twitter  
Profil  

Kamis, 11 Juni 2020 | 13:52 wib
Kreativitas Mendaur Ulang Bungkus Snack Menjadi Produk Fashion
 

Mendukung Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang ditetapkan setiap 5 Juni adalah peran kita semua untuk melestarikan lingkungan agar tidak semakin dipenuhi limbah.Fungsi dan tindakan kita dapat berupa mendaur ulang limbah maupun menggunakan bahan yang ramah lingkungan untuk hidup sehari – hari.

Untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Fashion Notes kali ini menghadirkan tiga mahasiswa Universitas Ciputra jurusan Fashion Produk Desain dan Bisnis: Elvira Angelica R Manik, Joana Evan dan Indyana Sukma. Mereka berupaya memberikan kontribusi dalam hal keberlanjutan untuk industri fashion dengan mendaur ulang bungkus plastik dan alfoil dari snack yang banyak dikonsumsi masyarakat. Fashion Notes membahas proses daur ulang bungkus snack dari sisi fashion yang dimana sebelumnya terdapat tren Eco – Friendly Bricks (batu bata) diinisiasikan oleh Rebricks di Jakarta. 

 
Elvira

 
Joana

 
Indy


Apa saja latar belakang inspirasi Elvira, Joana dan Indy mengolah bungkus snack menjadi sebuah tas?

Hasil karya kami merupakan proyek tugas di mata kuliah Fashion Design 4 bertujuan menciptakan suatu material yang memiliki value proposition sustainability, dengan ini permasalahan ‘sampah generasi micin’ kami angkat dan kembangkan. Kemasan makanan instan, snack biasanya terbuat dari alfoil (aluminium foil) untuk menjaga keawetanmakanan juga berfungsi sebagai perlindungan dari sinar ultraviolet, di bagian luarnya terdapat kandungan plastik guna menjaga kelembaban udara. Struktur kemasan tersebut membawa kami kepada suatu eksperimen dengan beberapa proses perubahan mencapai permukaan motif baru. Hal ini berguna mengangkat keindahan warna metalik dari proses metanize dan menyikapi perubahan lapisan plastik menjadi struktur perekat produk dengan memanaskannya sampai tingkat derajat tertentu.Setelah melakukan eksperimen pengolahan bungkus makanan ringan tersebut, kami percaya selain dapat menjawab permasalahan lingkungan, hal ini juga bisa menjadi bahan alternatif pengganti bahan kulit hewani untuk produk fashion, guna menjawab isu pengekploitasian hewan. Hasil didapatkan dari eksperimen adalah terciptanya tekstur bermotif yang keunikannya setara dengan motif kulit hewan tertentu, kekuatan dan keawetan bahan daur ulang, dan satu nilai lebih yaitu warna metalik alami dari metalized foil. 

 
Indy

 
Joana

Untuk inspirasi desain tas, apakah disesuaikan dengan jenis bungkus snack tertentu?

Elvira:Iya disesuaikan karena jenis bungkus bervariasi. Sejauh ini sudah dicoba dari berbagai tipe bungkus snack dan yang paling cocok digunakan lebih tebal sehingga ketika disetrika dengan suhu panas tinggi dapat menghasilkan tekstur yang diinginkan dan berubah menjadi kaku. 

Joana:Memilih mendesain tas yang simpel dan fungsional untuk kehidupan sehari – hari, selain itu diutamakan menonjolkan motif alami daribungkus snack tersebut. Saat mendesain, tentu disesuaikan dengan jenis bungkus snack melalui tingkat lapisan dan luas dari bungkusnya. Joana mewujudkan tas selempang (pouch bag) berukuran kecil dengan motif disesuaikan mengikuti ukuran tas dan alat pemanasnya. 

Indy: Sama halnya dengan Joana, Indy juga mendesain tas (bucket bag) yang simpel dan berukuran kecil. Setelah melakukan eksperimen ada beberapa bungkus snack yang sedikit mengandung foil dan lebih banyak terbuat dari bahan plastik (kandungan aluminium dalam bungkus snack sedikit). Ternyata bungkus snack berjenis ini tidak dapat diolah menjadi material pengganti kulit hewan karena sifatnya tipis dan mudah berkerut, bahkan meleleh jika terkena panas. Bungkus yang cocok digunakan Indy adalah berjenis tebal cenderung memiliki bagian aluminium berkilau, dapat mempertahankan bentuknya dengan tidak mudah meleleh dan memberikan tekstur kerut – kerut menjadi motif yang diinginkan.

 
Elvira

 
Joana

Bagaimana proses pengolahan bungkus snack tersebut? Mencapai motif yang diinginkan dan kendala yang dihadapi saat mendaur ulang alfoil ini?

Elvira: Awal proses adalah mencuci bungkus snack terlebih dahulu, lalu dipotong sesuai ukuran yang diperlukan. Untuk desain tas ini lembar bungkus dibagi dua setelah itu dilipat sebanyak dua kali dan disetrika dengan suhu panas maksimal. Hasil motif yang inginkan berupa kulit buaya dandiwarnai oleh cat besi. Bagi Elvira kendala yang dihadapi dalam proses pembuatan saat menyetrika lembar alfoil dengan suhu maksimal namun harus tetap stabil agar mendapatkan berbagai motif yang konsisten. Kendala lainnya ketika melakukan pewarnaan, mencoba berbagai macam teknik pewarnaan mulai dari menggunakan cat akrilik, stabilo, tinta, pylox dan cat besi. Namun, setelah melakukan beberapa eksperimen Elvira berhasil menggunakan cat besi semprot sebanyak dua lapisan lalu diberikan finishing dengan semprotan pylox clear.

Joana:Proses pengolahan bungkus snack untuk desain tas Joana menggunakan alat catok rambut (flat iron) dengan suhu panas tinggi. Setelah bungkus dibersihkan, dipanaskan menggunakan alat catok rambut untuk mendapatkan motif diinginkan. Hal ini merupakan proses kreatif yang membutuhkan ketelatenan akan tantangan mendapatkan motif berulang diinginkan, karena pembuatan lebih menggunakan “feeling” dan sangat sulit mendapatkan motif yang konsisten. 

Indy:Proses pembuatan produk tas Indy

a. Proses pertama dicuci terlebih dahulu menggunakan sabun pembersih, lalu bagian penyatu bungkus digunting sehingga menghasilkan lembaran alfoil. 
b. Dilipat menjadi dua bagian kemudian diletakkan dalam lapisan kertas coklat sebagai pembatas antara panas setrika dengan foil. 
c. Disetrika menggunakan suhu maksimal dengan cara didiamkan selama 10 detik tepat (tidak bisa kurang dan lebih karena akan berpengaruh terhadap bentuk motif yang dihasilkan) juga jangan digosok, caranya alat setrika dipindahkan kebagian lain setelah bagian awal melewati 10 detik. 
d. Setelah terbentuk hasil kemudian diberi warna menggunakan pewarna cat besi atau cat semprot pylox untuk metal. 

Kendala yang dihadapi Indy saat proses pembuatan adalah ketika proses setrika yang harus dalam waktu 10 detik dan tidak digosok untuk mendapatkan motif yang diinginkan sehingga menghasilkan tekstur timbul seperti motif kulit buaya. Karena jika tidak 10 detik hasil yang dihasilkan akan berbeda. Jika tidak sengaja digosok juga akan mengubah tekstur menjadi flat dan tidak menghasilkan tekstur kulit buaya. Kendala lain adalah ketika mencari pewarna yang tepat, sebab juga mempengaruhi hasil untuk mendapatkan lapisan warna merata dan melekat dengan baik di alfoil.

 
Indy

Bagaimana menyesuaikan desain tas dengan fungsi dan perawatannya?

Elvira:Desain tas ini dapat berfungsi dengan tiga gaya berbeda yaitu model sling bag, clutch dan waist bag untuk sehari – hari atau formal,terbuat dari bahan daur ulang alfoil maka ringan dan cukup tahan lama. Tas dapat berkapasitas muatan cukup banyak karena bahan tidak kaku.Perawatannya cukup fleksibel sebab bahan tidak mudah berjamur dan tahan air.

Joana:Saat mendesain tas, Joana ingin produk ini dapat digunakan menjadi beberapa fungsi yaitu neck bag, sling bag, dan juga dapat digantung di ban pinggang celana atau rok. Perawatannya sangat mudah, permukaan tas hanya diseka dengan kain dan air biasa karena tasnya sendiri 90% terbuat dari plastik. Untuk tali strap dapat dilepas dan dicuci tangan jika kotor. 

Indy:Fungsi utama produk Indy adalah menghasilkan aksesoris yang memiliki nilai lebih untuk lingkungan dan fashion berkelanjutan. Indy mengikuti tren dengan mendesain bucket mini bag yang sangat digemari anak muda menggunakan tekstur menyerupai kulit buaya dan pewarnaan unik.Seperti tas karya Elvira dan Joana, hasil karya Indy juga bersifat ringan, tahan air sehingga tidak perlu khawatir basah (karena ada beberapa bagian menggunakan PVC bening) dan tidak mudah kotor. 

 
Indy

Apakah ada ide selanjutnya mengembangkan bungkus snack atau sachet untuk jenis produk fashion lainnya? 

Elvira:Rencana selanjutnya ingin mencoba aplikasi hasil proses daur ulang bungkus atau sachet pada aksesoris fashion lainnya seperti anting, kalung, gelang yang dikombinasikan dengan bahan metal. 

Joana:Untuk ide berikutnya Joana ingin mencoba untuk membuat chest bag, waist bag, thigh bag, juga diaplikasikan pada pakaian. 

Indy: Untuk Indy ingin mencoba aplikasi daur ulang bungkus atau sachet ini pada aksesoris alas kaki seperti boots, dan sneaker. Material ini terbukti kuat dan tahan air, dikombinasikan dengan PVC agar terkesan modern.Sebenarnya Indy ingin mencoba menggunakan bahan daur ulang alfoil membuat sepatu sneakers, sayangnya waktu dan situasi saat ini tidak mendukung karena pandemi Covid-19.

Kedepannya mereka ingin mengembangkan sistem pewarnaan yang lebih aman untuk pemakaian, agar dapat lebih mendukung hal keberlanjutan dalam sisi penggunaan bahan tanpa senyawa kimia.

Tentang Janet Teowarang:

Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya. Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia di sektor Fashion dan Textile. Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award di Spanyol.

Photo: 
Dokumentasi pribadi Elvira Angelica R Manik, Joana Evan dan Indyana Sukma 
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.