twitter  
Profil  

Senin, 27 April 2026 | 11:33 wib
Prihatin Kali Tebu Penuh Sampah, Ini Intervensi Ecoton bersama Pemkot Surabaya
 

Ibu, pasca sidak Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi pada 21 April lalu, kondisi Kali Tebu mulai menjadi perhatian serius karena tingkat pencemaran yang cukup tinggi. Sungai yang melintasi kawasan padat penduduk tersebut menanggung beban sampah, terutama plastik dari aktivitas rumah tangga yang berpotensi mengalir hingga ke laut. 

Menjawab persoalan itu, program MOZAIK (Mission for Zero Plastic Leakage) yang diinisiasi lembaga lingkungan hidup yang bermarkas di Kabupaten Gresik, Ecoton (Ecological Observation and Wetland Conservations) bersama sejumlah pihak melakukan intervensi di Kali Tebu, pada Sabtu (25/4/2026).

Salah satu langkah yang ditempuh adalah pemasangan alat pencegat sampah atau trashboom di segmen tengah, mencakup wilayah Kelurahan Tanah Kali Kedinding dan Sidotopo Wetan.

 
 

Dalam 24 jam pertama sejak pemasangan Bu, tim MOZAIK Ecoton berhasil mengangkut total 907 kilogram sampah. Dari jumlah tersebut, sebanyak 757 kilogram merupakan sampah anorganik, sementara 150 kilogram lainnya tergolong sampah organik.

Koordinator Tim Evakuasi Sampah Trashboom, Heri Purnomo, menyampaikan bahwa temuan ini menjadi pijakan awal untuk memahami karakteristik sampah di Kali Tebu.

“Hasil pengangkutan ini memberikan gambaran nyata kondisi sampah sungai setelah dipasang selama 24 jam. Program ini akan mulai berjalan lebih efektif pada bulan Mei, yang rencana kami akan memasang trashboom permanen setelah membentuk satgas Kali Tebu,” ujarnya dalam keterangan resmi Ecoton.

Rencananya Bu, pemasangan trashboom akan berlangsung selama 18 bulan dan mencakup tiga segmen Kali Tebu. Segmen hulu berada di Kelurahan Kapas Madya Baru dan Simokerto, segmen tengah di Sidotopo Wetan dan Tanah Kali Kedinding, serta segmen hilir di Bulak Banteng dan Tambak Wedi.

Selain berfungsi menahan sampah agar tidak terbawa ke laut, sistem ini juga dilengkapi dengan pengelolaan lanjutan. Sampah yang telah dikumpulkan akan melalui dua tahap penyortiran, yakni pemilahan berdasarkan jenis hingga sekitar 30 kategori material, kemudian dilanjutkan dengan pemilahan berdasarkan warna untuk meningkatkan kualitas daur ulang. Setelah itu, sampah dipadatkan melalui metode press sebelum disalurkan melalui kerja sama dengan Bank Sampah Induk Surabaya.

Tidak hanya berfokus pada pemasangan alat, MOZAIK Ecoton juga menjalankan pendekatan berbasis masyarakat di enam kelurahan. Kegiatannya meliputi pengelolaan sampah sungai, pembersihan rutin dengan melibatkan warga termasuk pembentukan satuan tugas, pengurangan sampah dari sumber melalui pemilahan dan praktik guna ulang, hingga program Sekolah Zero Waste serta pendekatan GEDSI (Gender Equality, Disability and Social Inclusion).

 

Manajer Program, Amiruddin Muttaqin, menegaskan bahwa program ini tidak hanya menitikberatkan pada penanganan di hilir, tetapi juga perubahan dari hulu.

“MOZAIK menjadi penting karena berfokus pada tiga hal utama, yaitu mencegah sampah bocor ke laut, mengurangi timbulan sampah dari sumbernya, serta mendorong perubahan perilaku masyarakat,” jelasnya.

Perlu Ibu ketahui, program ini juga mendapat dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya sebagai bagian dari penguatan kolaborasi pengelolaan sampah di tingkat kota.

Melalui rangkaian intervensi tersebut Bu, Kali Tebu diharapkan dapat menjadi contoh praktik baik pengelolaan sampah berbasis sungai dan komunitas, sekaligus berkontribusi dalam upaya mengurangi pencemaran plastik ke laut. 

(Press release)