![]() | ![]() |
''Situs belanja yang berbasis karya desainer semacam kami memang bukan hanya satu di Indonesia. Jakarta, Bandung, dan Jogja sudah lebih dulu eksis dibanding Surabaya. Kami pun ingin mempromosikan karya lokal yang khas dengan strategi market global,'' kata Nabila Mahmudah, owner Lemari Lala. Berbeda dengan konsep online reseller, Lemari Lala menjamin produk yang dijual lebih eksklusif dengan desain dan material yang berkualitas baik. Beberapa desainer muda asal Surabaya yang bergabung seperti Yenny Zen (Mou Jo Clothing), Ade S. Bono (EMMU), Angki Triandini dan dan Dian Erlina Wibisono (Amoracle Accessories). ''Beberapa brand lain yang juga masuk di Lemari Lala seperti Dazz dan What Should I Wear,'' kata Lala, sapaan Nabila.
![]() | ![]() |
Menurut Lala, setiap desainer yang bergabung di Lemari Lala ini memiliki ciri dalam desainnya. Seperti Mou Jo yang mengangkat premium ready to wear dengan kain-kain lokal seperti Sasirangan, Jumputan, Tenun, Lurik, Batik tulis, Batik lukis, dan Batik Cap. Sedangkan EMMU karya Ade S. Bono mengusung ready to wear dengan gaya pop dan dominan pastel. ''Kita juga punya Amoracle yang menjual pernak-pernik mulai kalung Dreamcatcher, gelang, headband, dan masih banyak lagi,'' kata Lala. What you waiting for ladies?




