Porsi Perempuan Melawan Pesimisme
Merayakan ulang tahun SHE Radio kelima, SHE sempat mewawancara Dra. Pinky Saptandari, MA, akademisi dari Universitas Airlangga Surabaya. Tema dari wawancara via phone ini tentang peran perempuan melawan pesimisme.
Kata Pinky, peran perempuan dalam bidang ekonomi, psikologi, dan sosial masih seringkali diabaikan karena dianggap sewajarnya dilakukan. Dalam istilah asing dikenal taken for granted, lumrah. Sikap inilah yang membuat peran perempuan itu minor dan baru terasa pengaruhnya saat perempuan tersebut tiada.
Sebetulnya, kata Pinky, kita bisa melihat peran perempuan dalam tiga hal. Dari aspek spiritualitas misalnya, perempuan mengisi peran sebagai istri dan ibu dengan melatih keluarga selalu bersyukur dan bersabar saat menghadapi kondisi penuh tantangan atau penuh kemudahan. Pinky mengingatkan, bersabar yang disertai ikhtiar dan berusaha mengatasi masalah akan mempercepat diri keluar dari krisis.
Yang kedua, perempuan mengisi aspek psikologi. Apapun latar belakang pendidikan ibu, kata Pinky, ibu pasti mampu menjadi motivator untuk keluarganya agar bisa menjadi lebih baik. Jangan lupa, perempuan juga butuh dukungan psikologis. Kebutuhan untuk dihargai dan aktualisasi diri juga harus tercukupi.
Bila ingin melawan pesimisme artinya jangan bicara tentang kesalahan saja. Tunjukkan perilaku optimis agar orang lain bisa meniru. Jangan malu untuk mengakui keberhasilan orang lain karena itu bisa menjadi motivasi kita. Penggiat ekonomi kreatif pernah mengatakan, masa depan bangsa ini tergantung pada perempuan, netizen, dan generasi muda. Tiga potensi ini bila dikembangkan akan menjadi kekuatan yang luar biasa untuk kemajuan bangsa.
Sebetulnya, kata Pinky, kita bisa melihat peran perempuan dalam tiga hal. Dari aspek spiritualitas misalnya, perempuan mengisi peran sebagai istri dan ibu dengan melatih keluarga selalu bersyukur dan bersabar saat menghadapi kondisi penuh tantangan atau penuh kemudahan. Pinky mengingatkan, bersabar yang disertai ikhtiar dan berusaha mengatasi masalah akan mempercepat diri keluar dari krisis.
Yang kedua, perempuan mengisi aspek psikologi. Apapun latar belakang pendidikan ibu, kata Pinky, ibu pasti mampu menjadi motivator untuk keluarganya agar bisa menjadi lebih baik. Jangan lupa, perempuan juga butuh dukungan psikologis. Kebutuhan untuk dihargai dan aktualisasi diri juga harus tercukupi.
Bila ingin melawan pesimisme artinya jangan bicara tentang kesalahan saja. Tunjukkan perilaku optimis agar orang lain bisa meniru. Jangan malu untuk mengakui keberhasilan orang lain karena itu bisa menjadi motivasi kita. Penggiat ekonomi kreatif pernah mengatakan, masa depan bangsa ini tergantung pada perempuan, netizen, dan generasi muda. Tiga potensi ini bila dikembangkan akan menjadi kekuatan yang luar biasa untuk kemajuan bangsa.
