twitter  
Profil  

Rabu, 22 Agustus 2018 | 06:00 wib
Pengikut Tren Yang Manakah Anda?
Pernahkah kita berpikir, mengapa banyak orang mengilai suatu tren fashion tertentu? Atau menjadi pengikut tren yang sudah menjadi golongan mayoritas?

Tidak banyak yang tahu ternyata inovasi tren memiliki jenjang kategori. Dari awal dicetuskannya ide tren tersebut hingga diadaptasi, jenjang kategori ini memiliki kurva dengan perhitungan persentase yang dinamakan Diffusion of Innovations. Setiap inovasi yang diciptakan akan melalui tahapan awal dimulai dari kategori innovators sebesar 2,5 persen. Lalu diikuti early adopters 13,5 persen kemudian early majority sebanyak 34 persen dan kedua yang terakhir yaitu late majority juga 34 persen dan laggards di angka 16 persen sebagai pengguna terbanyak terbesar menyebar ke berbagai status sosial terutama kelas menengah dan menengah ke bawah.

Tren fashion diikuti oleh berbagai kalangan masyarakat dengan latar belakang status ekonomi berbeda. Tentunya tren yang memiliki eksklusivitas dimulai dari kalangan selebriti maupun sosialita. Seperti contohnya tas-tas bermerek mahal yang dilansir dari luxury fashion brand dan menjadi awal tren di Indonesia sejak 12 tahun lalu. Kini hal tersebut menjadi ketertarikan bagi status sosial menengah ke atas hingga menengah ke bawah. Sehingga banyak bermunculan tas bermerek berstatus kualitas (KW) 1, 2 seterusnya dimana merupakan tiruan atau replika bukan asli dari tas original. Munculnya barang – barang merek tiruan ini untuk memberikan kesempatan bagi seseorang demi merasakan tren yang sama walau
sebenarnya tren tersebut telah masuk di kategori late majority maupun laggards.

Selain itu penggunaan barang bermerek yang berstatus KW menyalahi hukum dan aturan hak cipta dimana di beberapa negara seperti Eropa maupun Singapura sudah menindak pengguna barang bermerek tiruan ke jalur hukum. Maka hati-hati ya teman She jika berpergian ke luar negeri pastikan menggunakan barang bermerek yang asli. Bagi saya lebih baik menggunakan produk fashion lokal made in Indonesia
daripada memakai yang tiruan. Sudah banyak kreasi hasil desainer dan merek lokal
Indonesia yang bagus-bagus memiliki kualitas terbaik.

Pencetus tren sekarang dengan dulu juga telah berbeda seiring dengan tingginya penggunaan sosial media. Dahulu para desainer atau couturier (pria) atau couturiere (wanita) sebagai kreator koleksi Haute Couture (High Fashion) di Prancis merupakan pelopor tren fashion seperti Madam Grès yang mempopulerkan kreasi gaun draping, Coco Chanel yang mempopulerkan tren kalung mutiara tumpuk dengan jaket boxy berbahan tweed hingga kini menjadi tampilan klasik.

Ralph Lauren mempopulerkan berbagai warna koleksi polo shirt di Amerika yang menjadi tren abadi. Selebriti Sarah Jessica Parker juga membuat sepatu high heels kreasi Manolo Blahnik menjadi terkenal dalam film serialnya Sex and The City pada akhir tahun 90an dan awal tahun 2000. Sedangkan tren masa kini dipopulerkan dengan fashion influencer maupun fashion blogger/vlogger yang sangat aktif dan memiliki pengikut terbanyak di sosial media.


Dok. Pribadi Janet Teowarang
Berbagai istilah baru bermunculan seperti selebgram (selebriti instagram), youtuber, bio instagram, hashtag, CTA (Call to Action), UGC (User Generated Content), OOTD (Outfit of The Day) dan masih banyak lainnya terutama singkatan. Pelopor tren masa kini merupakan selebriti di media sosial ada yang mendadak terkenal karena konten diunggah unik atau aneh namun ada juga memang selebriti berkecimpung di dunia entertainment atau populer karena menulis sebagai fashion blogger, menjadi fashion influencer yang mengenalkan style tertentu dengan fashion pieces terbaru.


Dok. Anastasia Siantar
Beberapa selebgram yang menjadi favorit saya adalah Anastasia Siantar, fashion blogger Indonesia yang punya ciri khas memadu padankan topi dengan fashion pieces menjadi style casual atau semi formal. 


Dok. Instagram
Selain itu fashion influencer luar negeri yang saya rekomendasi untuk teman She adalah Laura Fantacci seorang jurnalis yang tinggal di London dengan suami dan kedua anaknya. Laura yang sangat mencintai sepatu (shoe fetish) memiliki keseimbangan dalam berpakaian dengan style santai bila sedang menghabiskan waktu bersama keluarga. Laura juga memadu padankan city look style yang edgy saat bekerja tentunya dengan pilihan sepatu-sepatu yang unik dan keren.

Tentang Janet Teowarang
Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya. Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia di sektor Fashion dan Textile. Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award
di Spanyol.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.