twitter  
Profil  

Kamis, 01 Agustus 2019 | 14:24 wib
Peringatan Hari Anti Trafficking Dunia


Memperingati Hari Anti Trafficking Dunia , Konsulat Jendral Amerika Serikat  Surabaya mengadakan kegiatan bertajuk “Freedom -  World Day Against Human Trafficking in Person” dengan menghadirkan Maizidah Salas selaku survivor human trafficking serta Yuliati Umrah dari ALIT (Yayasan Arek Lintang) .

Dalam acara yang berlangsung selama lebih dari 2 jam tersebut dibuka oleh sambutan dari Sean Smith perwakilan dari HSI (Homeland Security Infestigation) , Secara singkat  Smith bercerita tentang misi-misi dia terkait human trafficking , dimana salah satunya adalah yang berada di Indramayu. Dilanjutkan dengan pengalaman Maizidah Salas yang bercerita tentang pengalaman dia menjadi korban perdagangan manusia sejak 2001.

Peraih Trafficking In Persons (TIP) Report Heroes Reception 2018 ini menuturkan ada banyak faktor seseorang ,dalam hal ini terutama wanita dapat terjebak dalam human trafficking, mulai dari ekonomi hingga kekerasan rumah tangga. Semua bermula pada saat Maizidah di penampungan PJTKI (Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia) sebelum berangkat ke negara yang dituju , para calon TKI ini alih-alih mendapatkan pelatihan yang diperlukan namun justru menjadi obyek eksploitasi.

“Mereka menyebutnya piket , padahal sebenarnya itu bukan piket. Itu adalah melakukan pekerjaan dengan gratis, kami menyapu , ngepel memebersihkan gedung perusahaan 3 lantai. Tanpa di bayar dengan dalih piket”, tutur Maizidah.Pada saat mendapatkan negara tujuan pun Maizidah ditipu. Agency perusahaan mengatakan bahwa dia akan mendapatkan pekerjaan di Taiwan merawat nenek tua sakit, namun realitanya tidak ada. Yang ada adalah keluarga kaya berjumlah 8 orang. "Saya setiap hari harus mencuci berkilo-kilo daging babi dan carcoal tanpa dibayar, saya tidak boleh keluar rumah , tidak boleh membawa handphone, bahkan untuk sekedar membuang sampah saya ditungguin di depan pagar oleh nyonya rumah”, lanjut Maizidah.Berpindah-pindah majikan , ditipu oleh agen membuat Maizidah kabur menyelamatkan diri dan berganti-ganti pekerjaan mulai dari bekerja di restoran sampai bekerja di pabrik jagung.

Setelah dirasa kehidupannya cukup , Maizidah menyewa apartemen yang awalnya  ditujukan untuk menampung  rekan-rekan TKI yang bermasalah, makin lama perkumpulan ini menjadi besar dan menjadi organisasi yang akhirnya membantu advokasi TKI. Saat ini Maizidah aktif dalam memberikan penyuluhan ke kampung-kampung dan sekolah untuk pencegahan terjadinya perdagangan manusia.Tidak hanya itu, dia ikut membantu perancangan Undang-Undang tentang Penempatan dan Perlindungan TKI hingga pembuatan revisi undang-undangnya.

“Perdagangan manusia, tidak hanya meng eksploitasi saja namun juga ada unsur abusing disitu”, kata  Yuliati Umrah dari ALIT. Human trafficking tidak hanya berlaku lintas negara saja, dalam skala lokal pun ada. Contohnya yang masih ada di beberapa kampung adalah menikahkan anak untuk membayar hutang yang ternyata juga merupakan salah satu wujud human trafficking. Yuliati menambahkan pentingnya pendidikan hukum bagi orang tua agar tidak menjerumuskan anak mereka ke dalam perdagangan dan eksploitasi manusia.

(Naskah & Foto: Aswin, Editor : Deedee)
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.