twitter  
Profil  

Rabu, 28 Agustus 2019 | 15:52 wib
Kreatifitas Tanpa Batas Karya Anak Dyslexia untuk Industri Fashion


Tak dipungkiri pengaruh kreatifitas seni sangat besar memberikan inspirasi dalam menciptakan karya fashion yang bersinergi. Para creator seni pun berasal dari beragam latar belakang misalnya seperti anak – anak Dyslexia yang sangat berbakat, mampu menciptakan sebuah karya otodidak.

Sebelumnya saya sangat awam tentang Dyslexia dan tanpa mengetahui bahwa terdapat tingkatannya dimana mungkin saja kita memilikinya setelah melakukan skrening awal. Setelah saya mengenal Dyslexia dari seorang fashion desainer di Surabaya, Geraldus Sugeng, minat saya menjadi besar untuk berbagi tentang kreatifitas anak–anak Dyslexia yang mampu disinergikan dengan karya fashion.

Geraldus Sugeng menampilkan koleksi perdananya tahun 2018 yang mengangkat kreatifitas anak Dyslexia. Menurut Sugeng awal mulanya tidak ada terpikirkan berkolaborasi dengan Aqil seorang anak Dyslexia, tetapi dengan melihat gambar – gambarnya dan akhirnya selama 10 hari bersama Aqil dan Ibunya saat di New York, Sugeng melihat Aqil mempunyai sisi seni yang luar biasa, bisa meletup –letup tertarik dalam dunia lukis, akhirnya Sugeng mencoba mengaplikasikan gambar – gambar Aqil pada desain koleksi fashion Sugeng berupa dress dan bomber jacket.



Tentunya gambar – gambar Aqil melalui proses seleksi oleh team digital printing dan proses editing agar menjadi satu tema, karena awalnya gambar – gambar Aqil masih belum terbentuk konsepnya. Hasil karya bersinergi ini ditampilkan dalam fashion show di Vasa Hotel Surabaya dan Harris Hotel Malang sekaligus saat kampanye Dyslexia berlangsung. Sugeng berharap dengan konsistensinya mengkampanyekan anak Indonesia dengan berkebutuhan khusus (ABK), bukan hanya Dyslexia tetapi juga difabel dilakukan agar ABK mampu bersosialisasi baik dengan masyarakat dikemudian hari.

 



Untuk edisi ini juga saya mendapatkan kesempatan langka, saya berkenalan dan mengobrol dengan seorang anak berkebutuhan khusus yang kreatif dan pintar menggambar Amelia Putridari Jakarta, melalui Ibunya menceritakan tentang ide dan karya–karya seni yang pernah diwujudkan. Uniknya sumber kreatifitas Amel berasal dari setiap dia berkunjung kemana saja, tangannya bergerak–gerak seolah–olah memvisualisasikan dia sedang menggambar.

Media yang disukai oleh Amel untuk menuangkan kreatifitas adalah clay, kertas putih dengan imajinasi gambar yang kadang sudah berbentuk komik simpel, kain panel, kaos polos yang langsung digambar pakai spidol tekstil dan kain lainnya, komputer program Photoshop dan TV paint, dan sudah mulai membuat animasi bergerak yang masih sederhana, menggunakan pita, manik – manik, magnet lembaran (membuat puzzle), kertas kado dengan aneka gambar, kertas origami, kardus bekas, papan bekas, kanvas, walaupun masih belum mahir tapi Amel sangat suka bereksperimen. Variasi karya kreatif yang telah dibuat Amel dari batu kali dan talenan kayu yang digambar dan diwarnai, gambar diatas kaos, hiasan dinding dari gambar menggunakan benang wool, melukis diatas kardus bekas menggunakan cat akrilik, cat warna, spidol dan lainnya.








Kedepannya Amel punya rencana mewujudkan ide – ide maupun inspirasi untuk ditampilkan ke masyarakat yang dimulai dengan kondisinya sekarang, mundur dari sekolah formal, sekarang menjalani terapi perilaku, seminggu 2 kali mengikuti kumon dan ada les lainnya yang privat. Amel juga berkeinginan mempunyai galeri yang dapat mewadahi karya – karya Amel agar dia dapat mandiri dan mampu bekerjasama dengan pelaku industry lainnya, selain itu juga bisa bentuk hasil akhir atau barang jadi atas karya anak – anak Dyslexia lainnya disalurkan digaleri tersebut. Sekarang perlahan Amel sedang mencoba mengerti akan perintah atau pemahaman, sebab Amel belum bisa diajak mengobrol cepat dan berbicara masih belum teratur. Karena suatu saat jika akan bekerjasama dengan pihak industry kreatif lainnya atau menerima pesanan sebaiknya Amel sudah dapat mendengar dan memahami instruksi yang disampaikan oleh orang lain.







Tentang Janet Teowarang :

Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya. Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia disektor Fashion dan Textile. Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award di Spanyol.

Dokumentasi pribadi Geraldus Sugeng dan Amelia Putri
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.