twitter  
Profil  

Kamis, 25 Juni 2026 | 10:52 wib
Pesantren Tangguh Bencana : Lindungi Anak dari Ancaman Tak Terduga
 

Bagi Ratna Ningsih, Pengurus Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur, pesantren tangguh bencana tidak hanya berbicara tentang bagaimana menyelamatkan manusia ketika bencana terjadi. Lebih jauh, pesantren juga harus memastikan lingkungan tempat para santri belajar dan tinggal memiliki kesiapan menghadapi risiko.

“Untuk program PESTANA sebenarnya perlu dikolaborasikan dengan banyak pihak. Karena kalau kita melihat pondok pesantren yang tangguh bencana, tidak hanya sisi manusianya yang perlu dibuat tangguh, tetapi apakah kondisi bangunan, struktur dan lain sebagainya juga tangguh,” ujar Ratna Ningsih, di sela-sela acara Kick-off Meeting Pesantren Tangguh Bencana di kawasan Gayungsari, Surabaya, Rabu (24/6/2026).

Menurut Ratna, kejadian tahun lalu di Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, menjadi pengingat penting bahwa pesantren memiliki tantangan besar dalam menghadapi risiko bencana. Dengan jumlah penghuni yang sangat banyak, pesantren menjadi salah satu lingkungan yang perlu mendapat perhatian dalam upaya pengurangan risiko bencana.

 
Ratna Ningsih, Pengurus FRPB Jatim

“Di dalam pesantren itu jumlah manusianya banyak sekali yang terancam bahaya ancaman bencana baik dari sisi alam maupun non-alam,” kata dia.

Karena itu, pengembangan Pesantren Tangguh Bencana (PESTANA) tidak cukup hanya berfokus pada kesiapan manusia, tetapi juga harus memperhatikan faktor lain yang dapat menyebabkan seseorang menjadi korban, termasuk kondisi bangunan.

Pemprov Jatim Turun Tangan

Lebih dari 486 ribu santri di Jawa Timur hidup dan belajar di tengah wilayah dengan beragam ancaman bencana. Menjawab tantangan tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama berbagai pemangku kepentingan kebencanaan dan kepesantrenan mengembangkan PESTANA.

Program ini digagas oleh Pemprov Jawa Timur melalui Biro Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, serta didukung oleh Program SIAP SIAGA Jawa Timur.

Sebagai salah satu provinsi dengan jumlah pesantren terbesar di Indonesia, Jawa Timur memiliki sekitar 7.425 pondok pesantren dengan lebih dari 36 ribu tenaga pendidik. Pesantren bukan hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga ruang hidup bagi para santri yang tinggal dan beraktivitas selama 24 jam.

Berbeda dengan sekolah umum, pesantren memiliki karakter khusus karena para santri menetap di dalam lingkungan pendidikan tersebut.

“Pesantren ini berbeda dengan sekolah. Umumnya, siswa di sekolah biasa sudah pulang ke rumah pada sore hari. Sementara, mereka yang di pesantren akan tinggal dan beraktivitas di lingkungan pesantren,” tutur Dadang Iqwandy, Ketua Tim Pencegahan BPBD Provinsi Jawa Timur.

 
 
Dadang Iqwandy, Ketua Tim Pencegahan BPBD Provinsi Jawa Timur

Kondisi ini membuat upaya penyelamatan ketika bencana terjadi menjadi lebih kompleks dan membutuhkan kesiapsiagaan bersama.

Pesantren dan Risiko Bencana

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai kejadian menunjukkan bahwa pesantren termasuk kelompok yang terdampak ketika bencana terjadi. Erupsi Gunung Semeru pada 2021, misalnya, berdampak pada sejumlah pesantren di Lumajang. Selain itu, banjir, cuaca ekstrem, hingga persoalan bangunan juga dapat mengganggu aktivitas belajar mengajar dan mengancam keselamatan santri.

Kepala Biro Kesra Pemprov Jawa Timur, Agung Subagyo, menegaskan pengembangan PESTANA membutuhkan kolaborasi berbagai pihak.

“Tentu semua membutuhkan adanya penguatan kemitraan yang saling bersinergi untuk mengembangkan PESTANA. Sebab, penanggulangan bencana bukan semata tugas BPBD,” ucap Agung.

 
Kepala Biro Kesra Pemprov Jawa Timur, Agung Subagyo

Menurut Agung Subagyo, forum diskusi menjadi bagian penting untuk menyusun konsep pengembangan PESTANA melalui masukan dari berbagai pihak.

“Mereka perlu diedukasi melalui rencana kontingensi, gladi, simulasi, dan sosialisasi pemahaman mengenai mitigasi sesuai dengan tipologi bencananya. Dengan demikian, santri dan penghuni pesantren siap selamat ketika menghadapi bencana,” ujarnya.

Jawa Timur sendiri menghadapi sedikitnya 14 jenis ancaman bencana, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, hingga puting beliung. Kondisi ini membuat kesiapsiagaan di lingkungan pesantren menjadi kebutuhan penting.

Memastikan Bangunan Aman

Ratna Ningsih menilai penguatan PESTANA harus melihat pesantren secara menyeluruh. Tidak hanya membekali santri dan pengasuh dengan pengetahuan menghadapi bencana, tetapi juga memastikan tempat mereka tinggal memiliki standar keselamatan.

“Karena banyak sekali pondok pesantren di Jawa Timur itu merupakan bangunan-bangunan yang lama,” ujar perempuan pegiat sosialisasi kebencanaan ini.

Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan pihak yang memiliki kompetensi dalam bidang bangunan.

“Banyak sekali proses pembangunannya itu kurang melibatkan para arsitektur yang memang mumpuni di bidangnya. Jadi biasanya banyak yang memang hanya santri-santri yang mengerjakan, ada tukang-tukang biasa, padahal kalau kita lihat dari kemanfaatan struktur bangunan dengan jumlah santri yang ratusan bahkan ribuan, itu standar sipilnya jauh lebih harus diperhatikan,” paparnya.

Ratna berharap pihak seperti Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dapat ikut terlibat karena memiliki keahlian untuk menilai kondisi dan kelayakan bangunan.

Hal ini juga sejalan dengan kebijakan Kementerian Agama melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 9491 Tahun 2025. Dalam aturan tersebut, pendirian pesantren wajib memenuhi persyaratan bangunan, termasuk Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).

Mengubah Kesadaran Awal Melalui Simulasi

Selain persoalan bangunan, tantangan lain adalah membangun kesadaran pengasuh pesantren, santri, dan wali santri mengenai pentingnya kesiapsiagaan bencana.

FPRB Jawa Timur sebelumnya telah memiliki program Santri Tangguh Bencana yang berfokus pada peningkatan kapasitas manusia.

“Kalau dari Forum PRB Jawa Timur, sebetulnya kita sudah membentuk yang namanya Sanggub, Santri Tangguh Bencana,” tandas Ratna.

Menurutnya, simulasi menjadi salah satu cara untuk membangun pemahaman bersama di lingkungan pesantren.

“Mungkin yang tercepat bisa kita lakukan simulasi. Nah dari simulasi tersebut harapannya nanti ketika dilihat atau mungkin bisa terlibat langsung oleh Pak Kiai-nya atau para pengasuh pondok pesantrennya bahwa ketika kita melakukan simulasi mereka kan bisa lihat jalur evakuasinya apakah sudah benar yang ada di pondok pesantren, apakah sudah ada titik kumpul yang aman,” katanya.

Namun, Ratna menyebut perubahan pemahaman membutuhkan pendekatan yang tepat karena kultur pesantren memiliki karakter tersendiri.

“Membangun mindset para Kiai ataupun para pengasuh itu kan memang tidak mudah. Kita yang istilah kasarnya hanya orang umum, orang biasa, orang luar pondok pesantren tiba-tiba harus menjelaskan ABC sampai Z yang harus dilakukan. Kita juga ada mempertimbangkan kepatutan bagaimana caranya ngomong oleh para Kiai dan para pengasuh yang memang biasanya sangat dihormati,” jelasnya.

Santri sebagai Anak yang Wajib Dapat Perlindungan

Imam Turmidi, Kabid Pendidikan Diniyah Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, mengatakan pesantren merupakan miniatur kehidupan karena dihuni oleh orang-orang dengan latar belakang berbeda dalam satu lingkungan.

“Ada santri dari beragam latar belakang budaya dan negara dan hidup dalam satu kawasan dengan berbagai kegiatan yang berlangsung selama 24 jam,” ungkap Imam.

 
 
Imam Turmidi, Kabid Pendidikan Diniyah Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur

Karena banyak santri masih berada dalam usia anak-anak, aspek perlindungan menjadi bagian penting dalam program PESTANA.

Program ini tidak hanya berfokus pada kesiapan evakuasi dan keselamatan bangunan, tetapi juga mencakup perlindungan perempuan dan anak, kesehatan lingkungan, pengelolaan sampah, pola hidup bersih dan sehat, hingga pemenuhan gizi santri.

Membangun Pesantren Lebih Siap Hadapi Bencana

Melalui PESTANA, berbagai pihak akan berkolaborasi untuk memetakan risiko bencana yang dihadapi pesantren, mengidentifikasi faktor penyebab kerentanan, serta menyusun indikator ketangguhan sesuai karakter masing-masing pesantren.

Program ini ditargetkan menghasilkan peta risiko pesantren di Jawa Timur, kajian faktor pembentuk risiko bencana, indikator ketangguhan pesantren, policy brief untuk pemerintah daerah, hingga panduan teknis PESTANA yang dapat diterapkan secara mandiri.

Pada akhirnya, Pesantren Tangguh Bencana bukan hanya tentang bagaimana menyelamatkan diri ketika bencana datang. Program ini juga tentang memastikan ribuan santri yang sebagian besar masih anak-anak, dapat belajar dan bertumbuh dalam lingkungan yang lebih aman. 

(Roni)