter  
Profil  

Selasa, 04 Juli 2017 | 11:51 wib
Pilih-Pilih Konsep Pra Sekolah Yuk Ma!


Ada banyak orang tua masa kini yang menyekolahkan anaknya di usia dini. Sejak usia 3 tahun, anak sudah mulai bersekolah dengan konsep pre-school. Yang populer di Indonesia adalah konsep pra sekolah Montessori. Menurut ulasan Pure Wow ada dua konsep pra sekolah lain seperti Waldorf dan Reggio Emilia. Kira-kira mana yang terbaik untuk anak? Inilah panduan memilihnya.

MONTESSORI memiliki konsep learning by doing. Anak belajar dengan melibatkan dirinya dalam aktivitas sensori untuk panca indera, seperti menyentuh, melihat, mencium aroma atau mendengarkan ragam bunyi. Konsep belajar ini menjadikan guru sebagai pemandu dalam kelompok kecil, mencontohkan dan menganalisis serta mendorong anak untuk lebih mandiri. Subjek akademis baru akan dikenalkan ketika psikologis
anak sudah siap. Biasanya untuk anak usia 3 atau 4 tahun. Kelas montessori tidak mengklasifikasikan anak berdasarkan umur. Anak usia 3 tahun bisa saja dalam kelas yang sama dengan anak usia 5 saat belajar tentang suatu hal. Cara ini dilakukan supaya anak bisa saling bersosialisasi dan melatih jiwa kepimpinan anak, tanggung jawab dan kemandirian.

WALDORF fokus pada konsep learning by playing. Permainannya fokus pada imajinasi, kerja tim, dan kekompakan. Pelajaran selalu dibuat dalam bentuk permainan dan aktivitas langsung. Biasanya
tematik, misalnya, Senin belajar memasak, Selasa belajar berkebun, dan Rabu bermain musik. Di akhir kelas umumnya anak akan diajak untuk mengungkap tentang apa makna dan value permainan mereka di hari itu. Permainan anak yang diciptakan pun dibuat dari bahan alami, seperti kayu dan batu. Dalam konsep pra sekolah Waldorf, anak-anak diajak untuk menikmati aneka permainan luar ruang apapun cuacanya.

REGGIO EMILIA merupakan konsep learning by interest. Anak-anak akan diajak untuk belajar sesuatu yang mereka senangi. Misal, ada anak yang suka dengan bunga, maka taman akan jadi ''kelas utama''. Di taman anak akan diajak untuk mengenal berbagai jenis tanaman, bagaimana merawatnya, seperti apa cara menyayangi tanaman-tanaman itu, dst. Guru menjadi pemandu dan akan bekerja sama dengan anak, bukan selalu memberi instruksi. Tidak ada kurikulum yang baku karena pelajaran akan diberikan menuruti kemauan dan minat anak. Konsep belajar ini melatih anak melihat persoalan nyata, dan melatih mereka mencari solusi pada masalah yang ditemukan.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.