twitter  
Profil  

Rabu, 27 Mei 2020 | 10:28 wib
Apakah Sustainable Fashion Masih Dapat Berlanjut Pasca Covid-19?
 

Ketika hal keberlanjutan di industri fashion Indonesia sedang ditingkatkan untuk kesadaran masyarakat akan limbah fashion, tekstil juga kesejahteraan pekerja dan pengrajin, pandemi Covid-19 memberikan dampak besar bagi stabilitas rantai pasokan hingga dipertanyakan bagaimana masa depan untuk sustainable fashion?Krisis dunia yang terjadi mendorong banyaknya industri fashion global terpuruk, menyebabkan penurunan drastic penjualan hingga 70%. Hal ini juga menyebabkan banyaknya pabrik garmen berjuang keras untuk membayar pekerja – pekerjanya karena pembatalan pesanan maupun pesanan yang tidak terbayarkan, sehingga berakhir dengan memberhentikan para pekerja akibat penutupan pabrik. Beberapa brand fashion global yang masih bertahan mereka menstrategikan restrukturisasi model bisnis dengan memperbaharui system di kalender musim peluncuran koleksi baru.

 

Bagi para pelaku industri sustainable fashion hal ini sangat merisaukan dimana mereka juga harus mengkonstruksikan kembali system dengan menghadapi realita baru.Menurut artikel dari para anggota di Sustainable Apparel Coalition (SAC) di kota San Fransisco, California bahwa akibat dari pandemi Covid-19 ini memberikan sinyal awal yang menunjukkan bahwa global krisis kesehatan akan meningkatkan permintaan konsumen secara keseluruhan akan produk yang terkait erat dengan kepercayaan, kesejahteraan, dan collective good (produk yang memiliki manfaat baik untuk diri kita sendiri) khususnya dalam kategori seperti makanan dan nutrisi, tetapi juga dalam kecantikan dan fashion, yang dianggap "dekat dengan tubuh". Saat konsumen membelinya dengan harga lebih sedikit mahal, akan tetapi lebih disadari karena memiliki harapan untuk keberlanjutan, mensejahterakan kondisi kerja, dan melakukan tindakan etis dalam rantai pasokan akan menjadi hal yang mutlak. Sarah Willersdorf dari Boston Consulting Group (BCG) sebagai creative consulting untuk fashion dan luxury menyampaikan “Keluar dari krisis, banyak hal akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik. Konsumen akan mengurangi belanja untuk persiapan masa mendatang, dan mereka akan jauh lebih selektif dengan pola pikir terhadap kualitas, nilai, dan keberlanjutan. Mereka akan peduli tentang dari mana fashion berasal, bahwa itu diproduksi secara etis, dan bahwa itu sama baiknya dengan lingkungan.”

 

Mempertahankan hal keberlanjutan merupakan perjuangan para pelaku industri fashion untuk tetap meningkatkan kolaborasi baik dengan para pengrajin dan rantai pasokan. Memahami pola pikir konsumen yang baru adalah penting bagi kita dan ini merupakan peluang baik untuk sustainable fashion memegang peranan penting dalam industri fashion. Seperti padahalnya, para pelaku industry fashion di Indonesia masa kini saling bekerja sama beralih mengerjakan masker maupun APD untuk bertahan, menyuarakan inisiatif sosial membantu tenaga medis dan masyarakat. Untuk terus mengangkat hal keberlanjutan di industri fashion Indonesia, sebaiknya kita meningkatkan rasa optimis dan kolaborasi pasca pandemic serta menambah nilai kreativitas secara etis. 

Tentang Janet Teowarang:

Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya. Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia di sektor Fashion dan Textile.Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award di Spanyol.

Photo: 
1. Salon Privé Magazine : FASHINNOVATION Key Takeaways
2. Infographic from Bronwyn Kienapple Article on venngage.com

Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.