twitter  
Profil  

Kamis, 20 Juni 2019 | 11:52 wib
#abstrAction, Pameran Lukisan Komunitas Perupa C5 Bali


Delapan perupa yang tergabung dalam komunitas C5 (Critical, Communication, Collaboration, Cooperation & Creativity) Bali, menggelar pameran bertema #abstrAction.

#abstrAction menjadi bukti aksi serta usaha yang dilakukan oleh para perupa dalam menyorot persoalan sehari-hari masyarakat Bali. Hidup dalam tradisi yang kental ditengah-tengah pesatnya modernifikasi seringkali harus menghadapi pertentangan. Keinginan untuk bisa berkembang dan berjalan beriringan menjadi fokus para perupa dalam melakukan abstraksi pada realita dan peristiwa yang terjadi. Berikut beberapa karya yang ditampilkan :

Galung Wiramatja – Fractional Field


Kita tidak bisa menghindari perbedaan yang terjadi dalam bidang apapun, entah dalam pertemanan, keluarga, pekerjaan dan lingkungan sekitar kita. Dan kita pun bebas atau berhak untuk berpendapat serta menafsir perbedaan yang sedang kita alami, tidak ada salah tidak ada benar namun setidaknya kita tahu bahwa semua perbedaan itu bermuara pada satu point yang sama. Itulah yang diharapkan oleh Galung akan karyanya yang satu ini. Fractional Field sendiri diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu minggu olehnya dan didominasi tone yang sama untuk warna yaitu monokrom.

I Ketut Sugantika – Seri Lavascape



Naik turunnya kehidupan, upaya manusia mencapai kesuksesan yang tinggi dan juga menerima segala kemungkinan dari sebuah peristiwa di kehidupan, itulah pesan yang ingin disampaikan lukisan seri lavascape dengan visual volcano dari atas oleh I Ketut Sugantika. Keistimewaan Indonesia sebagai negara cincin api serta erupsi Gunung Agung pun ikut menjadi inspirasi Ketut membuat seri yang satu ini, seri yang selain menggunakan akrilik juga menggunakan cat minyak.

I Gusti Ngurah Putu Buda – Inner Spirit



Inner Spirit merupakan kekuatan dari diri kita. Dan tema ini diambil oleh Putu Buda untuk sebuah karya yang merupakan refleksi keadaan Bali kini dalam perspektif dia berdasarkan perkembangan arsitektur di Bali. Pemilihan warna emas sendiri dalam karyanya, karena emas mewakili keagungan. Sebagai orang Bali, dia berusaha mempertahankan keagungan Bali yang diwakili oleh bangunan-bangunan khas Bali, misal pura yang mulai tergerus oleh bangunan-bangunan baru. Pembangunan atas nama modernisasi memang diperlukan disuatu tempat, akan tetapi spirit menghargai dan mempertahankan sejarah dari tradisi yang telah lama sebelumnya harus ada, tidak hanya di Bali.

Pameran ini digelar di Galeri Paviliun House of Sampoerna mulai 21 Juni hingga 13 Juli 2019. Deretan karya lukis abstrak dipersembahkan kepada masyarakat Surabaya agar lebih memahami dan mencintai seni lukis abstrak.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.