twitter  
Profil  

Selasa, 20 April 2021 | 11:57 wib
Pentingnya Mengetahui Penyakit Jantung Bawaan Sejak Dini
 

Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah kelainan pada struktur atau fungsi sirkulasi jantung dari lahir akibat gangguan perkembangan struktur jantung pada tahap awal perkembangan janin. Klasifikasi PJB terbagi menjadi nonsianotik dan sianotik. 

PJB merupakan defek kongenital yang paling lazim ditemui dan juga paling sering menyebabkan kematian, dengan rata-rata insiden 8 dari 1,000 kelahiran hidup dan dengan persentase insiden 30% dari seluruh penyakit bawaan. Selain itu, menurut PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), penyakit jantung bawaan menempati peringkat pertama diantara penyakit-penyakit lain yang menyerang bayi. Di Indonesia, terdapat 43.200 kasus PJB dari 4,8 juta kelahiran hidup setiap tahunnya.

Gejala yang muncul pada pasien dengan PJB dan kapan gejala tersebut muncul sangatlah bervariasi, tergantung dari jenis PJB yang diderita. Gejala dapat muncul sesaat setelah lahir, pada masa bayi, atau bahkan pada saat dewasa. Beberapa gejala yang dapat terlihat pada pasien dengan PJB antara lain gangguan dalam menyusu, berkeringat saat menyusu, kebiruan terutama di lidah dan selaput lendir mulut, gangguan pertumbuhan, gangguan aktivitas (misal pasien tampak tidak se-aktif teman-teman sebayanya), dan sesak napas. Pasien yang sudah lebih besar dapat mengeluhkan adanya nyeri dada saat beraktivitas.  Pada bayi dengan penyakit jantung bawaan umumnya mengalami gangguan saat menyusu. Bayi tidak dapat meminum ASI dalam jumlah banyak dan waktu yang lama (tersendat-sendat atau berhenti sejenak). Bayi banyak berkeringat terutama di bagian dahi saat minum ASI, kadang dapat disertai nafas yang terengah-engah atau bahkan muncul warna kebiruan di mulut, dan ujung-ujung kaki serta tangan. Bayi sering mengalami infeksi saluran nafas berulang dan berat badan bayi kurang dari rata-rata, tidak bertambah atau hanya bertambah sedikit setiap bulannya. 
 
Pada anak balita, gangguan pertumbuhan dan perkembangan terlihat lebih nyata. Anak dengan PJB umumnya mudah merasa kelelahan saat beraktivitas. Pada anak yang lebih tua, dapat mengalami sesak nafas saat tidur berbaring disertai bengkak pada wajah, perut, atau anggota gerak. Seringkali anak juga merasa berdebar-debar, disertai nyeri dada atau bahkan pingsan.

Hingga kini, penyebab spesifik terjadinya penyakit jantung bawaan masih menjadi perdebatan. Karenanya, upaya pencegahan penyakit jantung bawaan biasanya dilakukan sesuai dengan faktor resikonya. Salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kejadian PJB adalah kondisi kesehatan ibu selama kehamilan, terutama kondisi diabetes gestational, atau diabetes pada ibu hamil. 

Oleh karena itu, pada ibu penderita diabetes gestational, pencegahan dapat dilakukan dengan mengontrol kadar gula darah. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga pola makan yang baik, melakukan olahraga secara rutin, dan mengkonsumsi obat pengontrol gula darah yang diresepkan oleh dokter. Pencegahan PJB dapat pula dilakukan dengan mengkonsumsi asam folat yang cukup selama kehamilan, termasuk dengan mengonsumsi multivitamin asam folat, menghindari konsumsi alkohol dan merokok selama hamil, dan menjaga berat tubuh yang ideal sebelum dan selama masa kehamilan. Selain itu, melakukan vaksinasi juga dapat menjadi langkah pencegahan PJB, mengingat beberapa jenis penyakit, seperti rubella pada ibu hamil dapat memperbesar resiko terjadinya PJB pada janin yang dikandung. Beberapa jenis obat juga diketahui dapat memperbesar resiko terjadinya kelainan kongenital pada bayi ketika dikonsumsi oleh ibu hamil, contohnya obat golongan opioid. Karenanya, mengkonsultasikan obat-obatan yang dikonsumsi selama kehamilan dengan dokter dapat membantu mencegah risiko tersebut.

Pengobatan atau terapi yang dapat diberikan pada penderita PJB bergantung pada jenis dan tingkat keparahan penyakitnya. Secara umum, pengobatan atau tata laksana yang dapat diberikan adalah dengan melakukan operasi untuk memperbaiki jantung atau pembuluh darah anak, penggunaan kateterisasi jantung, dan/ atau transplantasi jantung, terlebih jika PJB yang dialami pasien cukup parah. Pemberian obat, misalkan untuk mengontrol detak jantung yang tidak teratur atau mencegah terjadinya pembekuan darah juga dapat dilakukan untuk mengontrol kondisi pasien dengan PJB.

Sumber : AMSA District 5 Project yang merupakan sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh seluruh Asian Medical Students’ Associations Indonesia (AMSA-Indonesia) yang tergabung sebagai bagian dari distrik 5 yang terdiri atas AMSA-UB, AMSA-UHT, AMSA-UMM, AMSA-Unair, dan AMSA-Jember. 

Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.