twitter  
Profil  

Senin, 11 Oktober 2021 | 10:29 wib
Hubungan Parasosial Antara Netizen dengan Influencer Saat Pandemi
 

Hubungan satu pihak atau hubungan parasosial, antara pengguna media sosial dan influencer berkembang di seluruh dunia, termasuk di Asia Tenggara, di tengah masa pandemi dan isolasi (lockdown) Covid-19 yang terus berlanjut. 

Sebuah studi global terhadap lebih dari 15.000 orang di 25 negara dari Kaspersky menemukan bahwa hampir setengah (47 persen) pengguna media sosial percaya bahwa influencer yang mereka ikuti telah memberi mereka 'pelarian dari kenyataan'. 

Mari kita lihat beberapa hasil studinya : 

1.Lebih dari tiga dari lima (61 persen) responden Asia Tenggara mengakui bahwa influencer membantu mereka melupakan dan melarikan diri dari kenyataan.

2.Secara global, setidaknya lebih dari satu dari lima (21 persen) percaya bahwa mereka 'bisa berteman' dengan influencer yang mereka ikuti, dengan data Asia Tenggara dua digit lebih tinggi dari rata-rata global sebesar 31 persen. 

3.Selain itu, 22 persen responden global juga mengaku telah mengirim pesan pribadi ke influencer. 

4.Terlepas dari sebagian besar fenomena virtual dari hubungan ini, lebih dari sepertiga (34 persen) pengguna media sosial bahkan telah bertemu dengan beberapa influencer yang mereka ikuti dalam kehidupan nyata, dan persentase tinggi sebesar 56 persen di wilayah Asia Tenggara.

Menurut kata David Emm, peneliti keamanan utama di Kaspersky, meskipun lebih dari setengah (56 persen) orang telah aktif di media sosial selama lebih dari satu dekade, banyak yang masih mencari tahu bagaimana untuk menyeimbangkan hal positif dari media sosial dengan yang negatif karena kita telah memasuki era baru di mana hubungan virtual sebuah hal yang umum. 

Hubungan parasosial ini sering kali dapat menyebabkan terlalu banyak berbagi atau oversharing di media sosial, karena orang-orang ingin terus mengembangkan hubungan ini. Namun, di sisi lain ini juga dapat menyebabkan sejumlah besar konsekuensi negatif dan tidak terduga–upaya peretasan dan phishing, doxing dan intimidasi, merugikan reputasi online, dan lain lain. 

Di sini menjadi jelas bahwa media sosial merupakan bagian penting bagi banyak orang selama pandemi, dengan hampir enam dari 10 (59 persen) secara global mengatakan media sosial telah menyediakan koneksi penting bagi mereka selama pandemi. Angka ini tertinggi di kalangan kelompok muda berusia 18-34 tahun (71 persen), yang cukup mengandalkan media sosial untuk konektivitas.



Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.