twitter  
Profil  

Selasa, 20 November 2018 | 13:12 wib
Ngayogjazz 2018 : ''Negara Mawa Tata, Jazz Mawa Cara''
 
Untuk penonton yang baru pertama hadir dalam gelaran event jazz tahunan Ngayogjazz, pasti akan surprise dengan konsepnya. Ngayogjazz memang beda dengan acara jazz lainnya. Selalu dalam Ngayogjazz penonton diajak untuk menikmati musik dengan lansekap desa yang jauh dari suasana mewah megah. Tahun ini, Ngayogjazz diadakan di Desa Gilangharjo, Pandak, Kabupaten Bantul. Menurut saya Ngayogjazz sudah menjadi acara musik paling kreatif yang berhasil diwujudkan Djaduk Ferianto, founder acara ini.

 
Djaduk seolah tahu persis bagaimana meracik acara jazz yang enak dinikmati telinga, lidah, dan rasa. Di acara ini kita bisa menikmati hasil bumi pedesaan yang nikmat, dan budaya-budaya lokal yang menarik perhatian. Djaduk sukses mengupayakan musik jazz agar bisa dinikmati siapapun tanpa harus tampil mewah, anggun dan hanya untuk golongan tertentu. Karena hanya di Ngayogjazz kita bisa menikmati musik jazz dengan berdaster, sandal jepit, lengkap dengan venue yang dekat dengan kandang ayam. Bukan berarti juga venue hanya ala kadarnya, melainkan desa lokasi event disulap menjadi area yang instragamable, memorable dan mampu menunjukkan kalau desa itu kaya akan harta karun.

 
Berjalan dari parkiran, penonton disambut dengan gate yang merupakan action figure abdi dalem lengkap membawa beberapa alat musik, lalu ada labirin kain yang bertuliskan kata-kata filosofi Jawa kemudian denah besar untuk penunjuk lokasi panggung. Ada 6 panggung tersebar di Gilangharjo dengan dengan nama panggung yang lucu seperti Panggung Carik, Panggung Lurah, Panggung Jagabaya, Panggung Jagatirta, Panggung Bayan, Panggung Kamituwa. Line up musisi tahun ini juga makin beragam ada Kika Sprangers dari Prancis, Ozma Quientet dari Belanda, Rodrigo Parejo Quartet dari Spanyol serta musisi Indonesia seperti Tompi, Brayat Endah Laras, Idang Rasjidi dan ada juga beberapa komunitas jazz Indonesia yang tampil seperti Fushion Jazz Community (Surabaya), Sogan (Pekalongan), Gubug Jazz (Pekanbaru), Ganteng-Ganteng Saxophone (Semarang).



Event satu hari yang dimulai jam 10 pagi ini, juga menyulap beberapa rumah warga dan halaman rumahnya untuk dijadikan fasilitas umum. Ada yang rumahnya dipinjam untuk jujukan toilet, pos medis, area pasar jazz, spot foto , ruang laktasi dan warung-warung dadakan dimana warga setempat bisa menjual makanan minuman buatan mereka atau pun juga karya mereka misal craft. Menariknya lagi dari Ngayogjazz, warga setempat yang laki-laki didapuk menjadi panitia local untuk guide bagi para penonton, menyediakan parkir, menjadi ojek bagi para penonton yang lokasi parkirnya jauh lengkap dengan kaos seragam bertuliskan Ngayogjazz namun spesial untuk ojek, sebagai penanda mereka menggunakan beskap. (Deedee Dinata / Editor : Windy Goestiana)
 
 
 
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.