Lebih Asyik Calistung Versi Ki Hajar Dewantara
|
Teman SHE, saat ini banyak orang tua yang mulai menuntut anaknya untuk fasih baca-tulis-hitung (calistung) di usia dini. Bukannya happy, anak justru merasa tertekan karena metode belajar yang diterapkan jauh dari kesan menyenangkan. Menurut Bukik Setiawan, penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong, Indonesia sesungguhnya punya pendidik terbaik yang memiliki metode pengenalan calistung efektif.
Dalam tulisannya di TemanTakita.com, Bukik menyebut nama Ki Hajar Dewantara sebagai pemikir yang melampaui jamannya, dan pendidik yang mempraktikkan pemikirannya. ''Banyak TK, tempat les maupun orangtua yang menggunakan cara belajar calistung dengan menuntut anak mengerjakan lembar soal (worksheet). Cara belajar calistung yang membosankan bagi anak. Karena membosankan, guru dan orangtua harus memaksa anak belajar. Akibatnya, anak stres dan pada akhirnya anak benci belajar. Pada akhirnya, cara belajar calistung yang memaksa itu membuat anak bisa calistung, tapi tidak gemar calistung. Anak bisa membaca, tapi tidak gemar membaca,'' tulis Bukik.
Dalam tulisannya di TemanTakita.com, Bukik menyebut nama Ki Hajar Dewantara sebagai pemikir yang melampaui jamannya, dan pendidik yang mempraktikkan pemikirannya. ''Banyak TK, tempat les maupun orangtua yang menggunakan cara belajar calistung dengan menuntut anak mengerjakan lembar soal (worksheet). Cara belajar calistung yang membosankan bagi anak. Karena membosankan, guru dan orangtua harus memaksa anak belajar. Akibatnya, anak stres dan pada akhirnya anak benci belajar. Pada akhirnya, cara belajar calistung yang memaksa itu membuat anak bisa calistung, tapi tidak gemar calistung. Anak bisa membaca, tapi tidak gemar membaca,'' tulis Bukik.
Dalam acara Mata Najwa edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara, cucu beliau Ibu Ganawati menceritakan cara belajar calistung bersama kakeknya. Para cucu tidak diajari calistung di dalam ruangan. Ki Hajar Dewantara justru mengajak para cucu bermain ke taman. Di taman, beliau bertanya mengenai jumlah masing-masing jenis bunga yang ada di taman itu. Keesokan harinya, mereka ke taman lagi dan Ki Hajar Dewantara mengajak cucu untuk menghitung ulang.
Rasa ingin tahu. Awali belajar dengan memancing keingintahuan anak. Anak usia dini, sesuai tahap perkembangannya, punya keingintahuan yang besar terhadap obyek atau benda yang dapat dilihat dan disentuh. Ki Hajar Dewantara mengajar bukan dengan tulisan dan duduk diam di kelas, tapi mengajak anak melihat bunga di taman. Anda bisa menggunakan benda yang lainnya, selama itu memancing rasa ingin tahu anak.
Kesempatan belajar. Ketika ada orang dewasa yang sok tahu mengenai segala hal, maka anak menjadi kehilangan ketertarikannya. Anak pun malas belajar. Karena itu, Ki Hajar Dewantara bukan menjelaskan jumlah bunga ke cucunya. Beliau justru bertanya. Apa pentingnya bertanya pada anak yang belum bisa berhitung? Penting sekali! Dengan bertanya, Ki Hajar Dewantara sebenarnya sedang memberikan kesempatan belajar pada cucunya. Apa itu kesempatan belajar? Kesempatan buat anak untuk berpikir sendiri, kesempatan untuk berbuat keliru, kesempatan untuk memperbaiki kekeliruannya.
Pengalaman seru. Belajar jadi seru ketika tantangan belajar sedikit di atas kemampuan anak. Tantangan yang tidak terlalu mudah, tapi juga tidak terlalu sulit. Awalnya anak diajak menghadapi tantangan belajar yang mudah, kemudian perlahan menghadapi tantangan yang lebih sulit. Pengalaman seru itu yang dirasakan pada cucu ketika diajak kembali ke taman untuk menghitung ulang jumlah bunga. Ada misteri, ada rasa ingin tahu pada anak.
Kebermaknaan. Proses belajar harus membuat anak merasa penting. Belajar menggunakan benda atau obyek yang ada di sekitar anak membuat anak merasa penting. Ia mempunyai kesempatan menjelaskan benda atau obyek itu ke teman, saudara atau orangtua. Karena itu, lebih bermakna bagi anak belajar mengeja nama sendiri, nama orangtua, nama teman yang disukai, nama benda yang dirumah, dibandingkan mengeja nama atau benda yang ada di lembar soal (worksheet).
Sangat mudah bukan? Pendidikan menumbuhkan membuat setiap tempat adalah tempat belajar, setiap waktu adalah waktu belajar. Belajar bisa di mana saja, kapan saja. Terlebih bagi kita yang tinggal di Indonesia dengan alam yang luar biasa beragam. Kita seharusnya menjadi bangsa gemar belajar karena hidup di ruang belajar raksasa. Buang lembar soal! Ajak anak belajar calistung ala Ki Hajar Dewantara. Belajar di rumah, di sekolah, di taman, di mana saja.

