twitter  
Profil  

Jumat, 17 April 2020 | 11:19 wib
Mengenal Rapid Test dan Swab Test
 

Sebagai upaya untuk menekan penyebaran virus Corona, pemerintah sudah mulai melakukan rapid test dan swab test di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya di beberapa wilayah di Indonesia yang memiliki kasus COVID-19 yang tinggi. Tes ini ditujukan agar pemerintah dan petugas kesehatan bisa mengetahui siapa saja orang yang berpotensi menyebarkan virus Corona dan melakukan tindakan pencegahan agar jumlah kasus COVID-19 tidak semakin bertambah.

Sebenarnya, apa itu rapid test dan swab test ya teman She? 

Apa Itu Rapid Test?

Rapid test adalah metode skrining awal untuk mendeteksi antibodi, yaitu Immunoglobulin G (IgG) dan Immunoglobulin M (IgM), yang terdapat pada sampel darah. IgG dan IgM adalah antibodi yang terbentuk jika tubuh kita teinfeksi virus. Dengan kata lain, bila antibodi ini terdeteksi di dalam tubuh seseorang, artinya tubuh orang tersebut pernah terpapar atau dimasuki oleh virus Corona. Namun perlu kita ketahui, pembentukan antibodi ini memerlukan waktu, bahkan bisa sampai beberapa minggu. Jadi, rapid test di sini hanyalah sebagai pemeriksaan skrining atau pemeriksaan penyaring, bukan pemeriksaan untuk mendiagnosa infeksi virus Corona atau COVID-19.

Negatif Palsu

Akan tetapi, harus dicatat bahwa rapid test bisa menimbulkan hasil negatif palsu jika orang yang dites berada dalam window period infeksi. Pasalnya, ketika masih belum bergejala (asimptomatik) atau masih dalam periode inkubasi, antibodi IgM atau IgG belum dapat dideteksi oleh rapid test.

Bila Rapid Test Positif?

Nah, bila hasil rapid test kita positif, jangan panik dulu. Antibodi yang terdeteksi pada rapid test bisa saja merupakan antibodi terhadap virus lain atau coronavirus jenis lain, bukan yang menyebabkan COVID-19. Jadi, akan langsung dilakukan pengambilan swab untuk tes PCR (Polymerate Chain Reaction) guna memastikan apakah benar terdapat infeksi Covid-19. Selama menunggu hasil PCR, kita harus menjalani isolasi mandiri di rumah selama paling tidak 14 hari.

Isolasi 

Selama isolasi, hindari berpergian dan kontak dengan orang lain yang tinggal serumah, sambil menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Terapkan physical distancing, yaitu menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain dan kenakan masker saat harus berinteraksi dengan orang lain. Selain itu apa pun hasil rapid test-nya, pantau terus kondisi kesehatan kita. Bila muncul gejala COVID-19, seperti batuk, demam, suara serak, dan sesak napas, segera hubungi fasilitas layanan kesehatan atau hotline COVID-19 untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.

Tidak Semua Orang Dapat Melakukan Rapid Test

Karena keterbatasan alat, tidak semua orang dapat menjalani prosedur ini secara serentak. Sejauh ini, pemeriksaan hanya diprioritaskan untuk orang yang lebih berisiko terkena COVID-19. Kriterianya antara lain adalah :

•Orang dalam pengawasan, yaitu yang memiliki demam ≥ 380C atau gejala gangguan sistem pernapasan, seperti pilek, batuk, dan sesak napas, serta memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di area transmisi lokal, baik di Indonesia maupun luar negeri
•Orang yang memiliki riwayat kontak dengan kasus pasien dalam pengawasan (PDP) 
•Orang yang memiliki riwayat kontak dengan pasien yang terkonfirmasi atau kemungkinan besar positif COVID-19
•Masyarakat dengan risiko tertular paling tinggi, seperti petugas kesehatan di rumah sakit yang menangani COVID-19
•Masyarakat yang bekerja di puskesmas atau klinik, serta masyarakat dengan profesi yang interaksi sosialnya tinggi (TNI, polisi, pejabat publik, ulama, petugas bandara, atau pedagang pasar)

Penentuan kriteria bisa dilakukan saat kita ke puskesmas untuk bertemu dokter. Kita juga bisa didatangi secara langsung oleh pihak puskesmas bila kita memang terdata pada jejak kontak ODP, PDP, atau pasien terkonfirmasi.

Swab Tes atau PCR untuk Virus Corona, Benarkah Lebih Efektif Deteksi Covid-19?

Para ahli menilai ada jenis tes yang relatif mudah yakni Polymerase Chain Reaction (PCR), atau reaksi rantai polimerase, atau dikenal juga dengan nama Swab Test. Jenis tes tersebut telah ada selama beberapa dekade. Pada test ini, dokter cukup mengambil sampel dari hidung atau tenggorokan pasien, kemudian mengirimnya ke laboratorium. Analisis PCR mungkin saja rumit, namun tes ini dapat diandalkan. Sebetulnya teknologi untuk menguji virus yang lebih cepat sudah ada, tetapi belum ada investasi skala besar yang dilakukan untuk mengkomersialkannya.

Seberapa efektif swab tes (PCR)? 

Secara teori, tes PCR cukup sederhana untuk dilakukan. "PCR adalah platform pengujian standar untuk virus, karena tes ini dinilai sangat sensitif," ungkap Paul Yager, seorang profesor di departemen bioteknologi di University of Washington. PCR dapat mendeteksi, bahkan pada sejumlah kecil virus dalam sampel pasien dan kecil kemungkinan kesalahan untuk memiliki hasil negatif.

PCR diklaim menjadi tes yang tidak hanya efektif, tetapi juga lebih terjangkau untuk dilakukan di laboratorium mana pun. Tapi tes tersebut relatif cukup lambat. Juga, petugas lab harus berhati-hati saat mencampur sampel pasien dengan sebagian kecil bahan kimia dalam tabung kecil. "Tidak semua lab bisa melakukan PCR. Itu membutuhkan laboratorium yang sangat bersih." 

(Ella Su'Ud / dari berbagai sumber)

                                                            
















Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.