twitter  
Profil  

Rabu, 23 April 2025 | 13:09 wib
Fenomena Fatherless, Ketika Anak Kehilangan Figur Ayah Secara Fisik dan Psikologis
 
 

Fatherless merupakan sebuah fenomena ketidakhadiran peran ayah dalam pengasuhan baik secara fisik maupun secara psikologis. Sebagai jawaban atas fenomena meningkatnya kondisi  minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, diresmikan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan pelayanan vasektomi serentak secara nasional, Senin (21/4/2025).

Kegiatan ini dipusatkan di Gedung Islamic Center, Majalengka, Jawa Barat, dan diikuti secara virtual di kantor BKKBN Provinsi Jawa Timur. Kepala BKKBN, Haji Wihaji, dalam sambutannya secara virtual, menekankan pentingnya kesinambungan gerakan ini. “GATI lahir sebagai respon atas fenomena berkurangnya kedekatan antara anak dan ayah di era digital. Banyak anak-anak lebih sering berkomunikasi dengan ponsel dibanding dengan ayahnya sendiri. Ini yang harus kita ubah,”ujarnya.

Program GATI bertujuan untuk mendorong peran ayah yang aktif, hadir, dan menjadi teladan dalam keluarga. Program ini mencakup seminar, workshop, kampanye Ayah Mengantar Sekolah, serta pembuatan konten edukatif digital seperti video, infografis, dan e-book. Selain edukasi, peluncuran GATI juga dirangkaikan dengan pelayanan vasektomi serentak atau Metode Operasi Pria (MOP), sebagai bentuk partisipasi pria dalam program Keluarga Berencana. 

Dra. Maria Ernawati, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur, menjelaskan bahwa layanan ini digelar serentak di 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur, dengan target 262 akseptor pria. Sementara itu Nyoman Firmann praktisi parenting dan Andi Yudha Asfandiyar pendiri PICU PACU Kreativitas Indonesia, keduanya menyoroti pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan sebagai pondasi pembentukan karakter dan kemandirian anak. 

Para narasumber juga sepakat, fenomena fatherless ini tidak dapat dianggap sebagai masalah yang sepele.  Kehadiran ayah, meski tidak selalu secara fisik, bisa tetap dirasakan lewat komunikasi yang intens dan perhatian yang tulus. Lewat BKKBN, mereka berharap dapat membentuk budaya pengasuhan yang suportif, setara, dan berkualitas, sekaligus memperkuat fondasi keluarga Indonesia di tengah tantangan zaman.

(Press release)