twitter  
Profil  

Jumat, 08 Desember 2017 | 11:22 wib
Pelajaran dari Kejadian Luar Biasa Difteri


Kabar mewabahnya difteri di Indonesia sungguh mencemaskan para orang tua. Difteri yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diptheriae ini telah menyebabkan kematian 32 orang meninggal dunia di 20 provinsi.

Difteri merupakan penyakit saluran pernapasan akut yang disebabkan oleh racun dari bakteri Corynebacterium diphtheriae. Difteri mudah sekali menular melalui bercak ludah (droplet) yang keluar lewat bersin dan batuk. Beberapa faktor pemberat difteri misalnya pasien kurang gizi, imunitas rendah, atau pasien dengan riwayat penyakit kronis lain.

Gejala awal difteri umumnya sering salah deteksi karena mirip dengan gejala flu biasa. Gejala prodormal ini antara lain batuk pilek, demam tinggi, lemas, anak mengeluh pusing, dan tenggorokan sakit. Setelah bakteri difteri masuk ke dalam tubuh, ia akan berinkubasi selama 2-5 hari, setelah itu diikuti pembentukan selaput atau membran di daerah tenggorokan. Membran ini umumnya berwarna putih keabu-abuan dan sangat mudah berdarah jika disentuh. Membran yang menutupi tenggorakan inilah yang sering dikeluhkan sebagai sakit tenggorokan dan sulit bernapas.

Pada kondisi difteri akut, dibutuhkantindakan tracheostomy (pembuatan jalan napas buatan melalui lubang yang dibuat di tenggorokan) supaya anak bisa bernapas.

Setelah masa inkubasi, bakteri Corynebacterium Diptheriae akan mengeluarkan racun (toksin). Toksin inilah yang akan merusak organ-organ tubuh, termasuk menyerang otot-otot jantung, sehingga menyebabkan kondisi yang disebut myocarditis (peradangan pada jantung). Akibatnya, akan terjadi kerusakan jantung permanen. Kalaupun pasien berhasil sembuh, maka akan terjadi kecacatan pada jantung atau ginjal. Untuk memastikan apakah seseorang terserang difteri akan dilakukan pemeriksaan melalui cek lendir (swab).

Munculnya kasus difteri di sejumlah wilayah menunjukkan masih rendahnya pemahaman orang tua tentang imunisasi. Masih banyak orang tua yang anti-vaksin dan menyebarkan pemahaman salah tentang hal ini. Imunisasi difteri ditujukan untuk anak prasekolah dengan mendapatkan 4 dosis DTP, anak sekolah mendapatkan Td pada saat awal dan akhir sekolah, serta diharapkan pula orang dewasa mendapatkan booster Td tiap 10 tahun.

IDAI akan membantu untuk bersama-sama mempersiapkan outbreak response immunization (ORI) termasuk pula mempersiapkan akan kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) yang mungkin dapat terjadi dan memengaruhi target cakupan di tiap daerah tersebut.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.