twitter  
Profil  

Selasa, 30 Agustus 2022 | 20:24 wib
Strategi Menghadapi Masalah Keluarga
 

Dalam kehidupan bersosial kita sebagai manusia sering menjumpai seseorang yang "sulit" ataupun kurang cocok dengan diri sendiri sehingga di beberapa situasi kita perlu merasa mencari cara untuk menghadapi mereka. Tidak semudah menghadapi orang lain yang "sulit", menghadapi keluarga yang membuat tidak nyaman jauh lebih sulit daripada yang dapat dibayangkan. 

Anggota keluarga dapat menjadi seseorang yang paling sulit untuk dihadapi, baik itu keluarga besar yang bertemu hanya satu tahun sekali, maupun keluarga terdekat, karena hubungan yang dimiliki dengan keluarga lebih rumit dari yang bayangkan. Bertemu dengan keluarga yang bertanya, "kapan nikah?", "kapan punya anak?", "kapan wisuda?" , atau bahkan terjebak di pertikaian warisan, bukanlah hal yang mudah utnuk dihadapi.

Jika kita menemui seseorang yang "sulit" di luar sana, kita dapat dengan mudah menghindar atau memutuskan untuk tidak menemui mereka lagi, namun berbeda dengan keluarga. Permasalahan dengan anggota keluarga lain jauh lebih sulit karena dapat berefek kepada seluruh anggota keluarga. Jika kita tidak dapat hidup baik dengan keluarga dapat menyebabkan stres berkelanjutan bahkan bisa mengakibatkan trauma terhadap keluarga.

Lalu, bagaimana kita menghadapi seseorang yang 'sulit' dan kurang disukai tersebut, namun tetap harus bertemu karena mereka adalah keluarga?

1. Berhenti mencoba memperbaiki orang lain
Atur ekspektasimu dan terima mereka apa adanya, karena untuk mengubah seseorang di beberapa waktu bisa berhasil dan bisa tidak. Terima bahwa mereka bukan orang yang mudah untuk berubah. Ingat bahwa bukan tanggung jawab kita untuk mengubah mereka.

2. Perhatikan topik yang menjadi pemicu emosi kita
Di dalam pertemuan keluarga, pasti akan ada banyak topik yang dibicarakan, mulai dari pendidikan, harta, percintaan, dan lain-lain. Dalam menghadapi masalah keluarga, kita perlu mengetahui topik apa yang menjadi pemicu pertengkaran. Pengalaman sebelumnya tentu akan memberikan pemahaman kepada kita bagaimana kita harus bertindak saat anggota keluarga kita mulai membicarakan topik yang sensitif. Dalam kondisi seperti itu, hindari memberikan pendapat dalam pembicaraan yang berlangsung.

3. Biasanya, ini bukan tentang kita
Dalam sebuah pembicaraan dengan anggota keluarga, kita bisa merasa diserang atau merasa tidak disukai oleh anggota keluarga yang lain. Namun, seringkali masalahnya terletak pada topik, perbedaan pendapat, atau cara menanggapi yang membuat anggota keluarga kita merasa kesal. Bukan karena kita secara personal. Kita perlu menghadapi dan melihat semuanya secara luas dan tidak tergesa-gesa berpikiran negatif.

4. Kesejahteraan (well-being) kita adalah yang utama
Buatlah batasan antara kita dengan anggota keluarga. Kita perlu memiliki "ruang aman" untuk melindungi diri. Bangun batasan untuk diri kita dengan tidak memperbolehkan seseorang masuk ke dalam "ruang aman itu". Sehingga saat ada hal tidak nyaman terjadi, kita memiliki tempat untuk menenangkan diri dan menstabilkan kembali emosi kita.

(Psychology Today)