twitter  
Profil  

Kamis, 15 November 2018 | 11:52 wib
Saat Jadi Konsultan, Dian Sastrowardoyo Pernah Diremehkan dan Dianggap Modal Tampang

 
Hari pertama Innocreativation berlangsung meriah! Setiap sesi ada kejutan. Selain menampilkan keseruan Tri Rismaharini, Ernest Prakasa, dan Pandji Pragiwaksono, ada juga sesi CEO vs CEO yang dipandu langsung oleh Chairul Tanjung, Founder and Chairman CT Corp.

Sesi CEO vs CEO menghadirkan Ahmad Zacky pendiri bukalapak, Dian Sastrowardoyo, Kevin Aluwi selaku Co-Founder Gojek dan Randy Yusuf selaku CEO google Indonesia berbagi pengalaman kepada generasi milenial.

Tidak hanya membahas tentang inovasi dan usaha kreatif, Chairul Tanjung juga meminta narasumber berbagi pengalaman menyakitkan yang dirasakan saat awal mula merintis berbagai macam ide yang pada akhirnya bermanfaat bagi banyak orang.

Dian Sastrowardoyo pun punya kisah seru. Dian mengaku pernah diremehkan saat menjadi pekerja kantoran ketika dia mundur dari industri film Indonesia yang sedang lesu. Dian bilang dia pernah bekerja di perusahaan konsultan selama 3,5 tahun. Ia pun kerap diremehkan karena melihat statusnya sebagai selebriti. ''Tahun 2006 sampai 2013 saya stop main film karena industri film Indonesia saat itu lagi lesu. Saya bahkan siap banget pensiun dari dunia hiburan waktu itu. Waktu saya coba kerja kantoran kebayang gimana takutnya saya harus perkenalkan diri, di mana orang tahu 'saya artis'. Pas ke tempat klien saya malah dimintain foto, tidak ada yang memperlakukan saya sebagai salah satu konsultan, saya seperti tontonan, semua ngomongin saya, saya dibilang tampang doang,'' cerita Dian Sastrowardoyo di InnoCreativation, Surabaya, Rabu (14/11).

Untuk membuktikan bahwa dirinya bisa memberikan yang terbaik buat perusahaan, pemilik restoran MAM itu terus bekerja keras. Bahkan ia bekerja dua kali lebih banyak dibanding rekan lainnya. Dian Sastrowardoyo rela begadang hingga menginap di kantor. Ia tidak lagi menganggap dirinya sebagai selebriti. Usaha kerasnya diakui membuahkan hasil yang terbaik buat diri dan masa depannya. ''Saya bekerja dua kali lebih keras dari teman-teman. Saya membiarkan persepsi orang-orang itu karena saya artis saya pasti ditungguin kapan salahnya. Makanya saya begadang lebih panjang, akhirnya saya mendapatkan hasil lebih baik karena bekerja keras. Ternyata karena saya artis saya jadi lebih susah dan harus lebih usaha,'' kata Dian.

Pengalaman itu mengajarkan Dian kalau dia bisa mengubah 'jalan hidup' selama dia mau mengubah mindset. ''Saya mulai kerja itu saya punya pengetahuan baru tentang diri saya dan pada saat itu saya mau buka usaha, saya siap repot, siap kerja keras ikut begadang dan itu bukan sesuatu yang baru karena saya pernah lakuin,'' pungkasnya diiringi tepuk tangan dari ribuan peserta yang hadir.

Akhirnya di antara tahun 2004-2005 Dian menerima tugas baru menjadi brand ambassador sebuah bank milik pemerintah.

''Saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi brand ambassador dari sebuah program mikro bisnis dari salah satu bank nasional, atau Bank BUMN,'' kata Dian. Tugas Dian saat itu untuk menyemangati anak-anak muda membuka bisnis. Dian pun roadshow di 27 kota di Indonesia dan bertatap muka langsung dengan anak-anak muda berhasil membuka usaha.

Dian pun akhirnya termenung dan berpikir, anak-anak muda yang bermodal pas-pasan saja bisa, bagaimana dengan dirinya. Akhirnya dia mulai mengubah mindset untuk membuka usaha dengan memulainya dari nol.

''Teman-teman seperti itu yang membuat saya belajar dan membuka diri saya, apakah iya saya cuma di situ, apakah cuma segini aja kemampuan saya. Mungkin tak langsung sukses, nggak langsung bersaing dengan penghasilan saya sebagai artis. Saya melihat untuk bisa memberanikan diri berwirausaha, itu salah satu mindset yang harus diubah,'' kata Dian.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.