twitter  
Profil  

Kamis, 07 Juni 2018 | 11:32 wib
Sedekah itu Bikin Bahagia


Bersedakah itu bikin bahagia. Percaya?

Kesimpulan ini merupakan hasil penelitian ilmiah yang dilakukan Tristen Inagaki dari University of Pittsburgh dan Naomi Eisenberger dari University of California. Dalam studi mereka yang berjudul The Neurobiology of Giving Versus Receiving Support: The Role of Stress-Related and Social Reward-Related Neural activity diketahui, saat bersedekah otak melepaskan hormon endorfin yang menimbulkan perasaan positif dan menguatkan imunitas.

Pelepasan endorfin saat kita memberi ini tertangkap melalui FMRI atau Functional Magnetic Resonance Imaging. FMRI memonitor kinerja saraf saat seseorang memberi dan menerima. Ternyata, otak lebih memancarkan citra positif saat memberi.

Tak cuma endorfin, hormon cinta 'oksitosin' juga ikut dilepaskan tubuh saat bersedekah. Efek hormon ini membuat kita makin berempati kepada orang lain dan ini menular (ke pihak penerima). Setidak-tidaknya hingga 2 jam ke depan. Itulah kenapa, orang yang menerima kebaikan biasanya ingin membalas kebaikan yang diterimanya atau melakukan kebaikan juga ke orang lain.

Berdasarkan riset, satu pemberian atau kebaikan akan menginspirasi banyak kebaikan lain laiknya efek domino.

Penelitian ini membuktikan apa yang disampaikan Profesor Stephen Post dari Stony Brook University dalam bukunya Why Good Things Happen to Good People. Stephen menulis, kebiasaan bersedekah telah terbukti meningkatkan manfaat kesehatan pada pasien penyakit kronis, termasuk HIV. Sekitar 76 persen orang yang aktif dalam kegiatan sosial mempunyai kesehatan yang lebih bagus dibanding yang tidak. Sebaliknya, perilaku pelit akan meningkatkan hormon pemicu stres di dalam tubuh.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.