twitter  
Profil  

Rabu, 03 Agustus 2022 | 12:46 wib
Gedogan : Tenun Gedog dan Batik Tuban Kontemporer Karya Winnie Nettabella
 

Mengangkat Wastra Indonesia berkonsep keberlanjutan fashion sudah cukup bervariasi di kalangan desainer di industri fashion Indonesia terutama tetap mempertahankan kearifan lokal dengan gaya yang kontemporer. Hal ini menjadi inspirasi salah satu mahasiswa tugas akhir program studi Fashion Produk Desain dan Bisnis Universitas Ciputra, Winnie Nettabella. Winnie telah menunaikan semester akhirnya pada bulan Juni lalu mempresentasikan karyanya di fashion show dan pameran tugas akhir di Ciputra World Surabaya. 

 

Isu – isu berkaitan dengan lingkungan, kesejahteraan pekerja dan lainnya di konsep keberlanjutan fashion selalu berkembang, seperti halnya serat sintetis yang diupayakan tidak terus menerus mencemari sungai, tanah dan udara. Melansir dari situs web Filtered by Planet Care bahwa pentingnya menghentikan polusi serat sintetis microfiber di saluran air agar mencapai zero plastic waste di laut. Perancis menjadi negara yang memimpin langkah legislative untuk berjuang melawan polusi plastik microfiber dengan mengupayakan semua mesin cuci baru di Perancis mulai Januari 2025 menyertakan filter microfiber untuk mencegah limbah dari pencucian pakaian berserat sintetis mencemari saluran air. Perancis memperkirakan dalam 5 tahun ke depan akan menghindari 500 Ton serat sintetis microfiber. 

Temuan penelitian tentang serat sintetis ini yang membuat Winnie memilih penggunaan bahan baku serat kapas, pewarnaan alam pada tenun gedog dan batik Tuban. Menurut Winnie pemilihan ini tidak hanya ramah lingkungan tapi juga mengandung unsure kearifan lokal dan keberlanjutan karena dibuat oleh artisan tenun, batik lokal.Selain itu pentingnya mengolah tenun gedog menjadi busana berestetika dan kontemporer agar dapat diterima generasi millennial maupun Z menjadi dorongan Winnie menciptakan koleksi sustainable fashion berupa occasion wear untuk target market wanita dewasa berusia 22-36 tahun. 

Koleksi women’s occasion wear sustainable fashion ini menggunakan motif batik khas Tuban yang dikembangkan yaitu kembang jati, lurik dan burung guntingan dikomposisikan ulang agar tidak terlihat sangat tradisional. Motif disusun untuk menghasilkan potongan pakaian seamless (menyesuaikan motif dengan pola dari desain pakaian) terutama sambungan potongan di bagian samping (side seams) dan belakang (center back). 

Berbagai kendala saat berproses dialami Winnie yang awalnya mengira akan mudah berinteraksi dengan artisan mengikuti inovasi motif dan warna diinginkannya. Mengacu dari jurnal – jurnal yang pernah dipelajari Winnie di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban terdapat beberapa artisan tenun dan batik yang dapat custom order, namun kenyataannya tidak semudah itu menemukan artisan tenun gedog yang sudah jarang, bahkan masyarakat lokal di Kabupaten Tuban mereka tidak mengetahui keberadaan artisan – artisan tersebut. Untuk artisan batik karena keberadaan tenun gedog sudah tidak banyak maka mereka mulai membatik di kain katun misris, sehingga Winnie mengalami kesulitan mencari artisan batik yang telaten karena membatik di tenun gedog tidak mudah, jalinan tenunnya renggang, tidak rapat. 

Setelah akhirnya kemudian mendapatkan artisan tenun dan batik yang dapat berkolaborasi, Winnie berprosesmen desain dan mengolah kain tersebut menjadi 5 tampilan koleksi women’s occasion wear sustainable fashion dengan paduan warna, potongan yang versatile supaya berfungsi di berbagai kesempatan acara semi-formal atau formal. Winnie juga menggunakan kombinasi tekstil lainnya untuk melengkapi koleksi ini seperti kain linen, sutra dan organza sutra memberikan keseimbangan pada kain tenun yang cenderung kaku dan berpermukaan kasar. 

 

 

 

 

Hasil karya indah Winnie menghantarkannya meraih Best Design saat event fashion show karya tugas akhir FASHIONOLOGY di pertengahan Juni lalu. Marini Yunita Tanzil dan Rahayu Budhi Handayani selaku dosen pembimbing menjelaskan empat poin yang dinilai untuk kategori ini yaitu orisinalitas desain, muatan lokalisme, konsep sustainability dan pengolahan material: tenun ATBM, batik tulis, pewarnaan alam. Kronologi Klambi, brand fashion yang diwujudkan Winnie Nettabella di tugas akhir ini meraih nilai tertinggi di keempat poin tersebut untuk koleksi Gedogan. 

 

 

Setelah lulus, Winnie masih akan tetap melanjutkan brand fashionnya dan sesi di Apple Academy yang masih berlangsung hingga akhir tahun.

“Kebudayaan tidak dapat dipertahankan saja, kita harus berusaha mengubah dan memajukan, oleh karena kebudayaan sebagai kultur, sebagai barang yang tumbuh, dapat hilang dan bisa maju”. Mohammad Hatta (Bung Hatta)

Tentang Janet Teowarang :

Janet Teowarang merupakan founder dan creative director brand fashion miliknya yaitu Allegra Jane, selain itu Janet juga menjadi dosen di Universitas Ciputra Surabaya. Janet meraih Australia Awards dari Pemerintah Australia di sektor Fashion dan Textile. Karyanya juga telah dipresentasikan di Indonesia Fashion Week, Mercedes Benz Asia Fashion Award dan mengikuti kompetisi Mango Fashion Award di Spanyol. 

Referensi foto:
Dokumentasi Pribadi Winnie Nettabella

Komentar (0)
LOADING...

Kirim Komentar Anda
Silakan masuk atau daftar untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.