twitter  
Profil  

Kamis, 11 Oktober 2018 | 08:14 wib
3 Fokus Mengatasi Kesehatan Mental
Setiap 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Internasional. Menurut WHO, kalangan remaja dan dewasa muda ternyata paling rawan mengalami gangguan kesehatan mental. Ini disebabkan di usia tersebut terjadi banyak perubahan dalam hidup seseorang. Mulai dari meninggalkan rumah, berpindah sekolah, memiliki lingkungan kerja baru, yang memungkinkan terjadinya stres atau tekanan mental.

Ada juga kondisi lain seperti perkembangan era serba digital, kondisi perang, bencana, dan penyebaran penyakit epidemik yang tidak tertangani justru bisa memicu berbagai penyakit mental. Untuk itu WHO memiliki tiga fokus utama dalam konteks peringatan Hari Kesehatan Mental Internasional tahun ini.

Deteksi dini kesehatan mental berawal di usia 14 tahun. Setengah dari kasus penyakit mental yang dialami oleh masyarakat dunia dimulai pada tahapan usia 14 tahun. Sayangnya, sebagian besar dari penyakit mental ini tidak terdeteksi sehingga tidak mendapat penanganan yang maksimal. Penyakit mental yang tidak tertangani bisa memicu munculnya beban psikologis di kalangan remaja atau dewasa muda. Beban psikologis itu biasanya ditunjukkan dengan depresi, bunuh diri, dan perilaku penyalahgunaan alkohol atau narkotika yang berujung pada seks bebas dan meningkatnya angka kecelakaan berlalu-lintas.

Bangun ketahanan mental sejak dini. Anak yang diijinkan mencari solusi dari kesulitan sederhana yang dihadapi bisa berdampak positif terhadap ketahanan mental mereka. Di masa depan, masalah baru akan terus bermunculan. Saat makin banyak kesulitan, anak anak yang nyaman diurus orang tuanya tak akan sempat melatih dirinya untuk mengambil keputusan. Tak banyak orang yang mengerti bahwa keunggulan yang dicapai manusia sebenarnya tak pernah lepas dari seberapa hebat ia terlatih menghadapi aneka kesulitan dan tantangan kehidupan.

Cegah dengan pemahaman yang baik. Pencegahan dimulai dengan kepedulian dan pemahaman terhadap tanda-tanda awal atau gejala penyakit mental. Orangtua dan guru-guru di sekolah dapat membantu generasi muda untuk memiliki kemampuan mengatasi tantangan hidup sehari-hari. Dukungan psikososial juga perlu ditumbuhkan dalam lingkup sekolah, komunitas, dan berbagai tempat lain. Selain itu, pelatihan untuk kesehatan pekerja juga penting diadakan agar kemampuan mendeteksi dan mengurus penyimpangan kesehatan mental yang terjadi dapat tersebar, ditingkatkan, dan diperluas keberadaannya. Kolaborasi semua pihak Untuk dapat mewujudkan semua upaya ini, diperlukan kerja sama berbagai pihak. Mulai dari pemerintah hingga keterlibatan sosial, juga sektor edukasi dan kesehatan. Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan kesadaran kalangan remaja dan dewasa muda untuk menjaga kesehatan mental mereka. Dengan demikian, dapat pihak-pihak lain mengetahui bagaimana cara mendukung individu di lingkungan mereka yang terkena kelainan atau penyakit mental.

Berikut cara mendeteksi kesehatan mental :
  1. Apakah Anda sering merasa sedih?
  2. Apakah Anda sudah tidak dapat menikmati pekerjaan, olah raga dan hoby Anda?
  3. Apakah Anda sering merasa lelah?
  4. Apakah Anda mengalami kesulitan tidur atau tidur terlalu banyak?
  5. Apakah berat badan Anda meningkat atau menurun?
  6. Apakah Anda sering menyalahakan diri sendiri?
  7. Apakah Anda mengalami kesulitan untuk mengambil keputusan atau berkonsentrasi pada pekerjaan Anda?
  8. Apakah Anda merasa sepertinya ingin mengamuk atau ingin berdiam diri?
  9. Apakah Anda merasa hidup ini tidak menarik dan Anda merasa tidak berharga?
Jawaban ''Ya'' 5 atau lebih Anda membutuhkan konseling.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.