twitter  
Profil  

Jumat, 24 Desember 2021 | 12:44 wib
Ada Cerita Dibalik Simbol – Simbol Natal
 

Masuk ke bulan Desember, tempat perbelanjaan seperti mall misalnya, sudah pasti akan menyulap dirinya dengan tema Natal. Dekorasi berwarna merah dan hijau khususnya, menjadi bagian dari perayaan Natal yang memang tidak bisa dipisahkan, entah dari pohon cemara, kaus kaki sinterklas, hingga permen tongkat. Simbol-simbol Natal ikonik itu ternyata memiliki arti khusus dan sudah menjadi tradisi sejak masa lampau. 

Pohon Natal 
Pohon Natal menjadi simbol yang paling khas dalam perayaan Natal. Simbol ini bermula dari cerita Martin Luther yang pergi berjalan-jalan di hutan pada suatu malam dan terpesona oleh keindahan bintang-bintang yang menembus pepohonan. Dia kemudian memotong satu, membawanya pulang, dan menghiasinya dengan lilin untuk menciptakan kembali pemandangan tersebut untuk keluarganya. Idenya menyebar,dan sekarang Natal kurang lengkap tanpa pohon cemara, baik yang asli ataupun tiruan. 

Bintang di atas pohon Natal 
Banyak orang menghiasi pohon Natal mereka dengan bintang yang bersinar, dan yang lainnya menggabungkan desain ke dalam dekorasi mereka dengan cara lain. Bintang itu mungkin salah satu simbol Natal yang tertulis di Alkitab. Ini mewakili bintang yang muncul di langit setelah Yesus lahir, yang kemudian membimbing Tiga Orang Majus untuk mengunjunginya di Betlehem. Bintang tersebut juga mengingatkan orang Kristen untuk mengikuti Yesus seperti cahaya penuntun mereka sendiri.

Kaus kaki Natal
Orang-orang telah menggantung kaus kaki mereka di dekat cerobong asap dengan hati-hati setidaknya sejak 1800-an dan tidak ada yang tahu pasti bagaimana awalnya. Kisah paling populer mengatakan seorang lelaki tua khawatir tentang masa depan ketiga putrinya, karena dia tidak punya cukup uang untuk memberi mereka mahar pernikahan yang bagus. Santo Nikolas rupanya mendengar tentang penderitaan mereka dan ingin membantu tetapi tahu bahwa pria itu tidak akan menerima amal. Sebagai gantinya, lewat cerobong asap pria tua tersebut, Santo Nikolas memasukkan emas ke masing-masing kaus kaki anak perempuan, yang digantung di dekat perapian. 

Permen tongkat 
Pada 1670, seorang choirmaster di Cathedral of Cologne tidak dapat mencegah anggota paduan suara berbicara selama latihan untuk presentasi Nativity Scene yang akan datang, jadi dia ingin membagikan peppermint stick (suguhan populer saat itu) untuk membuat mereka sibuk. Dia meminta pembuat permen setempat untuk membengkokkannya menjadi bentuk kait gembala, untuk mengingatkan anak-anak bahwa Yesus adalah gembala yang baik, yang menjaga kawanannya tetap aman.  Permen berbentuk tongkat ini tersebar ke seluruh Eropa dan masih digunakan sampai sekarang. 


Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.