twitter  
Profil  

Kamis, 03 Mei 2018 | 14:25 wib
Obat Pereda Nyeri Berbahaya untuk Ginjal
 

Konsumsi obat pereda nyeri secara berlebihan bisa bahaya akibatnya. Kata Aida Lydia, Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri), mengonsumsi obat pereda nyeri menjadi satu diantara faktor risiko penyakit ginjal kronis.

Adapun faktor-faktor risiko penyakit ginjal kronis (PGK) dibedakan menjadi faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi atau dikendalikan.

Faktor-faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain riwayat keluarga, penyakit ginjal, kelahiran prematur, usia, trauma/kecelakaan, serta akibat dari penyakit-penyakit tertentu seperti lupus, anemia, kanker, AIDS, hepatitis C, dan jantung berat. Adapun faktor-faktor risiko PGK yang dapat dimodifikasi di antaranya diabetes tipe 2, hipertensi, napza, radang ginjal, serta konsumsi obat pereda nyeri.

Kita juga bisa lho melakukan pemeriksaan fungsi ginjal untuk mengidentifikasi sedini mungkin adanya PGK. Pemeriksaannya bisa melalui darah dan urine. Pemeriksaan darah dilakukan untuk melihat kadar kreatinin, ureum serta Laju Filtrasi Glomerulus (LFG), sedangkan pemeriksaan urine untuk melihat kadar albumin atau protein.

Agar kesehatan ginjal tetap baik berikut makanan penjaga fungsi ginjal :
  1. Buah ceri. Buah ini memiliki kandungan seperti vitamin C, vitamin K, folat, vitamin B6, magnesium, dan sitrat. Semakin asam ceri, menandakan bahwa kadar sitrat pada buah tersebut juga tinggi. Sitrat mengurangi asam urat dalam aliran darah, sehingga mempermudah fungsi ginjal untuk mengendalikan keasaman dalam tubuh. Selain baik untuk ginjal, buah ceri juga mengurangi terjadinya risiko penyakit asam urat. Selain sitrat, ceri juga mengandung kalium rendah.
  2. Kayu manis. Kayu manis dikenal dengan manfaatnya untuk mengatur kadar glukosa. Hal ini tentu dapat membantu tubuh mengelola glukosa dengan lebih baik dan memberi perlindungan tubuh dari gangguan gula darah. Terlalu banyak mengonsumsi karbohidrat dapat memperberat kerja ginjal. Oleh karena itu, kelebihan glukosa yang dihasilkan dari penyakit diabetes dapat menyebabkan kerusakan pada ginjal. Dilansir dari Global Healing Center, sebuah studi menegaskan bahwa kayu manis dapat digunakan sebagai suplemen tanpa memperhatikan peningkatan risiko oksalat yang dapat menyebabkan penyakit batu ginjal.
  3. Kumis kucing. Tanaman ini dapat mendukung fungsi ginjal, yaitu menyeimbangkan gula dalam darah, menjaga tekanan darah, dan memberikan antioksidan bagi tubuh. Selain mendukung fungsi ginjal, kumis kucing juga membantu fungsi hati dan saluran pencernaan.
  4. Bawang. Bawang mengandung quercetin yang membantu mencegah kerusakan terhadap ginjal bagi perokok. Sedangkan untuk non-perokok quercetin dan lemak membantu fungsi ginjal dalam menyaring darah dari kotoran. Bawang ini dapat digunakan sebagai rempah-rempah untuk menambahkan rasa sehingga mengurangi penggunaan garam. Pasalnya, penggunaan garam yang berlebih dalam makanan akan memperberat kerja ginjal. Pada pasien disfungsi ginjal, garam tidak akan dicerna dan dibuang dengan baik sehingga berisiko menyebabkan pembengkakan dan retensi cairan.
  5. Sayuran rendah kalium. Pasien penyakit ginjal biasanya dianjurkan untuk membatasi asupan mineral kalium. Padahal, mineral ini banyak ditemukan dalam sayuran hijau. Anda bisa memilih berbagai sayuran yang rendah kalium. Di antaranya yaitu kembang kol, kubis, lobak, timun, dan terong.
  6. Apel. Apel tinggi antioksidan dan relatif rendah kalium. Apel juga tinggi serat dan memiliki senyawa antiradang, yang bisa membantu memperbaiki fungsi ginjal. Jadi apel adalah makanan yang baik untuk ginjal karena rendah kalium sehingga ginjal tidak bekerja berat untuk memproses kalium saat kita mengonsumsinya.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.