twitter  
Profil  

Sabtu, 02 Mei 2020 | 10:07 wib
Strategi C+C & Co Untuk Masa Depan Industri Fashion
 
(Proses syuting)

Strategi bisnis fashion brand dan retail dijalankan saat pandemic Covid-19 ini tidaklah mudah, diperlukan banyak pertimbangan serta perubahan besar. Industri fashion yang banyak mengacu proses tradisional dalam desain, produksi harus berpikir strategis untuk keluar dari zona nyaman mereka. 

Untuk edisi kali ini saya menghadirkan Charles Rezandi dari C+C & Co di Singapura dan juga sudah bekerja sama dengan beberapa industri fashion di Indonesia. Charles memberikan pandangan dan pengarahan untuk para pelaku industri fashion agar dapat introspektif lalu mempersiapkan langkah strategis bertahan dan juga saat selesainya pandemic ini.

Boleh diceritakan tentang C + C & Co dan kontribusinya untuk industri fashion local maupun internasional.

Charles : Kami adalah agensi multi-disiplin yang mengkhususkan diri dalam branding, kecerdasan desain, dan pengarahan seni. Kolaboratif kami pertama dengan menghadirkan kedua negara di Singapura dan Indonesia. Agensi kami selalu menjadi pendukung kuat Asia Tenggara. Kami telah bekerja dengan berbagai brand fashion di seluruh Malaysia, Indonesia dan Singapura dalam proyek –proyek berskala besar. Kami membantu mereka dalam menciptakan visi mereka melalui pendekatan akan pencampuran media. Kami merasa sangat terhormat dapat bekerja dengan brand lokal yang melihat mereka sejak awal perjalanan brand tersebut, karena kesempatan ini memungkinkan kami untuk memposisikan diri sebagai agensi komunikasi fashion. Kami juga telah bekerja dengan banyak direktur kreatif brand fashion, direktur pemasaran, dan manajer brand, dan ini member kami banyak wawasan tentang industry ini.

 

 

Bagaimana pandangan dari C+C &Co tentang situasi industri fashion global saat ini? Karena pandemi Covid-19 dengan kebutuhan untuk bertahan hidup (tidak ada fashion events atau kegiatan promosi), terlalu banyak overstock produk karena sistem lockdown dihampir semua negara, membatalkan atau menunda koleksi baru.

Charles : Masa luar biasa ini telah memberikan perubahan besar dalam industri, baik makro maupun mikro. Sebelum Covid-19, konsumen fashion telah mengubah perilaku mereka dengan cepat. Penurunan ini terbukti melalui kemerosotan tingkat penjualan di seluruh sektor fashion secara cepat di sebagian besar wilayah. Mal-mal itu kosong karena para manajemen mal tidak mau menurunkan harga sewa sementara konsumen mengubah perilaku pembelian konsumen ke aspek-aspek lain dari kehidupan mereka. Perilaku ini membawa kehancuran karena mayoritas bisnis besar yaitu MNCs: Multinational Corporation di industri fashion harus lebih beradaptasi dengan tantangan seperti pembatasan perjalanan, jarak sosial (physical distancing) dan aturan pemerintah baru tentang menjalankan bisnis mereka. Beberapa non – essential brand harus ditutup selama berbulan – bulan untuk menghentikan penyebaran virus. Bisnis mikro lebih baik beradaptasi untuk ini, dengan ukuran bisnis mereka dapat berputar segera dan membuat penawaran baru pada produk atau layanan mereka.Kata kunci disini adalah ketahanan. Brand – brand kecil mungkin ingin menahan diri untuk tidak mempromosikan dan melakukan peluncuran produk baru selama periode ini tetapi dapat terus menyelami merek-merek mereka dan menemukan nilai-nilai pendidikan yang dapat dibagikan untuk masyarakat (konsumen) misalnya berbagai brand kecil telah membagikan tutorial membuat self – made masker kain, webinar dengan direktur kreatif merek bersama selebriti / fashion influencer lokal. Hampir setiap orang memiliki lebih banyak waktu untuk menggali lebih dalam tentang topik yang mereka sukai sekarang, dan brand – brand ini masih dapat melakukan promosi. Mereka hanya perlu sedikit mengubah komunikasinya.  Saint Laurent (luxury brand ) baru saja mengumumkan bahwa mereka juga mengatur ulang kalender brand dan tidak akan mengikuti musim dan jadwal tradisional lagi. Perubahan ini sangat menyegarkan dimana ajang internasional fashion week yang sebelum masa COVID-19 sudah kurang populer.

Menurut C+C &Co pentingnya digital dan teknologi untuk industri fashion sekarang.

Charles : Industri fashion selalu menjadi pencinta sesuatu hal yang baru. Itu tertulis pada kata Fashion, yang berarti in-trend atau kontemporer. Digital teknologi digunakan dalam berbagai format dan berfungsi sebagai promotion tool brands atau untuk menciptakan pengalaman yang diusulkan oleh direktur kreatif kepada konsumen mereka. Ada banyak contoh dari Alexander Mcqueen Spring Summer 1999, live streaming Digital Fashion Week di Singapura, Malaysia dan Indonesia, fashion brand Issey Miyake menggunakan ISSEY MIYAKE drone untuk mengenakan pakaian dikoleksi Spring Summer 2020, fashion show yang menggunakan Fortnite sebagai platform. Digital teknologi sekarang lebih penting daripada sebelumnya. Penggunaannya membantu kita tetap terhubung dan berhubungan dengan dunia luar.

Bagaimana cara melibatkan konsumen dalam transformasi digital industri fashion?

Charles : Kami sudah menggunakan tampilan – tampilan untuk menunjukkan teknologi digital yang diimplementasikan dan bagaimana mengemas pengalaman digital itu secara keseluruhan. Untuk promosi, kita perlu memanfaatkan kekuatan data, dan untuk keterlibatan konsumen, kita perlu menghidupkan kembali perputaran dan menciptakan ide-ide yang memicu perhatian tanpa kecuali. Mayoritas konsumen fashion memiliki akses untuk melihat tampilan – tampilan terkini di industri fashion dan tentunya internet. Tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua.

 
(Proses syuting)

 
(Team ketika bekerja)

Saran C + C & Co untuk fashion brand dan retail di Asia untuk perencanaan Post Covid-19.

Charles : Para brand – brand harus mempersiapkan diri untuk digital dari proses, promosi, dan bahkan lokasi bisnis mereka. Sementara itu, brand fashion mungkin ingin menyesuaikan kembali dan meluangkan waktu untuk mengenal bisnis mereka lebih baik, membuat orang kedua untuk mengkritik, dan tim ahli untuk memberikan wawasan.  Mereka juga dapat berpikir tentang menciptakan penawaran khusus dan menjadi lebih gesit dari sebelumnya. Dengan model bisnis direct-to-consumer, bahkan pemain bisnis yang lebih menonjol mengadopsi ini. Pikirkan pasar yang lebih besar dari pasar anda. COVID-19 telah membuktikan bahwa meskipun kita di karantina di rumah, sebagian besar bisnis elektronik (e-commerce retail business) dapat bertahan dengan sekarang pilihan pengiriman yang komprehensif dan bermanfaat, yang dimana berarti semakin kita harus keluar dari zona nyaman dan mencoba masuk ke yang lainnya.  Brand fashion harus membuat koleksi yang lebih didorong oleh hal – hal bermakna dan menjadi perhatian. Kedua ide tersebut adalah fokus sebelum menyebarnya COVID-19. Ide-ide ini akan menjadi norma (pedoman) untuk brand fashion masa depan karena orang-orang menyadari bahwa mereka tidak membutuhkan banyak pakaian di lemari pakaian mereka. Konsumsi berlebihan atau status tidak akan lagi menjadi dorongan untuk pembelian pakaian.

Tentang Janet Teowarang:

Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya. Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia di sektor Fashion dan Textile. Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award di Spanyol.

Photo: Dokumentasi Pribadi C+C & Co





Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.