twitter  
Profil  

Minggu, 06 Maret 2016 | 16:43 wib
Park Geun-hye Memilih Menikah dengan Korsel


Beberapa wanita menganggap menikah sebagai satu diantara penyebab kebahagiaan. Tapi anggapan ini belum berlaku bagi Park Geun-hye, Presiden Korea Selatan (Korsel) yang kini berusia 64 tahun dan memilih tidak menikah.

Park mengenal dunia politik sejak masih anak-anak. Ayahnya, Park Chung-hee merupakan mantan Presiden Korsel yang memimpin Korsel selama hampir dua dekade. Di usia 22 tahun Park sering menemani sang ayah bertugas karena ibunya, Yuk Young-soo, tewas ditembak seorang simpatisan Korut di National Theater pada 15 Agustus 1974. Saat itu, pelaku ingin membunuh ayahnya, tapi peluru justru mengenai ibunya. Sebagai putri pertama, Park langsung menggantikan posisi ibunya sebagai ibu negara.

Setelah lima tahun, ayahnya juga dibunuh oleh kepala intelijennya sendiri. Tepatnya, pada 26 Oktober 1979. Hingga kini tidak diketahui apa penyebab Park memutuskan untuk tidak menikah. Park menjadi presiden ke-11 Korsel pada 25 Februari 2013. Pengangkatan dirinya menjadi orang nomor satu di Korsel merupakan catatan sejarah tersendiri. Sebab, Park menjadi presiden perempuan pertama di Korsel. Park terpilih sebagai presiden di negara yang level ketidaksetaraan gendernya termasuk paling tinggi. Bahkan pemimpin perempuan terakhir di Korsel adalah Ratu Jinseong pada abad ke-9.

Park mengaku selalu khawatir dengan negaranya dan kerap menyatakan bahwa dirinya menikah dengan negaranya. Para pendukungnya sempat membuat lelucon dalam undangan inagurasi kepemimpinannya. Undangan itu lebih mirip undangan pernikahan yang menyandingkan foto Park dengan gambar bendera Korsel sebagai mempelai prianya.

''Keduanya telah jatuh cinta selama 15 tahun dan akhirnya menikah dengan dukungan dari penduduk secara nasional pada 25 Februari 2013. Mari kita melebur menjadi satu dalam perayaan ini dan memberikan mereka tepuk tangan yang meriah,'' tulis narasi dalam undangan tersebut. Mengutip BBC dan The New York Times, pencapaian Park cukup disegani di dunia. Pada 2013–2014, berturut-turut majalah Forbes menyebutnya sebagai perempuan paling berpengaruh di dunia. Park menempati posisi ke-11. Pada 2014, dia juga masuk dalam daftar orang-orang paling berpengaruh di dunia oleh Forbes. Park masuk di urutan ke-46. 

Park menyebutkan ada 3 faktor yang sangat menentukan keberhasilan Korea Selatan yaitu, insentif dan persaingan, pemimpin negara yang dilandasi pada kepercayaan, dan keikutsertaan masyarakat secara aktif dan mandiri. Dunia internasional bahkan memberi perhatian besar pada gerakan Saemaul yang digagas Park sebagai solusi persoalan kemiskinan dunia.

Gerakan Saemaul ini tercetus ketika Presiden Park Chung-hee (ayah Presiden Park Geun-hye) blusukan ke bekas lokasi banjir pada 1969. Dia terkejut karena dengan bantuan sedikit warga berhasil memulihkan desanya. Bahkan, membangun jalan lebih lebar, membuat tembok dan atap dengan bahan lebih baik. Atas inspirasi itu ayah Park mulai menyusun sendiri kerangka konsep Saemaul Undong.

Dalam edisi Inggris, konsep asli yang ditulis 26 April 1972 ini hanya tujuh halaman. Saemaul Undong disebutnya ''Upaya untuk hidup lebih baik''. Yakni, rakyat terentas dari kemiskinan, pendapatan meningkat, tetangga bersahabat dan saling menolong, serta desa menjadi permai. Saemaul dilandasi diligently (ketelatenan), self help (menolong diri sendiri), serta cooperation (kerja sama) dari warga desa, plus dipancing bantuan pemerintah. ndikator paling nyata keberhasilan Saemaul adalah pendapatan setahun keluarga petani di desa mencapai pendapatan empat tahun buruh di kota pada 1974. Kota maju, desa tak ketinggalan. Kini Korea melembagakan Saemaul Undong ini ke dalam kajian akademik di universitas. Para relawan dan pemuka desa dari berbagai negara dilatih untuk menumbuhkan semangat berkorban untuk kepentingan bersama.