twitter  
Profil  

Rabu, 29 Agustus 2018 | 06:00 wib
Inilah Arti Haute Couture dan Ready to Wear
Seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri fashion di Indonesia berbagai acara seperti fashion week dan fashion product launching. Juga banyak bermunculan status pilihan karir baru selain fashion designer seperti fashion stylist, fashion curator, costume designer, dan lainnya. Sebagai masyarakat umum yang awam tentunya cukup bingung dengan beberapa istilah dipakai dan memahami arti serta fungsinya. Menjawab kebutuhan ini saya memaparkan beberapa istilah penting yang kerap dipakai oleh para pelaku industri fashion.

Perlu diketahui bahwa terdapat tiga istilah koleksi fashion yang diadaptasi di industri yaitu Haute Couture (High Fashion/Adi Busana), Pret a Porter (Ready to Wear/Pakaian Siap Pakai) atau Ready to Wear Deluxe, dan Mass Production (Fast Fashion). Haute Couture dan Pret a Porter berasal dari bahasa Perancis yang juga dikenalkan pertama kali dari negara sebagai pusat dunia fashion. Banyaknya rumah mode (yang mayoritas fashion luxury brand) mempopulerkan Haute Couture menjadikan Paris dikenal sebagai pusat adi busana dunia. Karya yang dihasilkan adalah sebuah masterpiece (hanya satu untuk setiap pakaian) dengan menggunakan 90 persen jahitan tangan.


Dior Haute Couture Fall 2018
Dari rumah mode Chanel hingga Dior setiap tahunnya mengeluarkan koleksi Haute Couture per musim (spring-summer dan autumn-winter). Jika ada seorang klien ingin membeli koleksi tersebut harus memesan terlebih dahulu selain itu harga yang diberikan juga cukup fantastis untuk satu pakaian dapat seharga satu mobil! Di luar negeri jika terdapat luxury brand atau designer brand merilis koleksi Haute Couture dan mengikuti Paris Haute Couture Fashion Week wajib untuk mendaftarkan brandnya terlebih dahulu di Federation francaise de la couture. Juga melalui penilaian fit and proper jadi tidak diperbolehkan mengusung kata couture tanpa ijin di brand mereka.


Koleksi Sebastian Gunawan
Berbeda dengan di Indonesia, pemahaman adi busana banyak diartikan pakaian pesta yang penuh dengan mote dan aplikasi. Karya Haute Couture sesuai untuk dipakai di kesempatan tertentu karena mengingat pengerjaannya yang cukup rumit dan material digunakan berkualitas
tinggi. Dan ternyata sudah ada desainer Indonesia yang menjadi anggota Asian Couture Federation yaitu Sebastian Gunawan sebagai Asian Couturier Extraordinaire, Tex Saverio dan Rinaldy Yunardi menjadi invited members.


Koleksi Ikat Indonesia by Didiet Maulana
Untuk Pret a Porter seringkali disalah artikan oleh konsumen bahwa fashion brand dari fast fashion termasuk dalam kategori istilah ini. Sebenarnya Pret a Porter yang juga disebut Ready to Wear merupakan koleksi siap pakai memiliki limited pieces untuk ukuran dan kuantitasnya karena lebih ekslusif dibandingkan hasil produksi mass production termasuk fast fashion. Brand fashion di Indonesia yang termasuk Ready to Wear (High End Brand) adalah Ikat Indonesia by Didiet Maulana, Peggy Hartanto, Albert Yanuar dan masih banyak lagi. Selain itu juga ada brand street wear Danjyo Hiyoji yang telah dikenal oleh kalangan millennial. Fashion luxury brand di Eropa biasanya memiliki kedua istilah ini namun beberapa brand tidak dapat mempertahankan bisnis Haute Couturenya karena daya beli (pemesanan) tidak
segencar pada tahun 80an dan 90an.

Maka munculnya Demi Couture yang dapat kita sebut juga Ready to Wear Deluxe merupakan kreasi pakaian siap pakai, wearable namun memiliki gaya individual dengan inspirasi couture menggunakan material terlihat mahal dan menghasilkan pembuatan sangat rapi. Jadi sebenarnya teman She bisa bangga jika mengenakan koleksi Ready to Wear karya desainer atau local brand di Indonesia karena punya kategori diatas fast fashion dengan harga yang masuk akal.

Minggu depan saya akan memberi ulasan lagi tentang istilah fashion yang teman She wajib ketahui agar selalu informatif supaya bisa mendukung kreasi para pelaku industri fashion di Indonesia.

Tentang Janet Teowarang
Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya. Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia di sektor Fashion dan Textile. Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award di Spanyol.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.