Ibu Perlu Tahu, Begini Risiko Bayi Lahir Prematur
|
Ibu, pastikan selalu jaga asupan nutrisi selama masa kehamilan ya, karena selain diperlukan guna menjaga kesehatan ibu dan janin, juga bisa mencegah risiko kelahiran prematur.
“Berbeda dengan bayi cukup bulan, pada bayi prematur terdapat ketidakmatangan sistem organ tubuh yang menyebabkan bayi prematur berisiko tinggi mengalami berbagai masalah kesehatan hingga kematian,” jelas dr Mahendra Tri Arif Sampurna, SpA(K) PhD.
Dokter Mahendra menjelaskan jika bayi prematur memiliki banyak sekali komplikasi mulai dari pernafasan, masalah jantung dan berbagai ketidakmatangan sistem organnya. Kalaupun survive, nantinya juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan, sehingga dengan penanganan adekuat sejak dari dalam kandungan kemudian setelah lahir, akan membantu bayi prematur ini untuk bisa lebih beradaptasi di lingkungan luar.
“Jadi yang seharusnya dia (janin), belum waktunya keluar dari kandungan tetapi setelah itu dia keluar untuk mendapatkan perawatan yang lebih optimal sehingga tumbuh kembangnya menjadi lebih baik,” jelasnya.
Kasus bayi prematur, kata Mahendra saat ini menjadi program prioritas riset nasional sebab menduduki tingkat kematian yang tertinggi setelah bayi asfiksia atau gagal nafas. Permasalahan prematuritas inilah yang mendorong Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) memberikan gelar Adjunct Professor kepada Prof Cheah Fook Choe, FASc, MD., PhD dari University of Malaysia, yang akan bertugas di Unair tujuannya dengan transfer ilmu terkait neonatologi dapat meningkatkan kualitas pelayanan dalam penanganan bayi prematur.
|
Prof. Dr. Budi Santoso, dr., Sp.OG (K) Dekan FK UNAIR menyampaikan, nantinya tugas Prof Cheah Fook Choe, di antaranya, memberikan perkuliahan buat mahasiswa S1 maupun spesialis yang terkait bidangnya, melakukan riset kolaborasi, melakukan kolaborasi publikasi bersama-sama dan juga menjadi promotor dari PHD program.
Sementara itu, Dr. Risa Etika, dr., Sp.A(K) Kepala divisi neonatologi FK Unair menambahkan permasalahan neonatus yang berujung hingga kematian masih tinggi di Indonesia. ”Bayi yang cukup bulan saja cukup rentan apalagi bayi prematur,” jelasnya. Kasus tertinggi penyebab kematian pada bayi prematur yaitu, gagal nafas, prematuritas dengan segala aspeknya dan infeksi. Untuk mengurangi risiko tersebut, Dokter Risa Etika mengingatkan tentang pentingnya memperhatikan nutrisi yang diberikan pada anak, terutama pada 1000 Hari Pertama Kelahiran atau yang biasa disebut Golden Period.
(Manda)


