twitter  
Profil  

Rabu, 03 Oktober 2018 | 06:00 wib
Karya Mahasiswa Fashion Universitas Ciputra untuk Real Client Project dan Tugas Akhir Berkualitas Global
Sudah menjadi tradisi sejak awal mula Ciputra World Fashion Week (CWFW) di tahun 2013, para mahasiswa Fashion Design and Business Universitas Ciputra selalu menampilkan hasil karyanya di perhelatan tersebut. Pada fashion show di CWFW 2018 Universitas Ciputra menyajikan berbagai koleksi yang berbeda seperti sebelumnya. Hasil perwujudan tugas akhir semester 8 dari batch 2014 yaitu karya kelulusan yang dikurasi juga terdapat kreasi mahasiswa semester 5 untuk real client project dengan PT. Gistex Bandung. Hasil karya yang ditampilkan oleh mahasiswa tentu melalui berbagai proses pembelajaran seru dibimbing para dosen dengan tahapan riset dan eksperimental sehingga menghasilkan koleksi yang dapat diterima oleh pasar serta industri fashion di Indonesia. 

Fashion show dibuka urutan pertama dengan 20 looks koleksi mahasiswa untuk PT.Gistex dimana hasil karya ini telah dipresentasikan sebelumnya sebagai tugas akhir semester.Tiga koleksi yang terbaik dipilih oleh PT. Gistex akan meraih apresiasi hadiah uang tunai lalu mendapatkan kesempatan ditampilkan saat textile trade show di Shenzhen dan Paris. Diantara 20 looks yang berada di runway catwalk pilihan saya tertuju pada dua tampilan cukup unik dan eye catching yaitu karya Audina Adzani dan Alma Utami.

Kreasi Audina dengan tema Romantic Galaxy mengingatkan saya akan film comedy sci-fi tahun 80an 'My Stepmother is an Alien' penggabungan siluet edgy yang feminin dituangkan dalam koleksi bernuansa urban. Kombinasi ruffles asimetris dengan kain cleona satin pada dress hem dan lengan memberikan tampilan anggun untuk perpaduan dengan inspirasi futuristik dari wujud benda – benda galaksi. Menurut Audina menggunakan sablon fosfor untuk detil gambar benda galaksi cukup menantang ketika dicoba pada kain polyester yang disponsori oleh PT. Gistex. Namun setelah bereksperimen dengan tepat Audina berhasil menempelkan sablon tersebut pada kain polyester bertipe marka dan marzani.

Alma Utami menamai koleksinya Trim memiliki inspirasi seni dari karya motif print avant-garde Beth Postle. Postle adalah seorang print designer asal Inggris mempunyai ciri khas black outline tebal dan bergaris putus-putus sebagai bentuk dua dimensi terinpirasikan dari tahun 20an kostum Soviet dan buku paper costume untuk anak-anak di era tahun 70an. Alma memilih segmen pasar asia terutama Jepang dan Korea bagi kalangan anak muda yang menyukai warna-warna cerah dan siluet 'oversize'. Alma menggunakan material bisban hitam dan bisban isi (piping) hitam untuk menjadi detil design yang diharapkan sesuai inspirasinya. Selain itu Alma juga menambahkan detil laser cut bersama pita untuk membuat garis-garis hitam. Tipe kain polyester yang digunakan oleh Alma adalah Gofret untuk warna hitam, Esbon untuk warna tosca dan Paris untuk warna peach.

Menurut Alma pengalaman yang menantang saat mengerjakan project ini wajib sesuai dengan apa yang diminta oleh PT. Gistex sebagai real client para mahasiswa. PT. Gistex menghendaki mahasiswa membuat desain sesuai target market mereka adalah para client berasal dari Turki, Amerika, Cina, Eropa dan Jepang.Perwakilan dari PT. Gistex, Anto Agus Tantra Adi Guna dan Marselina Cristianti Karsaman turut hadir saat fashion show Universitas Ciputra berlangsung untuk memberikan penghargaan bagi koleksi yang terpilih. 

Karya tugas akhir mahasiswa semester 8 tampil di urutan berikutnya dengan beberapa kreasi menarik perhatian saya dalam kacamata industri.Khususnya bagi karya unik yang mampu bersaing dengan kaum professional di industri fashion.

Terdapat beberapa kategori koleksi dari tema sustainability fashion hingga cultural yang merupakan lini Ready to Wear Deluxe mengambil sumber problem solving. Fashion brand Seuri yang didirikan oleh Christa Claudia membuat desain formal wear yang ramah lingkungan (zero waste fashion) dapat dipakai sebagai cocktail wear sesuai dengan permintaan konsumen dari wanita Indonesia.

Christa memberikan problem solving bagi target konsumennya dengan membuat pakaian formal yang ramah lingkungan turut mengurangi limbah kain. Koleksi wearable art yang dikreasikan oleh Stevie Diamanta dengan fashion brandnya Bywho membuat koleksi berjudul 'Color Crush'.

Stevie juga mengeluarkan koleksi berdasarkan tema sustainable fashion yang pada awalnya merasa terbebani dengan menumpuknya sisa kain produksi menjadi limbah yang sulit terurai. Beberapa pelaku industri kerajinan tangan mengolah perca kain tersebut menjadi taplak meja, sprei yang dijual namun belum banyak yang tergerak untuk menghasilkan sisa kain menjadi pakaian karena dianggap akan kurang menjual. Tetapi bagi Stevie hal tersebut merupakan tantangan dan berupaya memanfaatkan sisa hasil produksi dengan membuat suatu motif unik untuk koleksi pakaiannya menggunakan teknik jahit unfinished memanfaatkan 5 warna-warna cerah berfungsi sebagai unisex wear.

Koleksi yang memiliki 5 looks terdiri dari 2 outer, 3 atasan dan 5 celana berupa pakaian yang dapat dipakai oleh pria maupun wanita. Selain Stevie dan Christa, Belinda Tansil pun turut prihatin dengan lingkungan penuh dengan limbah sampah dan menurutnya sebagai desainer tidak hanya dapat membuat karya yang bagus tapi mampu memberikan dampak baik bagi sekitarnya. Pendiri brand fashion Camellia Atelier ini menyatakan bahwa ''Sustainability always links to fashion''. Kini dengan berlimpahnya jumlah sampah nasional mampu mencapai 175.000 ton per hari yang dimana sebanyak 25 persen dari sampah tersebut adalah limbah kain. Koleksi Camellia Atelier untuk Women's Wear Fall - Winter 18 memiliki judul Bauhaus Adaptive yang memiliki paduan kerajinan dan seni rupa dalam desainnya.

Belinda mewujudkan koleksi dengan ekspresi ceria memainkan motif pada kain polos berwarna collegiate red, indigo uniform dan white ivory yang berkoordinasi menjadi motif patchwork berupa tiga dimensi repetisi kubus merepresentasikan Bauhaus style. Sebanyak 5 looks diwujudkan oleh Belinda dengan pengerjaan sangat rapi bila dari jauh tidak terlihat motif yang dibuat adalah dari teknik patchwork dimana secara kasat mata pastinya teman She dapat berasumsi bahwa motif repetisi kubus ini adalah digital printing. 

Jessica Permatasari mendirikan fashion brandnya Karai mendukung konsep slow fashion menggunakan teknik Shibori dari Jepang untuk merealisasikan koleksi women's wear sebanyak 5 looks berupa atasan, bawahan, dress dan outer. Terinspirasi oleh teknik melukis tinta di Jepang yaitu Suibokuga digunakan Jessica dipadankan dengan teknik Shibori menghasilkan motif bangau yang ekslusif dimana bangau dipercaya oleh masyarakat Jepang sebagai pembawa kabar baik dari para dewa.

Brand fashion Tedotik dengan arti Te=Tenun, Do=Gedog, dan Tik=Batik didirikan oleh Mieko sebagai karya tugas akhir di semester 8. Mieko melakukan eksplorasi dan mengembangkan kain tenun gedog Tuban yang dikombinasikan dengan teknik batik tulis. Selain itu Mieko juga ingin mengembangkan motif batik gedog Tuban yang berupa motif berunsur Jawa dan Cina yaitu motif ganggeng dan kura-kura dengan tambahan motif laut seperti bintang laut diperuntukkan generasi muda dalam koleksinya yang bernuansa modern casual. Problem solving yang diberikan oleh Mieko adalah cukup banyaknya pengrajin batik atau tenun yang sudah lanjut usia dan tidak regenerasi serta tanpa inovasi motif desain. Maka mengikuti permasalahan ini selain Mieko mengangkat budaya lokal juga memberikan kesempatan bagi pengrajin dapat mencoba membuat motif baru diluar kebiasaan mereka. Tedotik membuat 5 looks yang terdiri dari dress, atasan, bawahan dan outer menggunakan modifikasi motif ganggeng, kura-kura dan tambahan motif hewan laut.

Tentang Janet Teowarang
Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya.Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia di sektor Fashion dan Textile.Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award di Spanyol.

Photo:
Seluruhnya foto adalah dokumentasi PJ Photography Indonesia (Putra Jabrix) sebagai official photographer di Ciputra World Fashion Week 2018
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.