twitter  
Profil  

Selasa, 22 Mei 2018 | 16:18 wib
Cari Pencerahan di ARTJOG 2018
Pencerahan atau enlightment menjadi tema besar yang diusung ARTJOG 2018. Menurut Bambang Witjaksono dan Ignatia Nilu, Tim Kurator ARTJOG 2018, tema pencerahan dipilih untuk merefleksikan dimensi sosial, pengetahuan kepercayaan, spiritual, politik, dan teknologi, melalui pencapaian karya-karya para seniman. Pencerahan membebaskan manusia dari kegelapan takhayul dan kungkungan mitos. Harapannya, momen pencerahan itu hadir melalui bentuk yang dekat, sederhana dan beragam, tanpa paksaan dan tekanan. Sebuah kebebasan yang mencerahkan.

Beberapa seniman yang bergabung di ARTJOG tahun ini diantaranya Mella Jaarsma. Mella menciptakan karya Binds and Blinds (Yang Mengikat dan Yang Membutakan) dengan mengumpulkan sekitar 650 ''selfie pusar'' dari orang-orang yang tinggal di seluruh Indonesia. Mereka mengirimkan foto-foto pusar mereka secara anonim setelah dia memasang pengumuman-pengumuman lewat Facebook, Whatsapp dan juga bantuan dari mitra media. Karya ini merefleksikan keprihatinan Mella terhadap penerapan intoleransi, terutama penetapan nilai-nilai moral pada orang lain. Moralitas dapat mengikat kita, tetapi bisa juga membutakan kita. Daripada berfokus pada pengaruh-pengaruh eksternal, kita perlu menengok ke dalam lagi, melihat ke dalam diri kita, sesekali ''menatap pusar'' untuk menghadap dan menempatkan diri kita sendiri, atau sederhananya untuk mencapai akal sehat kita. Semoga ini bisa menuntun kita kembali menuju kesadaran dasar atas kemanusiaan, dimana nilai – nilai terus menerus diperbaharui.

Ada juga karya Mulyana Mogus dengan SEA REMEMBER. Karya ini menurut Mulyana menjadi pengingat bahwa manusia makhluk tak sempurna. Kuasa manusia tidak akan mampu menandingi kelemahan yang dititipkan dan ditetapkan. Jika daratan membuatmu terlena, ingatlah lautan. Bukankah dia bagian dari kita dan juga alam semesta. Dan cahaya-Nya lah yang mampu mengantarkan kita ke masa depan. 

Tak ketinggalan juga karya Fajar Abadi dengan EVERLOST. Pertarungan industry snack atau makanan ringan terutama di Indonesia (negara berkembang) seolah pertarungan antara Daud dan Goliath. Bagaimana bisnis usaha kecil dan menengah terus berusaha berjuang dan bertahan dalam jaringan bisnis snack dari luar negeri dalam skala besar. Hal ini merupakan metafora dari perjuangan dan daya tahan dari kelompok kecil lebih idealis dan militant terhadap gempuran industrialisasi global. (Deedee Dinata / Editor : Windy Goestiana)

Thumbnail Image:

Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.