twitter  
Profil  

Sabtu, 03 Maret 2018 | 06:11 wib
Matakota, Aplikasi Pintar Untuk Warga Pintar
 
Setiap warga kota tentu ingin hidup di lingkungan yang aman, sehat, dan mampu merespon keluhan warga dengan cepat dan solutif. Berangkat dari harapan ini, Erick Karya, merancang aplikasi Matakota.

Matakota merupakan aplikasi mobile yang memberikan akses pada warga untuk saling berkomunikasi dengan dinas-dinas terkait di pemerintahan. Melalui aplikasi ini, warga bukan sekadar bisa menyampaikan keluhan terkait fasilitas dan layanan publik, tapi juga bisa memberi masukan konstruktif terkait situasi darurat dan kinerja kepolisian, pemadam kebakaran, ataupun pihak pemerintahan.

Sampai saat ini Matakota bisa menampung informasi terkait kebakaran, laporan kriminal, masalah sosial dan kesehatan, perlindungan anak, serta bencana alam. Dalam enam bidang tersebut, seluruh dinas akan memiliki kanal informasi yang sama. Artinya, dinas-dinas itu kerjanya tidak lagi sektoral, ketika ada satu kecelakaan, RSUD dan kepolisian akan mendapat informasi yang sama. ''Kadang pertolongan tidak bisa diberikan karena polisi datang cepat, tapi ambulance datang terlambat. Bukan karena sengaja terlambat, tapi informasinya yang tidak sampai,'' kata Erick seperti dikutip dari GNFI. 

Satu diantara fitur andalan dari Matakota adalah tombol pertolongan atau panic button yang akan terintegrasi dengan Polda Jawa Timur. Tombol ini bila ditekan akan memberikan alarm pada Polsek terdekat untuk dapat menindak lanjuti. 

Selama hampir satu tahun diluncurkan, aplikasi Matakota telah mampu menggaet pengguna sekitar delapan ribu pengguna melalui Playstore. Sementara di tingkat pemerintahan, Matakota telah menjalin kerjasama dengan beberapa kota seperti Probolinggo, Pasuruan, Lumajang dan Bangka Belitung dan tahun ini berencana merambah kota Surabaya. Matakota pada 2018 menargetkan akan ada 200 ribu pengguna di sekitar Jawa Timur.

Untuk bisa membuat pengguna lebih bertanggung jawab dengan informasi yang diberikan, Matakota memiliki sistem identifikasi berdasarkan eKTP yang telah terintegrasi dengan Dinas Kependudukan. Sehingga jika terdapat penyalahgunaan atau memberikan informasi yang menyesatkan akan dapat langsung ditindaklanjuti. ''Memang tidak wajib masukkan eKTP, tapi kalau ingin memanfaatkan panic button harus mendaftarkan diri,'' kata Erick.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.