twitter  
Profil  

Rabu, 12 September 2018 | 06:00 wib
Wearable Art Workshop oleh Arteri Studio x BobaBabe
Tidak banyak pelaku industri fashion di Surabaya yang punya animo untuk menggali tema-tema seni. Padahal, kegiatan semacam ini bisa menggerakan minat masyarakat untuk mengetahui cara mengembangkan kreativitas dalam seni. Bahkan sebagai terapeutik diri.

Minggu lalu saya berkesempatan ikut workshop Wearable Art yang diadakan oleh Arteri Studio berkolaborasi dengan BobaBabe. Arteri Studio didirikan oleh Stephanie Setiyadi pada awal 2018. Tujuannya, untuk memberi ruang dan kesempatan pada siapa saja dalam mengekspresikan diri. Baik melalui gambar atau lukisan. Karena setiap orang pasti memiliki kemampuan menciptakan sebuah karya lukis tanpa seorang pun dapat mengkritisinya.

Ada yang menarik dalam sesi workshop di Arteri Studio. Setiap peserta diajak untuk melepaskan kenangan masa kanak-kanak dalam goresan warna-warni. Sesuai dengan motto mereka : unleased your inner child. Nantinya, karya lukis tersebut akan dijadikan wearable art seperti pakaian maupun aksesori.

Beberapa desainer kelas dunia seperti Alexander McQueen, Gareth Pugh, Viktor & Rolf, Iris van Herpen dikenal memiliki reputasi menghasilkan koleksi unik dan tematik namun masih ada yang memungkinkan untuk dipakai. Berbagai macam teknik digunakan para desainer tersebut untuk mendapatkan hasil yang memiliki cita rasa seni. Beberapa cara seperti contohnya yaitu teknik 3D printing, digital printing, teknik eksplorasi serat tekstil, inovasi siluet baru, inovasi teknik pecah pola menggunakan penggabungan material tekstil yang tidak biasa.

BobaBabe salah satu brand Ready to Wear terkemuka di Surabaya yang didirikan Harumi Davita mengadaptasi gaya dan wawasan kreatif. Ide awal munculnya pengadaan workshop Wearable Art ini bertepatan dengan perayaan ulang tahun Harumi. Saat ultah biasanya orang akan mengadakan jamuan makan-makan, namun Harumi mengadakan sesi melukis di canvas dengan bantuan Arteri Studio diselingi light snack dan wine. Setelahnya teman-teman Harumi menyadari bahwa untuk mencurahkan inspirasi dan ekspresi ke lukisan tidak diharuskan memiliki bakat atau kehebatan tertentu. Mereka pun merasakan melukis menjadi suatu terapi ''healing'' dari kesibukan aktifitas sehari-hari. Kemudian tercetuslah ide proses melukis di atas kimono polos yang dapat dipakai. Harumi lalu membuat kimono polos dengan material muslin agar dapat memudahkan proses lukis untuk para peserta.


Kimono ala Harumi Davita yang dilukis Stephanie Setiyadi (Arteri Studio)
Lokasi workshop di samping store BobaBabe yang bertemakan industrial chic mampu menampung peserta hingga 8-10 orang. Dengan durasi workshop selama 3 jam tidak terasa lelah atau bosan karena kenyamanan terjaga. Diawali cara styling kimono menjadi berbagai fungsi oleh Harumi Davita. Padu padan yang mudah dengan cara pemakaian kimono tersebut menjadi outer, rok atau atasan panjang. Setelah itu para peserta memulai bereksperimen dengan cat akrilik dan media tambahan seperti alat stamping maupun roller selain kuas cat dengan ukuran bermacam-macam. Selama proses melukis kami pun juga saling berinteraksi mengenai sejarah seni lukis yang ada di dunia dan tentu saja membahas karakter para pelukisnya. Berdiskusi tentang Van Gogh, Jackson Pollock hingga seniman kontemporer Jepang Yayoi Kusama menjadi topik pembicaraan kami sambil melukis.

Hasilnya para peserta menampilkan karya yang individual. Menambahkan teknik splattering yaitu memukulkan kedua gagang kuas cat dengan posisi satu kuas cat dengan cat akrilik cukup cair sehingga mendapatkan motif cipratan. Peserta sangat bebas menggunakan teknik apa saja untuk menghasilkan karya abstrak atau motif yang detil. Mereka juga tidak mengkhawatirkan tangan yang penuh cat. Setelah peserta selesai kimono tersebut digantung di teras ruangan untuk dikeringkan beberapa waktu.


Saat seluruh peserta selesai kami foto bersama dengan memakai hasil karya masing-masing. Sungguh menjadi pengalaman workshop yang menyenangkan dengan obrolan santai, musik pop mengalun, aroma kopi mendampingi aktivitas kami membuat suatu karya seni tanpa batasan dan kritik. Setelah saya melakukan sesi workshop ini sangat merekomendasikan teman She untuk mulai melukis. Kegiatan ini mampu meredam stress dan sesekali keluar dari penatnya aktifitas sehari-hari. Cobalah untuk melukis tanpa berpikir sedikit pun tentang hasilnya karena proses yang justru lebih penting bagi anda dan pengalaman itu sangat berharga!

Foto-foto : Harumi Davita dan Stephanie Setiyadi

Tentang Janet Teowarang
Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya. Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia di sektor Fashion dan Textile. Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award di Spanyol.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.