twitter  
Profil  

Senin, 03 November 2025 | 11:37 wib
Makassar Travel Fair 2025, Wisatawan Surabaya Tembus 3 Besar di Indonesia
 

Makassar Travel Fair 2025 sukses digelar di Atrium Tunjungan Plaza Surabaya pada tanggal 1 - 2 November 2025. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Makassar, mereka memperkenalkan berbagai macam destinasi wisata dan kuliner. Bukan tanpa asalan kota Surabaya dipilih, ini karena Surabaya masuk 3 besar dalam kunjungan wisatawan ke Makassar setelah Jakarta dan Bali.

Yulianti Jabir Kepala Bidang Promosi dan Pemasaran Dispar Makassar menjelaskan Surabaya merupakan salah satu pasar wisata terbesar bagi Kota Makassar. “Surabaya masuk tiga besar. Pertama wisatawan dari Jakarta, disusul Bali, berikutnya Surabaya,” kata Yulianti.

Destinasi wisata baru dari Makassar kali ini yang dikenalkan adalah kapal pinisi yang merupakan kapal layar tradisional khas Sulawesi Selatan dan diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2017. Kapal berbahan kayu dengan dua tiang utama dan layar segitiga ini kini dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari yang terbuka untuk umum. “Kami sudah mulai membuka wisata kapal pinisi ini untuk masyarakat. Sebelumnya hanya untuk tamu undangan,” kata Yulianti.

 

Dispar Makassar memiliki dua kapal pinisi yang menawarkan tiga paket wisata, mulai dari sunset sailing, one day trip, hingga setengah hari perjalanan. Rute pelayaran mencakup Pulau Lae Lae, Center Point of Indonesia, dan Tanjung Bunga Makassar, dengan durasi 2,5–3 jam dan kapasitas maksimal 40 penumpang. “Kalau sore jam lima, wisatawan bisa menikmati sunset dari atas kapal. Konsepnya seperti city cruise tapi versi Makassar,” jelasnya.

Selain promosi wisata bahari, berbagai kuliner khas Makassar pun dikenalkan seperti putu cangkir, ketan srikaya, hingga pisang ijo. Mendengar nama Putu Cangkir pasti anda tidak menemuinya di Surabaya.

Santi Wahid, penjual Putu Cangkir saat kami temui di acara tersebut menjelaskan jajanan buatannya ini di Makassar dijual dengan harga Rp 5.000. Menurutnya, jajanan ini paling tepat dimakan saat sarapan. "Biasanya yang beli anak muda, anak sekolah. Buat acara sekolah," kata Santi.

Dalam kesempatan yang sama, Santi juga menjelaskan cara membuat Putu Cangkir yang mempunyai tantangan tersendiri karena membutuhkan teknik dan pengalaman. "Karena saya diajari orang tua. Cara membuatnya, kelapa, telur, tepung ketan, dan tepung biasa (terigu) dicampur, lalu kita rendam kurang lebih tiga jam," jelasnya.

 
 

Kemudian untuk isiannya yang merupakan gula merah tidak dimasak, melainkan hanya diparut saja. Apabila ikut terendam air, maka ikut gula merah tersebut basi. Adonan tersebut kemudian dicetak menggunakan corong dan ditaruh pada tungku yang mengeluarkan uap.

Tak hanya itu, pameran tahun ini juga menampilkan produk lokal seperti tas, kriya, hingga aksesori hasil karya UMKM binaan Dekranasda.

 

(Yosan)