twitter  
Profil  

Selasa, 08 Agustus 2017 | 05:35 wib
Pestisida dan Plastik Bisa Picu Kegemukan


Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, secara global, ada sekitar 2,8 juta orang meninggal setiap tahun akibat kelebihan berat badan.

Dr. Patrice Harris dari Asosiasi Ahli Kesehatan Amerika (AMA) mengatakan, obesitas telah dinyatakan sebagai penyakit. Dan keputusan ini diambil untuk mengubah cara ahli kesehatan menanganani isu tentang obesitas.
Seperti diketahui, obesitas sangat terkait dengan penyakit kardiovaskular, serangan jantung, stroke, tekanan darah tinggi, diabetes tipe-2, dan meningkatkan risiko kanker. Dari sekian banyak penyebab obesitas, mengutip Rodale, ada beberapa senyawa kimia yang tak pernah kita sangka ikut memicu obesitas.

Diantaranya pestisida jenis organoklorin, organofosfat, dan karbamat yang masih melekat dalam bahan makanan kita. Menurut ulasan Rodale, dalam tubuh manusia pestisida mengubah metabolisme tubuh dan mengganggu proses hormonal manusia. Selain pestisida, kandungan Bisphenol A (BPA) yang menjadi material pembuatan plastik yang ternyata dapat mempercepat perubahan sel lemak, mengganggu fungsi pankreas, dan menyebabkan resistensi insulin yang memicu obesitas. Paparan BPA mempengaruhi perkembangan saraf dan masalah reproduksi, termasuk infertilitas pada pria.

Adapun senyawa perfluoroctanoic acid (PFOA) sangat terkait dengan obesitas. PFOA yang terdapat dalam teflon ini sering digunakan sebagai komponen antilengket. Untuk mencegah masuknya komponen ini, segera ganti peralatan masak Anda. Penggunaan senyawa polibro (PCB) yang banyak digunakan dalam produk tahan api juga memiliki efek sama dengan jenis pestisida. PCB mempengaruhi reseptor estrogen. Peneliti di Boston mengungkapkan paparan asap knalpot dan partikel-partikel dari polusi bisa menyebabkan peradangan di bagian-bagian tertentu otak yang bisa memicu Alzheimer, gangguan memori dan Parkinson.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.