twitter  
Profil  

Senin, 21 Desember 2015 | 18:04 wib
Erni Suyanti Musabin, Malaikat Tak Bersayap di Hutan Bengkulu


Tahukah Anda, jauh di dalam pelosok hutan Indonesia ada wanita yang mengabdikan diri merawat satwa liar. Namanya, Erni Suyanti Musabine. perempuan yang lahir pada 14 September 1975 ini sudah bertahun-tahun menangani berbagai macam kasus terkait satwa liar seperti kasus jual beli satwa langka.

Yanti, sapaan Erni Suyanti Musabin, merupakan dokter hewan yang sekaligus ahli konservasi spesialis hewan langka seperti harimau, gajah, ataupun orangutan. Sampai saat ini dirinya masih tercatat sebagai dokter honorer di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). ''Mungkin bagi sebagian orang, saya ini aneh, mau masuk ke hutan cuma untuk menolong hewan buas. Tapi bagi saya ini justru menyenangkan,'' kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tahun 2002 ini seperti dikutip dari GNFI.

Sejak kepindahannya ke Bengkulu pada 2004 lalu, Yanti lebih memilih untuk menetap di dalam kawasan Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang berada di dalam hutan dan hidup berdampingan dengan satwa liar. Dengan ilmu dari Clinical Rotation di Perth, Australia Barat dan Physical and Chemical Restraint of Wildlife di Zimbabwe, Afrika, dia optimis bisa melakukan banyak hal untuk satwa liar di Indonesia.

PKG saat ini memiliki luas kurang lebih 7.000 hektar dan bisa ditempuh selama 5 jam perjalanan darat dari ibu kota Provinsi Bengkulu. PKG merupakan rumah bagi seratusan gajah, harimau sumatera, beruang madu, tapir, orangutan, dan beragam jenis binatang lainnya. Selain menjadi tenaga medis satwa liar, Yanti juga mulai banyak melakukan sosialisasi dan edukasi perihal pentingnya konservasi satwa liar dan habitatnya pada anak-anak sekolah dan masyarakat sekitar kawasan hutan. ''Saya bahagia dengan pekerjaan saya karena saya bisa berbuat sesuatu untuk membantu upaya konservasi satwa liar di Indonesia yang tergolong critically endangered species,'' kata Yanti.

Yanti melanjutkan, ''Sebetulnya yang sangat menginspirasi saya untuk menekuni bidang ini adalah Dian Fossey, Dr. Jane Goondall, dan film Born Free,'' kata Yanti. Dian Fossey adalah zoologist, primatologist dan anthropologist asal Amerika yang berjuang untuk konservasi gorila di Afrika. Demi idealismenya itu, nyawa pun tak segan ia pertaruhkan sampai ia dibunuh di sebuah kamp di Rwanda. Sementara, Dr. Jane Goondall adalah primatologist dari Inggris yang bekerja untuk konservasi simpanse di Afrika. Dan film Born Free, film klasik ber-setting di Kenya yang berkisah tentang pasangan yang mengasuh anak-anak singa piatu yang kemudian dilepaskan di hutan.

Dengan semua yang telah ia lakukan, apakah Yanti masih menyimpan mimpi yang lain? Selain fasilitas asuransi jiwa bagi dokter hewan, ia berharap tersedianya fasilitas medis berupa klinik dan peralatan medis yang memadai sebagai senjatanya untuk bekerja agar penanganan tak lagi terkendala keterbatasan peralatan dan obat-obatan.

Sebagai tenaga honorer di BKSDA Yanti dibayar Rp 300 ribu per bulan. Yanti tinggal di hutan dengan bertugas di PKG Sebelat, Bengkulu Utara, yang jauh dari kehidupan kota. Dengan sarana dan prasarana yang terbatas, ia harus betah dan hidup berdampingan di barak bersama sekitar 37 pawang gajah dan polisi kehutanan. Semuanya laki-laki. ''Saya waktu itu cuma berpikir, BKSDA lebih membutuhkan tenaga saya,'' kata Yanti.