Pameran Segue#2 - Lim Keng : Breath of Lines Resmi Dibuka
|
Pameran Segue#2 - Lim Keng : Breath of Lines resmi dibuka pada 22 Agustus 2025 dan akan berlangsung hingga 14 September 2025. Pameran ini dikuratori oleh Suwarno Wisetrotomo dimana mengangkat mengenai perjalanan lima dekade karya-karya sketsa Lim Keng yang ditampilkan dalam presentasi pameran arsip di Orasis Art Space.
Kita diajak menyaksikan karya-karya Lim Keng sambil membayangkan kembali lanskap-lanskap dan peristiwa yang pernah terjadi di Surabaya dan sekitarnya. Seperti dalam karyanya yang menggambarkan riuhnya Alun-Alun Contong yang saat ini sudah beralih fungsi atau pasar sapi di daerah Wiyung yang saat ini sudah jarang ditemui sapi disana. Seolah-olah kita diajak bernostalgia sembari mempertanyakan kembali tentang perubahan di kota kita beserta dengan peristiwanya.
|
Dalam dunia seni rupa, karya sketsa tidak bisa bohong, apa adanya, meski kadang apa yang dilihat dan diidealkan, bisa berbeda hasil ketika digariskan pada bidang gambar, dan tidak bisa dikoreksi. Salah satu cara mengoreksi adalah membuat sketsa lagi pada kertas berikutnya. Apa yang ditangkap itulah yang dihadirkan, seperti merekam sebuah momen. Itu kenapa dalam berkarya, Lim Keng lebih senang membuat sketsa langsung di lapangan. Ia memiliki pendekatan yang unik dalam berkarya yang membuat eksplorasinya dalam sketsa membawanya ke berbagai teknik, dari pena, lidi, ranting kayu, hingga metode unik menggunakan botol cuka berisi tinta.
Sosoknya dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tekun. Dalam wawancara bersama Nuzurlis Koto, seniman sekaligus teman Lim Keng, dia menjelaskan.“Lim Keng itu tidak banyak omong, agak pendiam tetapi cukup perhatian terhadap seni lukis dan ia benar-benar menggeluti itu. Katakanlah baginya, berkarya itu untuk kehidupan bukan untuk hidup,” cerita Nuzurlis.
Lim Keng (1934 - 2009) memang tidak banyak bicara secara verbal melainkan ia berbicara lewat karyanya. Nuzurlis sekaligus mengajak kita menjelajahi lebih lanjut dan melihat bagaimana sebuah garis berubah dari awal periode hingga sekarang. Pada tahun 70-an, garis masih sederhana, rata, tanpa irama. Kemudian, menjelang akhir hidupnya, karyanya bertumpu pada objek tunggal, banyak kosong dalam kanvasnya. Seolah semakin lama, ia semakin arif, tidak memerlukan apa-apa lagi.
|
Pameran ini juga terasa penting ketika kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan memengaruhi terjadinya perubahan dan pegeseran, bahkan krisis, diberbagai ruang dan lini kehidupan. Sketsa-sketsa dalam pameran ini adalah arsip kehidupan urban dalam sepenggal waktu oleh salah seorang penyintasnya: Lim Keng.
|
Perjalanan Segue ini merupakan tahun ketiga setelah Orasis Art Space memulainya pada tahun 2022. Secara bahasa, Segue berarti meneruskan. Orasis mengambil kata tersebut sebagai upaya menyambung dan meneruskan arsip-arsip karya dari seniman kawakan, yang dimulai dari Surabaya.
Tahun 2022 Segue hadir di samping judul Monographic Exhibition (21/12/2022 - 22/01/2023) yang menampilkan perjalanan sepanjang 20 tahun Orasis bertumbuh bersama seniman lokal dan ekosistem kreatif di sekitar dengan presentasi pameran karya-karya koleksi Orasis yang dimulai dari berdirinya Pelangi Nusantara Art Gallery tahun 2002 hingga berubah menjadi Orasis Art Space, tahun 2022.
Tahun 2023, Orasis memulai riset yang akhirnya membawa perjalanan kami pada Segue#1 - O. H. Supono - Supercut of Life (20/09 - 13/10 2024) yang menampilkan potongan-potongan hidup sosok O. H. Supono kepada publik hari ini.
Ogeng Heru Supono (1937-1991) dikenal melalui lukisan khas gaya borobudur. Lukisan Borobudur karya O.H. Supono ini merupakan sebuah episode atau seri lukisan yang menjadi salah satu sorotan dari karir Supono yang membawanya pada puncak keemasan dan merupakan salah satu karya terakhir yang beliau selesaikan pada akhir masa hidupnya.
Di tahun ketiga ini, Orasis tetap meneruskan upaya untuk mengangkat kembali peran tokoh seniman penting dalam sejarah seni rupa Indonesia, khususnya di Surabaya. Banyak seniman dari era kemerdekaan hingga 1980-an telah terlupakan baik di kalangan pelaku seni maupun masyarakat umum.
|
Karenanya, mereka berupaya dan berkomitmen untuk merawat dan menghormati kontribusi panjang yang telah dibuat oleh para seniman di Surabaya dan sekitarnya. Kali ini mereka mempersembahkan Segue #2: Lim Keng - Breath of Lines.
Pameran ini terbuka untuk publik dengan reservasi tiket yang bisa diakses melalui laman orasis.art atau apabila merasa kesulitan untuk reservasi dapat DM/komen di instagram @orasisartspace. Tiket juga bisa diakses secara on the spot.
(Press release & foto by Sesha)





