twitter  
Profil  

Kamis, 01 Oktober 2020 | 10:40 wib
Mengenal Variasi Tie –Dye Yang Ramah Lingkungan
 
Humbang Shibori

Proses tie-dye atau disebut juga jumputan sudah dikenal lama dikalangan pecinta seni dan kerajinan termasuk industri fashion. Tie-dye yang identik dengan bentuk ekspesi diri melalui motif –motifnya karena dibuat sesuai dengan keinginan kita sendiri. Kehadiran tie-dye menjadi tren tahun 60an dan 70an berciri khas etnik dipadupadankan dengan pengaruh budaya Asia dan Timur Tengah melalui siluet, motif – motif eksotis dan pakaian bergaya kaftan. Pada tahun 70an berbagai pakaian tie-dye sangat popular digunakan dengan celana jeans bell bottom (cutbray) oleh para pengusung perdamaian (anti-war/peace movement) di Amerika Serikat karena perang Vietnam. Menurut Steele Marcoux diartikelnya berjudul “Inside The Colorful History of Tie-Dye” proses tie-dye ini merupakan proyek kerajinan saat karantina pandemi COVID-19 dimana untuk mengatasi kebosanan dengan kepuasan yang didapat dari membuat sesuatu. Tapi ini bukan pertama kalinya tie-dye menyebar keseluruh negeri selama musim kesuraman yang mendalam. Istilah tie-dye yang menggambarkan proses melipat, memutar, atau dengan teknik mempelintir tekstil sebelum mengikatnya dengan tali atau karet gelang dan kemudian mengaplikasikan pewarna, memasuki leksikon utama di Amerika pada 1960-an. Dekade yang dicirikan antara lain ketidakadilan dan kekerasan rasial, skandal politik, dan perpecahan atas perang tanpa akhir dimana hal-hal yang terdengar sangat familier di tahun 2020.

 
Shibori

Ketika tahun 90an saat saya masih belajar fashion di Singapura sudah cukup akrab dengan aktifitas tie-dye. Namun wawasan tentang pewarnaan alam maupun dorongan untuk fashion keberlanjutan memang belum menggema sehingga saya masih menggunakan bubuk pewarna sintetis yang biasanya dapat dibeli di toko perlengkapan menjahit. Hal paling menyenangkan bagi saya ketika membuat tie-dye adalah saat membuka karet-karet gelang tersebut karena mendapatkan motif-motif unik yang tidak akan sama jika mengulang proses tie-dye itu kembali. Kini karena sudah banyak mengenal banyak pewarnaan alam, maka saya lebih banyak menggunakan warna alami seperti rebusan daun, bumbu dapur maupun dari tanaman lainnya.

 
Afrika Indigo Tie-Dyed

Variasi tie-dye sangat beragam walaupun dengan proses yang sama, terdapat teknik Bandhani dari India yaitu teknik pewarnaan ikat yang sangat tradisional yaitu menghias tekstil menggunakan pewarna alam atau sintetis dan alat dijari menyerupai kuku sangat runcing untuk membuat ikatan-ikatan kecil membentuk desain dekoratif pada kain. Istilah Bandhani berasal dari kata kerja Sansekerta adalah bandh yang diartikan mengikat. Berikutnya adalah Shibori berasal dari Timur Jepang yang menggunakan pewarnaan alam berwarna biru disebut indigo, jika di Indonesia kita dapat menggunakan daun tarum untuk memperoleh warna biru. Brand fashion lokal Indonesia mulai banyak mengusung teknik shibori untuk karya desain mereka, bahkan salah satu brand lokal Purana menyajikan koleksi slow fashion di tahun 2019 bekerja sama dengan Humbang Shibori adalah rumah kreatif mengumpulkan para pengiat seni ikat celup dari Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasudutan di Sumatera Utara. Jika ditelusuri lebih dalam,walaupun Shibori adalah tie-dye namun terdapat beberapa perbedaan diantaranya teknik pembuatan yang lebih detil, menggunakan beberapa jenis ikatan dan hanya satu warna saja. Di Afrika bagian Barat dan Utara juga memiliki spesialisasi kain indigo tie-dyed, mereka menggunakan teknik area yang dijahit (adirealabare) atau ikat dengan komponen batu, stik maupun ranting (adireoniko) di kain katun, sehingga mendapatkan motif garis-garis unik menonjol, motif menyebar atau memancar yang dapat ditemukan pada jubah panjang, kemeja, tunik serta motif besar seperti putaran berulang (swirling) dikaftan dan pakaian tradisional Afrika yaitu bou-bou. 

 

Proses dan aplikasi tie-dye sangat mudah untuk dilakukan sendiri, teman she dapat bereskperimen dirumah cukup menggunakan kain katun berdaya serap baik, pewarna alam bisa dari campuran daun – daun yang direbus, bumbu dapur seperti kunyit, kulit bawang merah, dan lainnya. Setelahnya, hasil tie-dye cukup dibilas dengan air bersih lalu diangin-anginkan hingga kering. Selamat mencoba. 

Tentang Janet Teowarang:

Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya. Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia di sektor Fashion dan Textile. Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award di Spanyol.

Photo: 
1. HumbangShiborihttps://sinarmas.com/merajutharapan/wp-content/uploads/2019/01/Sinar-Mas-MerajutHarapan-Kain-Humbang-Shibori.jpg
2. Shibori
https://www.heroine.com/the-editorial/history-of-tie-dye
3. Afrika Indigo Tie-Dyed
https://www.heddels.com/2016/09/an-introduction-to-the-indigo-dye-styles-of-western-africa/
4. Bandhani Indian Tie-Dye 
https://www.clothroads.com/bandhani-indian-tie-dye-resist/


Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.