twitter  
Profil  

Jumat, 23 Juli 2021 | 12:16 wib
Long Covid Pada Wanita


Tidak sedikit orang yang masih mengalami sisa gejala selama beberapa minggu bahkan berbulan-bulan setelahnya atau long Covid walau hasil test terakhir menyatakan negative.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di University of Leicester, Inggris, ada sekitar 70% dari 1.000 responden penyintas Covid-19 yang mengaku masih mengalami gejala lanjutan setelah lima bulan sembuh, mayoritas di antaranya adalah wanita.

Penelitian ini sejalan dengan hasil studi sebelumnya di Prancis, yang menyatakan bahwa jumlah wanita yang menderita long Covid adalah empat kali lipat lebih banyak dibandingkan pria. Riset lain yang dilakukan University of Glasgow, Skotlandia, menyatakan bahwa perbandingan jumlah penderita long Covid pada wanita dan pria adalah lima banding satu.

Hasil studi di University of Leicester dan University of Glasgow sama-sama menyebutkan bahwa rentang usia dominan pada wanita penderita long Covid adalah antara 40 - 60 tahun. Bahkan, wanita di bawah 50 tahun juga dinyatakan punya risiko tujuh kali lebih tinggi mengalami sesak napas dan dua kali lebih tinggi mengalami gejala kelelahan dibandingkan pria, dalam rentang waktu tujuh bulan setelah sembuh.

Beberapa keluhan long Covid yang sering muncul, sakit kepala, batuk, cepat lelah, sesak napas, dan kehilangan penciuman. Survei terbaru yang dilakukan di Inggris mengidentifikasi 203 gejala long Covid lain, yang meliputi diare, gatal-gatal, telinga berdenging, perubahan siklus menstruasi, dan disfungsi seksual. Ada pula yang mengalami brain fog (linglung dan sulit berkonsentrasi), masalah kontrol kandung kemih, herpes, gangguan ingatan jangka pendek, dan halusinasi visual.

Meski hingga kini belum ada jawaban pasti, peneliti menemukan kadar CRP (C-Reactive Protein) dalam darah yang lebih tinggi daripada nilai normal pada penyintas Covid-19 yang sembuh dalam lima bulan. CRP sendiri adalah protein yang terkait dengan kondisi peradangan di dalam tubuh. Tingginya kadar CRP tersebut kemungkinan terjadi akibat respons imunitas tubuh yang terlalu aktif (autoimun) dalam memerangi virus penyebab Covid-19 yang biasa ditemukan pada wanita berusia paruh baya.

Karena itu, meski masih harus diteliti lebih lanjut, peneliti meyakini bahwa salah satu langkah yang bisa diambil untuk menghindari long Covid dengan vaksinasi.
Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.