twitter  
Profil  

Kamis, 14 November 2019 | 10:36 wib
Memahami Minat, Bakat dan Passion Anak Generasi Z dan Alpha
 

Generasi Z adalah mereka yang lahir pada kurun waktu tahun 1995 hingga 2010, lalu generasi Alpha tentu saja yang lahir di tahun 2010 hingga sekarang. Dua generasi ini merupakan generasi yang tumbuh bersamaan dengan majunya teknologi baik itu 4.0 atau bahkan menuju 5.0 dan tentu saja berbeda dari generasi-generasi sebelumnya baik pendekatan, penerapan dan pengarahannya di masa depan. Namun siapa sangka perbedaan itu belum diketahui banyak orang termasuk orang tuanya sendiri sehingga hal itu menjadi satu fokus yang perlu dicari tahu benang merahnya tentang bagaimana mengetahui bakat, minat dan passion gen Z dan Alpha. 

Dalam Morning She 12 November 2019, Ita Guntari yang merupakan praktisi talent mapping IC School hadir untuk sharing tentang bagaimana mengetahui bakat, minat dan passion gen Z dan Alpha. 

She : Bagaimana pemahaman orang tua akan bakat, minat dan passion anak ?

Ita : Setiap orang  atau setiap anak itu unik. Jangan disamakan , karena setiap orang di jamannya sudah punya misi hidup masing-masing. Bakat jangan hanya dilihat dari sudut bidang, bisa juga dilihat dari sudut sifat (pola pikir, perasaan, perilaku alami yang berulang-ulang dan memberi manfaat).  Kalau bisa dirumuskan : 

Bakat – potensi kekuatan – personal branding – profesi yang pas

Orang tua harus rajin melihat, harus rajin observasi bakat anak, minat anak dan passion anak. Fokus di kelebihan anak, jangan buru-buru menyalahkan kalau anak tidak bisa dengan salah satu bidang, karena bisa jadi anak mempunyai kelebihan di bidang lainnya (misalnya bidang non akademis). Ciri dari gen Z dan Alpha adalah visioner, namun dibalik semua itu ada kekhawatiran mereka akan masa depan, khawatir akan menjadi apa, bisa apa dan disinilah orang tua serta guru ambil peran untuk berkolaborasi dengan anak, memfasilitasi dan mengarahkan sesuai kesukaan anak. 

She  : Lalu apa tantangan orang tua dalam mengetahui minat, bakat dan passion anak gen Z dan Alpha?

Ita : Pertama adalah orang tua yang belum selesai dengan diri sendiri sehingga masih menyimpan obsesi yang akhirnya dialihkan ke anak. Kedua kebiasaan orang tua yang suka melabeli anak. Ketiga minimnya interaksi langsung dengan anak. Ketiga hal ini umumnya terjadi namun jarang disadari. Ada baiknya orang tua sedari sekarang menghilangkan kebiasaan melabeli anak, memperbanyak waktu dan agenda interaksi dengan anak serta menghilangkan obsesi ke anak yang sebenarnya adalah obsesi dirinya sendiri, misal dulu orang tua ingin menjadi dokter namun tidak tercapai lalu obsesi itu diteruskan pada anak dengan harapan anak bersedia. Interaksi dengan anak juga harus diperbanyak. Dalam hal ini bisa diambil contoh yaitu penggunaan smartphone. Pernahkah melihat anak yang diam terpaku melihat smartphone disamping orang tuanya yang juga sedang asyik dengan smartphone? Tidak ada larangan tentang penggunaan smartphone pada anak hanya saja orang tua harus paham akan konsep manajemen diri. Baik itu durasi, apa yang dilihat, kapan boleh melihat dan interaksi apa yang bisa terjadi dari melihat smartphone antara anak dan orang tua. 

She : Solusinya?

Ita : Cari tahu apa yang disukai anak. Caranya? Dengan menerapkan 4 hal berikut atau 4 E. Yang pertama adalah enjoy, sesuatu yang anak suka sekali. Yang kedua easy, sesuatu yang mudah dilakukan anak. Yang ketiga excellent, apa yang disukai dan dilakukan anak menghasilkan sesuatu yang bagus dan yang keempat adalah earn, apakah yang anak sukai itu membawa manfaat untuk orang lain disekitarnya. Lalu untuk pengembangannya, orang tua bisa memberi banyak ragam kegiatan dan ajak atau kenalkan anak ke orang-orang baru supaya ada interaksi dan pastikan pengembangan ini berulang, tidak hanya sesekali. 

Dan terakhir, penting juga bagi orang tua paham betul tentang manajemen diri, pertama diterapkan pada diri sendiri terlebih dahulu baru kemudian memperbaiki manajemen diri anak. 

Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.