7 Wanita Luarbiasa Penerima Nobel Perdamaian
|
Total ada tujuh nama wanita yang pernah meraih Nobel Perdamaian sejak 1991. Nobel Perdamaian merupakan penghargaan prestise untuk mereka yang mengupayakan perdamaian dan perlindungan hak-hak perempuan dan anak. Siapa saja mereka?
Aung San Suu Kyi (Menerima Nobel Perdamaian pada 1991)
Lahir: 19 Juni 1945, Yangon, Myanmar
Nobel untuk ''Perjuangan tanpa kekerasan untuk demokrasi dan hak asasi manusia''.
Aung San Suu Kyi merupakan politisi sayap kiri dan ketua National League for Democracy (NLD) di Myanmar.
Pada 1990 NLD memenangkan 59 persen suara nasional melalui Pemilu dan memenangkan 81 persen (392 dari 485) dari kursi di parlemen. Tapi Aung San Suu Kyi justru telah dijadikan tahanan rumah sebelum pemilu digelar. Dia pun menjadi satu diantara tahanan politik paling terkenal di dunia. Dia juga menerima Hadiah Rafto dan Hadiah Sakharov untuk Kebebasan Berpikir tahun 1990. Aung San Suu Kyi juga menempati posisi ke-61 sebagai Wanita Paling Berpengaruh di Dunia pada 2014 versi Forbes.
Shirin Ebadi (Menerima Nobel Perdamaian pada 2003)
Lahir: 21 Juni 1947, Hamadan, Iran
Nobel untuk ''Perjuangan untuk demokrasi dan hak asasi manusia. Dia memfokuskan perjuangannya terutama pada pembelaan hak-hak perempuan dan anak-anak''.
Shirin Ebadi merupakan aktivis hak asasi manusia Iran yang membela hak-hak perempuan dan anak-anak. Shirin yang pernah menjabat sebagai hakim ini dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian pada 10 Oktober 2003 karena usahanya dalam membela hak asasi manusia dan memperjuangkan demokrasi. Shirin sebelumnya tinggal di Teheran, tetapi dia kemudian diasingkan ke Inggris sejak Juni 2009 karena kritiknya pada rezim yang memimpin saat ini terkair kasus penganiayaan. Karena keberaniannya, dia pun masuk dalam daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh Sepanjang Masa versi Forbes.
Wangari Muta Maathai (Menerima Nobel Perdamaian pada 2004)
Lahir: 1 April 1940, Tetu, Kenya
Nobel untuk ''Atas kontribusinya terhadap pembangunan berkelanjutan, demokrasi dan perdamaian''.
Wangari Muta Maathai merupakan pendiri organisasi non-pemerintah Green Belt Movement yang fokus pada penanaman pohon, pelestarian lingkungan, dan hak-hak perempuan. Dia juga menjadi wanita Afrika pertama yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian untuk segala kontribusinya di bidang pembangunan berkelanjutan, demokrasi dan perdamaian. Sebelumnya, dia sempat dianugerahi Right Livelihood Award pada tahun 1986. Wangiri merupakan alumnus dari Universitas Pittsburgh, Amerika dan Universitas Nairobi di Kenya.
Leymah Gbowee (Menerima Nobel Perdamaian pada 2011)
Lahir: 1 Februari 1972, Liberia
Nobel untuk ''Perjuangan tanpa kekerasan untuk keselamatan perempuan dan hak-hak perempuan untuk berpartisipasi penuh dalam usaha membangun perdamaian''.
Leymah merupakan aktivis perdamaian dari Liberia yang sempat menyelesaikan studi di Eastern Mennonite University, Harrisonburg, Virginia, Amerika Serikat. Leymah merupakan tokoh yang berjasa dalam memimpin gerakan perdamaian yang membantu mengakhiri Perang Saudara Liberia II pada 2003. Bersama dengan sahabatnya, Ellen Johnson Sirleaf, mereka mengantar Liberia memasuki gerbang perdamaian. Dia juga ikut mendorong terselenggaranya Pemilu yang bebas pada 2005, yang kemudian memenangkan Sirleaf sebagai Presiden Liberia.
Ellen Johnson Sirleaf (Menerima Nobel Perdamaian pada 2011)
Lahir: 29 Oktober 1938, Liberia
Nobel untuk ''Perjuangan tanpa kekerasan untuk keselamatan perempuan dan hak-hak perempuan untuk berpartisipasi penuh dalam upaya membangun perdamaian''.
Ellen merupakan Presiden Liberia Ke-24 dan masih menjabat saat ini. Sebelum menjabat sebagai presiden, Ellen yang merupakan alumnus Universitas Harvard terpilih sebagai Menteri Keuangan di bawah pimpinan Presiden William Tolbert dari 1979 sampai 1980. Dia maju dalam pemilihan presiden Liberia pada 1997, namun akhirnya kalah dari Charles Taylor dan harus puas di posisi kedua. Ellen kembali mencalonkan diri dalam pemilihan presiden Liberia pada 2005 dan berhasil menang. Dia pun kembali menang dalam pemilihan presiden pada 2011.
Tawakkol Karman (Menerima Nobel Perdamaian pada 2011)
Lahir: 7 Februari 1979, Ta'izz, Yaman
Nobel untuk ''Perjuangan tanpa kekerasan untuk keselamatan dan hak-hak perempuan untuk berpartisipasi penuh dalam upaya membangun perdamaian''.
Tawakkol Abdel-Salam Karman merupakan jurnalis terkenal dari Yaman. Tawakkol juga aktivis hak asasi manusia yang sekaligus politisi senior di partai politik Al-Islah. Tawakkol juga pendiri kelompok Women Journalists Without Chains pada 2005. Di Yaman, dia sering dijuluki sebagai Wanita Besi dan Ibu Revolusi.
Malala Yousafzai (Menerima Nobel Perdamaian pada 2014)
Lahir: 12 Juli 1997, Mingora, Pakistan
Nobel untuk ''Perjuangannya dalam melawan penindasan anak-anak dan kaum muda, serta memperjuangkan hak semua anak untuk mengenyam pendidikan''.
Malala Yousafzai merupakan siswa yang sekaligus aktivis dari Pakistan yang gigih dalam memperjuangkan hak pendidikan untuk anak dan remaja perempuan. Hadiah Nobel Perdamaian ini sekaligus menjadikan Malala sebagai peraih Nobel termuda dalam sejarah. Menurut data statistik yang dimiliki Pemerintah Pakistan, angka literasi baca-tulis di Pakistan hanya 46%. Porsi wanita yang memenuhi kemampuan itu hanya 26%. Ini artinya, 3 dari 4 wanita di Pakistan tidak pernah mendapat pendidikan akademis secara layak. Malala tak bisa tinggal diam. Sejak 3 Januari 2009 Malala menulis keadaannya pada dunia melalui BBC. Untuk melindungi identitasnya, Malala menggunakan nama samaran Gul Makai, yang dalam Bahasa Urdu artinya Bunga Jagung. Keberanian Malala ini didukung penuh ayahnya, Ziauddin Yousafzai. Selama dua bulan tulisan Malala tampil di halaman BBC, sepanjang itu pula keluarga Malala harus berpindah tempat demi menghindari kecurigaan dan serangan Taliban. Tepat 12 Maret 2009, Malala berhenti menulis di BBC. Tak lama setelah tulisan terakhirnya, Malala mendapat tawaran dari Adam B. Ellick, wartawan New York Times, untuk membuat film dokumenter perjuangan dirinya. Pada 9 Oktober 2012, Malala ditembak pasukan Taliban dan membuatnya koma selama sepuluh hari. Tepat 19 Oktober 2012, Malala yang mendapat perawatan di Rawalpindi dan Queen Elizabeth Hospital Birmingham ini tersadar dari koma dan berangsur membaik. Pada 15 Oktober 2012 atau enam hari setelah penembakan tersebut, Pemerintah Pakistan menganugerahkan ''Pakistan's Third-Highest civilian Bravery Award'' dan Malala layak mendapat Sitara-e-Shujaat award sebagai penghargaan atas keberaniannya.
