twitter  
Profil  

Surabaya Kota Layak Anak?


Masihkah kita menyebut Surabaya Kota Layak Anak setelah ada kejadian perkosaan yang dilakukan anak-anak usia SD dan SMP. Total pelaku ada delapan orang, tiga diantaranya masih SD dan lima diantaranya berasal dari siswa SMP berbeda. Sedangkan korbannya, remaja putri kelas 1 SMP yang ternyata, sudah dibuat kecanduan pil Double L sejak SD oleh pelaku utama. Si pelaku utama masih tercatat sebagai siswa kelas tiga SMP.

Teman SHE, kami sempat wawancara Esthi Susanti Hudiono, Direktur Eksekutif Yayasan Hotline Surabaya yang concern dengan isu pelecehan seksual perempuan dan anak. Menurut Esthi, Surabaya saat ini darurat pil koplo dan darurat pornografi.

''Dulu kita dibuat kaget saat ada anak-anak SMA banyak yang tidak perawan. Saat ini, usia aktif seksual sudah SMP dan SD. Seksualitas di kalangan anak ini sangat serius karena mengakibatkan kecanduan seks. Dan ini sangat bahaya karena kaitannya dengan pornografi dan peredaran narkoba,'' kata Esthi.

Saat seseorang sudah seksual aktif, sekolah dan orang tua harus mendahului masa anak mengenal seksual aktif. ''Kognisi anak diisi dengan sikap dan prinsip yang benar dulu. Jadi anak punya batas sikap dan perilaku yang akan merugikan diri mereka,'' kata Esthi.

Hingga hari ini, kata Esthi, sikap sekolah dalam melihat kasus kenakalan anak ini sebagai tanggung jawab orang tua. ''Tapi kita tahu masyarakat miskin kota fungsi keluarga tidak berfungsi. Kalau kembali ke poin anak-anak terlantar dipelihara negara, nah ini fungsi sekolah,'' jelas Esthi.

Untuk itu, Esthi menawarkan revolusioner pendidikan di bidang keluarga dan sekolah. Seperti apa? Berikut kutipan wawancara Esthi.
INSPIRASHELAINNYA