twitter  
Profil  

Kamis, 08 Oktober 2020 | 11:51 wib
Masker Kain dari Perspektif Para Desainer
 

Setelah Fashion Notes membahas tentang variasi masker kain serta acuan dari World Health Organization (WHO), untuk edisi ini menampilkan tiga narasumber kreatif yaitu para desainer di industri fashion.Mereka memiliki aliran berbeda juga dengan sudut pandang beragam tentang masker kain dan hasil karya mereka.

Sejak masker medis mengalami kelangkaan beberapa waktu lalu, para pelaku industri fashion berupaya berkontribusi agar tetap menghidupkan perputaran bisnis industri fashion Indonesia dengan memproduksi masker kain, bucket hat dengan plastik mika pelindung, jaket anti air /droplets hingga alat pelindung diri (APD) untuk disumbangkan, dijual maupun diperuntukkan bagi tenaga medis yang membutuhkan. Ketiga narasumber Fashion Notes kali ini sangat inspiratif karena mereka tetap mengutamakan keselamatan masker kain dari segala hal walaupun keunikan desain juga menjadi salah satu daya tarik masker kain yang diminati banyak konsumen terutama wanita.

Teman She pasti sudah akrab dengan Karla Jasmina telah beberapa kali sempat berbagi cerita traveling hingga tentang brand bridalnya di Fashion Notes. Karla yang mempunyai agenda padat setiap hari sebagai bridal designer dan fashion influencer tetap melaksanakan protokol kesehatan baik untuk dirinya dan lingkungan bekerja.Penggunaan masker aman penting dan wajib solutif jika Karla harus beraktifitas sehari penuh diluar rumah.Menurut Karla masker yang ideal tentunya adalah masker yang memenuhi standarisasi medis, namun memang sempat di awal – awal pandemi hadir masker medis menjadi langka sehingga hadirlah masker kain. Karla juga menambahkan dalam kondisi sekarang masker kain pun dapat dibentuk, dibuat hingga “cukup” memenuhi syarat seperti misalnya dengan filter pocket, bahan materi berpori – pori rapat dan disaat new normal sekarang ini, masker kain dapat didesain kreatif karena merupakan item yang wajib. Dikarenakan masker kain menjadi item fashion wajib demikian pula untuk setiap gaun yang dikreasikan oleh Karla Jasmina Brides dilengkapi dengan masker kain dengan bahan yang sama dan diperindah menggunakan lace (kain renda) dan manik – manik. Dari sudut pandang Karla sebagai desainer bahwa penggunaan masker kain yang aman, nyaman dan fashionable tidak bisa 100 persen seaman masker medis, jika diperuntukkan kebutuhan sehari – hari masih cukup mampu melindungi. Karla berpendapat masker kain bisa dikembangkan secara desain dan penggunaan bahannya dari memilih materi sebaik mungkin seperti kain waterproof atau water resistance (tahan air), lalu sebisa mungkin minimal 3 bahkan 4 ply dengan bahan bagian dalam yang aman dengan demikian droplets tidak dapat menembus masker kain tersebut. 

 

 

 

Selanjutnya Fashion Notes berbincang dengan Harumi Davita, fashion designer dan creative director dari slow fashion label BobaBabe berbasis di Surabaya sejak tahun 2014. BobaBabe adalah brand fashion Ready-to-Wear wanita yang diproduksi dengan praktek slow fashion, dimana seluruh karya desain dihasilkan memiliki sisi sustainabilitas dari materi yang digunakan dan life-cycle dari pakaian tersebut.Saat pandemi berlangsung BobaBabe juga memberikan kontribusinya untuk Indonesia tidak hanya membuat masker kain, namun juga menyediakan bagi masyarakat yang membutuhkan.Masker kain telah diproduksi BobaBabe dari sejak awal pandemi COVID-19 hadir di Indonesia dimana saat itu masker medis menjadi barang langka.Harumi menjelaskan bahwa awalnya BobaBabe memproduksi masker kain dari bahan sisa produksi yang merupakan kain baru, bukan bekas.Masker tersebut awalnya tidak dijual belikan karena langsung disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan secara mendesak.Akhirnya dikarenakan kebutuhan masker kain saat itu sangat banyak hingga bahan sisa produksi BobaBabe pun sampai benar – benar sudah habis, maka Harumi dan timnya harus membeli kain gelondongan baru untuk memenuhi permintaan konsumen dan relasi mereka. Saat itu BobaBabe memutuskan untuk menjual masker kain tersebut dengan hasil keuntungan penjualannya didonasikan untuk tenaga medis yang membutuhkan dukungan dana. Seperti halnya di tautan WHO, Harumi juga mengunggah tutorial di sosial media untuk cara membuat masker kain dengan pola yang sesuai sehingga teman – teman lainnya yang mempunyai keahlian menjahit bisa mendapatkan pemasukan tambahan dari membuat masker kain tersebut.Menurut Harumi sebenarnya masker kain BobaBabe secara bentuk sama dengan masker pada umumnya. Harumi menggunakan kain pilihan dengan jalinan serat yang rapat untuk memastikan droplets tidak mudah menembus di masker kainnya. Selain itu masker kain tersebut diberikan lapisan kain non woven yaitu spunbond sebagai filter di dalam masker sebagai perlindungan berlapis.Konsumen dapat menambahkan sendiri lapisan untuk filter di kantong pada masker BobaBabe dan wajib rapat agar tertutup bagian hidung, pipi hingga dagu dengan baik. Sebagai seorang fashion designer, Harumi mempunyai sudut pandang yang bijak yaitu karena pandemi ini, masker kain tidak lagi berfungsi hanya untuk fashion item tapi juga harus mampu melindungi pemakainya dari virus COVID-19. Oleh karena itu demi mengutamakan keamanan, disamping desain masker kain yang indah dan cantik harus dipikirkan bahan – bahan yang layak dipakai untuk dijadikan masker kain. Jangan sampai detil desain masker tersebut malah menambah kemungkinan untuk kuman serta virus menempel dan sulit untuk di bersihkan. Seperti contoh masker kain yang tembus pandang hendaknya pasti terlalu tipis, memiliki ornamen banyak sehingga butir – butir bakteri akan lebih mudah melekat di permukaan masker dan lebih sulit dicuci atau dibersihkan. Harumi juga berpendapat kedepannya pengembangan desain masker kain bukan saja pada bentuk masker dan jenis kain saja tetapi pada teknologinya.Pilihan masker yang mampu memberikan kenyamanan bagi penggunanya untuk bernafas dengan baik, tanpa berkeringat dan sekaligus memberikan perlindungan baik. Seperti halnya self-cleaning masker rasanya bisa menjadi sebuah inovasi yang di butuhkan apabila berhasil teruji dari sisi teknologi dan aman untuk digunakan.

 

 

 

 

Sebelum diskusi ini berakhir, Fashion Notes masih berdialog dengan narasumber berikutnya yaitu Fika Julia yang berasal dari Jakarta, seorang desainer tekstil memiliki textile design studio dengan brand Fika Julia. Fika mendesain berbagai motif tekstil unik dan kontemporer telah mengaplikasikannya ke tekstil. Fika Julia mulai memproduksi masker dari awal pandemi di bulan Maret 2020, dimana awalnya sama dengan Harumi Davita yang menggunakan sisa kain perca yang ada di rumah. Fika dan ibunya sama – sama seorang kolektor kain dan sangat suka menyimpan kain – kain, dikarenakan banyak kain tidak terpakai maka akhirnya Fika membuat masker. Kain – kain yang dikoleksi Fika adalah 80% kain katun jepang yang bermotif cantik dan lembut jika bersentuhan dengan kulit, jadi sangat nyaman untuk dibuat menjadi masker 3 ply (lapis). Selain itu terdapat beberapa kain dari sample print (hasil contoh cetak) dengan bahan polyester dan hanya digunakan untuk lapisan depan saja. Untuk bagian dalam filter dan lapisan dalam yang menyentuh kulit wajah tetap menggunakan bahan katun berpori rapat. Fika juga berpendapat sama dengan Harumi untuk pembuatan masker kain hal paling utama wajib mempertahankan penggunaan jenis bahan, setelah itu baru desain motifnya. Masker kain dengan bahan katun 100% dan 3 lapisan mengikuti yang dianjurkan WHO, untuk motif sebaiknya bersifat unisex sehingga bisa dipakai wanita atau pria dengan dominan warna gelap dan bermotif abstrak. Menurut Fika, masker kain bisa sekali berkembang dari segi desain dan penggunaannya bahannya terutama jika didukung teknologi canggih, karena masker sudah menjadi kebutuhan utama kita sekarang ini sehingga banyak orang akan mengkoleksi masker kain untuk dipadu padankan dengan pakaian mereka. 

 

 

Tentang Janet Teowarang:

Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya.Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia di sektor Fashion dan Textile.Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award di Spanyol.


Photo: 
1. Dokumentasi pribadi Karla Jasmina 
2. Dokumentasi pribadi Harumi Davita 
3. Dokumentasi pribadi Fika Julia 


Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.