twitter  
Profil  

Rabu, 13 April 2022 | 13:09 wib
UU TPKS Resmi Disahkan
 

Pada Rapat Paripurna DPR 12 April 2022, secara resmi disahkan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual atau UU TPKS yang tentu saja disambut bahagia banyak pihak terlebih oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). Undang-Undang TPKS juga telah membuat terobosan hukum dengan mengadopsi 6 elemen kunci payung hukum yang komprehensif untuk penanggulangan tindak pidana kekerasan seksual, yaitu dengan mengatur : 

1.Tindak pidana kekerasan seksual
2.Pemidanaan (sanksi dan tindakan)
3.Hukum acara khusus yang hambatan keadilan bagi korban, pelaporan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di pengadilan, termasuk pemastian restitusi dan dana bantuan korban
4.Penjabaran dan kepastian pemenuhan hak korban atas penanganan, perlindungan dan pemulihan melalui kerangka layanan terpadu; dengan memperhatikan kerentanan khusus termasuk dan tidak terbatas pada orang dengan disabilitas. 
5.Pencegahan, peran serta masyarakat dan keluarga
6.Pemantauan yang dilakukan oleh Menteri, Lembaga Nasional HAM dan masyarakat sipil

Terkait pengaturan tindak pidana kekerasan seksual, dalam UU TPKS ada sembilan tindak pidana kekerasan seksual yang sebelumnya bukan tindak pidana atau baru diatur secara parsial yaitu : 

1. Tindak pidana pelecehan seksual nonfisik
2. Pelecehan seksual fisik
3. Pemaksaan kontrasepsi
4. Pemaksaan sterilisasi
5. Pemaksaan perkawinan
6. Penyiksaan seksual
7. Eksploitasi seksual
8. Perbudakan seksual
9. Kekerasan seksual berbasis elektronik. 

Selain pengaturan sembilan tindak pidana tersebut, UU TPKS juga mengakui tindak pidana kekerasan seksual yang diatur dalam undang-undang lainnya, yang karenanya maka kedepannya hukum acara dan pemenuhan hak korban mengacu pada UU TPKS.

Dengan sahnya Undang-undang ini, Komnas Perempuan merekomendasikan agar DPR RI dan Pemerintah kedepannya memastikan aturan pengaturan perkosaan dan pemaksaan aborsi yang komprehensif dalam RKUHP beserta pasal jembatan yang akan memungkinkan korban perkosaan dan pemaksaan aborsi dapat mengakses hak-hak selama penanganan kasus dan pemulihan sebagaimana dimuat dalam UU TPKS.

(Femina)

Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.