twitter  
Profil  

Berlatih Bersama Gaya Belajar Ala Eropa
 
''Coba tuliskan fungsi garpu sebanyak-banyaknya dalam waktu tiga menit,'' bunyi instruksi dari Jesper Nørskov, dosen senior dari Business Academy Aarhus dalam acara INDOPED Dissemination Workshop di Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (25/10).

Segera saja instruksi ini direspon senyum oleh para peserta workshop yang terdiri dari para guru dan dosen. Banyak dari peserta yang hadir tampak bingung diminta menuliskan fungsi garpu sebanyak-banyaknya. ''Kalau Anda lihat jawaban anak-anak, mereka bisa menghabiskan selembar kertas untuk menulis apa saja guna garpu,'' kata Jesper kembali.

Setelah tiga menit, ternyata hanya ada beberapa peserta yang berhasil menulis fungsi garpu. Sisanya menulis fungsi garpu yang normatif untuk menahan makanan saat dimasak maupun dipotong. Tak lama Jesper menunjukkan gambar garpu yang bisa digunakan untuk penggaruk punggung dan ''senjata'' saat kondisi terdesak dalam bahaya. ''Inilah anak-anak. Mereka akan berpikir sangat kreatif hanya untuk satu benda. Mereka akan eksplor banyak hal untuk menemukan solusi dengan satu benda ini. Cara-cara sederhana ini adalah cara melatih kreativitas dan problem solving,'' kata Jesper.

Apa yang disampaikan Jesper bersama tim leader dari INDOPED adalah sedikit cara mengenalkan gaya pembelajaran Eropa untuk pendidik di Indonesia. Secara terpisah, Harto Pramono, PhD, Wakil Rektor I Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, mengatakan sebetulnya gaya belajar semacam itu sudah banyak dilakukan di Indonesia, hanya saja kurang konsisten. Akibatnya, pendidik di sekolah lebih banyak mengadopsi metode lama yang searah dan cenderung membuat anak-anak kurang antusias dengan ilmu pengetahuan dan kerap mengantuk.

Padahal menurut World Economic Forum ada sejumlah keahlian yang dibutuhkan di 2020 dan dirangkum dalam Top 10 Skill in 2020. Kesepuluh skill tersebut adalah problem solving skill, critical thinking, creativity, people management, coordinating with others, emotional intelligence, judgement and decision making, service orientation, negosiasi, cognitive flexibility.

Berikut kutipan wawancara SHE Radio bersama Harto Pramono, PhD, Wakil Rektor I Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
INSPIRASHELAINNYA