Pelatihan AI Jurnalistik di Surabaya Dorong Penyajian Berita Akurat dan Terverifikasi
|
Pelatihan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagi jurnalis digelar di Rich Palace Hotel Surabaya, Sabtu (17/10/2026), untuk meningkatkan kemampuan wartawan memanfaatkan teknologi dalam produksi berita sekaligus menjaga akurasi informasi yang diterima masyarakat.
Pelatihan bertema “Memanfaatkan AI untuk Jurnalisme yang Lebih Cepat, Cerdas, dan Akurat” tersebut digagas Anggota Komisi X DPR RI, Reni Astuti, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur Seksi Kota Surabaya.
Dalam pemaparannya, peneliti BRIN, Prof. Dr. Hanif Fakhrurroja, S.Si., M.T. menekankan bahwa AI harus ditempatkan sebagai asisten, bukan pengganti peran manusia. Ketergantungan berlebihan pada teknologi ini berisiko menurunkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kemandirian seseorang dalam mengolah informasi.
|
“AI itu hanyalah asisten. Kita aktornya, kita pilotnya,” tegas Prof. Hanif.
Ia menjelaskan, penggunaan AI perlu melibatkan manusia dalam setiap tahapan proses kerja atau yang dikenal dengan konsep human in the loop. "Manusia harus tetap memegang kendali atas hasil yang dihasilkan AI, termasuk memeriksa kebenaran informasi sebelum digunakan atau dipublikasikan." tandas guru besar sistem informasi Telkom University ini.
Sementara itu, Ketua Seksi Kota Surabaya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, Inyong Maulana, mengatakan, pemanfaatan AI dalam jurnalistik perlu dipahami untuk membantu wartawan menghadapi perubahan teknologi dan persaingan penyebaran informasi melalui media sosial maupun platform digital.
“Karena kita tahu tantangan media massa saat ini adalah influencer, media sosial, dan salah satunya AI. Ini tantangan kita sebagai jurnalis,” ujar Inyong.
Menurut dia, AI dapat membantu pekerjaan jurnalistik, antara lain mengolah data, mentranskripsikan wawancara, merangkum dokumen, dan menyusun draf berita. "Dengan dukungan teknologi tersebut, wartawan diharapkan dapat bekerja lebih efisien dan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan peliputan, menggali informasi, serta memverifikasi fakta." kata Inyong Maulana yang juga selaku Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Jurnalis DPRD Surabaya.
Diyakininya, masyarakat juga membutuhkan produk jurnalistik yang telah melalui pemeriksaan fakta, terutama di tengah derasnya arus informasi digital dan risiko penyebaran informasi keliru.
"AI itu digunakan sebagai alat bantu, bukan pengganti verifikasi dan penilaian jurnalistik. Wartawan tetap bertanggung jawab memeriksa sumber, memastikan kebenaran informasi, serta menjaga etika dalam pemberitaan." tegas Inyong Maulana.
(Roni)


